Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi: Abbas Sang Pengelola Mata Air Zamzam

Written by Panji Masyarakat

Mekah dan Madinah dilanda kekeringan luar biasa. Begitu dahsyatnya, hingga Umar ibn Khattab r.a., yang saat itu menjadi khalifah, bersama kaum muslimin,  menyelenggarakan salat istisqa’ (untuk meminta hujan) di tanah lapang. Usai salat, Umar berdoa sambil memegang tangan Abbas ibn Abdul Muthalib, mengangkat tangan itu keatas: “Ya Allah kami pernah memohon hujan dengan perantara nabi-Mu, ketika beliau masih ditengah-tengah kami. Ya Allah sekarang kami memohon hujan kepada-Mu dengan perantara paman nabi-Mu maka berilah kami hujan.”

Selang beberapa saat datanglah awan tebal, dan turunlah hujan yang begitu lebat. Atas kejadian yang dramatis ini para sahabat berhamburan ke arah Abbas dan menciumnya. “Selamat, wahai penyedia air minum Tanah Haramain (Mekah dan Madinah).

Abbas ibn Abdul Muthalib r.a. adalah paman tapi sekaligus teman sebaya Muhammad s.a.w. ketika keduanya tumbuh. Umur mereka tidak terpaut jauh.  Abbas mendapat tempat pertama di hati Rasulullah karena akhlaknya yang mulia, juga karena selalu menjaga silaturrahim serta selalu membela Rasulullah ketika beliau mendakhwahkan Islam secara terang-terangan.

Ketika ia masuk Islam, mulanya dirahasiakan-sehingga para sejarawan menempatkannya dalam golongan yang masuk islam belakangan. Padahal menurut kesaksian yang disampaikan Rafi’, salah seorang pembantu Rasulullah, Abbas termasuk ahlul bait (keluarga) yang pertama masuk Islam, bersama Umm Fadl, sebelum Perang Badar. Hanya saja  Abbas menyembunyikan keislamannya, sehingga orang kafir Mekah pada Perang Badar masih menganggapnya segelongan dengan mereka. Baru pada Pembebasan Mekah (Fathu Makkah) Abbas mengumumkan keislamannya.

Julukan “Penyedia Air Tanah Haramain” yang diberikan para sahabat kepadanya sangat prestisius. Selain Mekah sangat bergantung kepada keberadaan mata air Zamzam, urusan air minum tidak dapat dikuasakan kepada sembarang orang, lebih-lebih yang bukan termasuk Bani Hasyim, keluarga Nabi s.a.w. Diriwayatkan oleh Abu Mahdhurah, Rasulullah telah menjadikan urusan pengairan kepada Bani Hasyim, dan urusan memberi kiswah (kain penutup) Ka’bah kepada Bani Abdid Dar.

Karenanya, tidak mengherankan bila suatu ketika Abbas dan Syaibah (yang mengurus Ka’bah waktu itu) saling membanggakan diri. Kemudian datanglah Ali ibn Abi Thalib, yang juga membanggakan dirinya sebagai orang yang pertama kali beriman kepada Alah dan Rasul-Nya serta ikut berhijrah bersama Nabi s.a.w. Kemudian mereka betiga mengabarkan kejadian ini kepada Rasulullah. Saat itu Nabi tidak menjawabny, sampai kemudian turun firman Allah, “Apakah orang-oang yang memberi minum kepada mereka yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram kamu samakan dengan orang yang beriman..”(Q. 9:19)

Sebuah hadis diriwayatkan Bukhari dari Ibn Abbas: Suatu ketika Rasululllah mendatangi mata air Zamzam yang saat itu dijaga Abbas (ayah Abdullah ibn Abbas, yang meriwayatkan hadis ini, red). Rasul meminta minum. Abbas lalu menyuruh Fadl mendatangi ibunya agar berkenan memberi minum kepada rasulullh. Lalu rasulullah mengharap lagi kepada Abbas agar memberi minum langsung darinya. Abbas menjawab: “Wahai Rasulullah, mereka orang-orang arab telah menguasainya.” Kali ini, untuk ketiga kalinya, Rasululah meminta kepada pamannya itu. Baru Abbas memenuhinya. Rasulullah pun mendatangi air Zamzam, kemudian orang-orang Arab ikut membagi-bagikan air itu. Rasulullah bersabda: “Kerjakanlah apa yang kalian kerjakan (membagikan air minum). Itu perbuatan yang baik.”

Rasa sayang Rasulullah kepada paman dan teman sepermainan beliau itu ditunjukkan oleh sabdanya suatu kali: “Abbas saudara kandung ayahku. Barangsiapa menyakiti Abbas tak ubahnya menyakiti aku.” Ini sekaligus mengingatkan kita betapa Rasulullah adalah anak yatim yang tidak pernah melihat ayah beliau, yang wafat sewaktu beliau dalam kandungan.

Hari Jumat tanggal 14 bulan Raajab 32 Hijri, tokoh kesayangan Nabi ini wafat. Dia disalati oleh Khalifah Utsman ibn Affan, kemudian dimakamkan di Baqi’. Raddhiyallau ‘anhu.

Penulis: Hasan Suaidi, dosen IAIN Pekalongan. Sumber: Majalah Panjimas, 23 Januari-5 Februari 2003.          

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda