Cakrawala

NV Marba dan Rumah Proklamasi

Sebentar lagi kita akan memperingati hari ulang tahun Proklamasi yang ke-75 (1945-2020), Dirgahayu Republika Indonesia. Selama 75 tahun sejak Proklamasi Kemerdekaan digaungkan, masih tersisa PR dan pertanyaan besar lainnya. Salah satunya sekitar pertanyaan sejarah, ‘siapa pemilik rumah Proklamasi yang terletak di Jl Pegangsaan Timur 56?’. Dalam media sosial, pertanyaan tersebut menjadi polemik yang terus bergulir. Sejarawan dan juga yang mengaku “sejarawan”, peminat sejarah dan pembaca saling baku hantam wacana. Tak sedikit mereka yang mengklaim diri sebagai yang (paling) benar.  Di antara wacana yang berkembang itulah catatan ini ditulis sebagai alternatif, bila tidak mau dikatakann sebagai sebuah “pelurusan sejarah”.

Rumah yang dipersoalkan merupakan sebuah tempat yang sangat bersejarah bagi bangsa, sayangnya rumah tersebut kini sudah tidak ada jejaknya. Beberapa tokoh dan peminat sejarah yang sadar dan peduli sempat membuat tim guna mengajukan rencana pelestarian dan pembangunan kembali tempat bersejarah tersebut. Tapi Pemerintah nyatanya tidak pernah peduli soal-soal seperti ini. Pemerintah selalu berteriak dengan slogan-slogan seperti “jangan lupakan sejarah”, mengutip-utip kata terkenal dari Bung Karno yaitu “jasmerah”, tapi mereka sendiri alpa dan tidak mau mempelajari tentang apa itu “sejarah”, termasuk tempat-tempat sejarah masih banyak yang tidak dijaga bahkan mungkin tidak tahu sama sekali, dalam hal ini pembicaraan mengenai rumah proklamasi. Pengabaian itu tentu berdampak pada masyarakat, menyebabkan tidak adanya wacana yang sehat, “kebutaan” itu juga memunculkan debat kusir di media sosial yang akhirnya berjalan tanpa arah, bahkan soal tentang siapa pemilik rumah tersebut sebenarnya hanya berhenti sebagai polemik yang tidak sehat.

Pada satu pihak ada yang mengatakan bahwa rumah tersebut milik seorang Belanda, yang kemudian diambil dan digunakan oleh Soekarno. Di pihak lain mengatakan bahwa rumah tersebut milik seorang pedagang dan “pejuang” dari keturunan Arab, Faradj Martak selaku Direktur Utama dari NV Marba (Martak & Bajdenet), dengan bukti resmi Surat Ucapan Terima Kasih dari Pemerintah. Satu sama lain mengatakan bahwa merekalah yang paling benar. Padahal jawaban keduanya adalah benar. Maka, mari kita baca sejarah dengan lebih jeli dan cermat.

Tahun 1942 ketika Jepang masuk dengan propagandanya tentang janji pemberian Kemerdekaan kepada Indonesia oleh Saudara Tua, Jepang memutuskan untuk memberikan rumah kepada Soekarno. Hingga dicarilah rumah di Menteng, dengan perantaraan Chairul Basri dan Shimizu (seorang Jepang pro-Indonesia). Hingga ketemulah sebuah rumah yang layak di jl Pegangsaan Timur (Pegangsaan Oost 56), milik seorang Belanda. (Buku Apa yang Saya Lihat: Chairul Basri). Dan sebagai gantinya, sang pemilik rumah diberikan rumah gantinya di daerah Lembang.

Dari penelurusan beberapa referensi, ditemukan bahwa pemilik rumah tersebut pada sekitaran tahun 1931 adalah Baron van Asbeck. Pada tahun 1935 Mr Feith seorang Ketua Pengadilan Tinggi Hoogeraad menempatinya, yang kemudian dilanjutkan oleh istrinya Mevrouw Feith 1942.

Pertanyaannya, di manakah posisi dari NV Marba ?

Ada sebuah bukti surat otentik yang dikeluarkan oleh Menteri Pekerjaan Umum pada tahun 1950, yaitu Ir. Mananti Sitompul (dengan tanda-tangan dan stempel resmi Kementerian Pekerjaan Umum) berjudul : Pernyataan Terima Kasih Pemerintah RI yang berbunyi sebagai berikut:

“Dengan jalan ini maka Pemerintah RI menyatakan ucapan terima kasih serta menyatakan penghargaan kepada saudara Faradj bin Said Awad Martak di Jakarta, yang telah membantu Pemerintah tersebut dalam usahanya “MEMBELI” beberapa gedung di Jakarta, antara lain gedung Pegangsaan Timur 56, gedung mana untuk Pemerintah sangat besar harganya berhubung dengan sejarah kelahiran Republik Indonesia”

Pertama, surat tersebut adalah surat resmi negara dengan tanda tangan Menteri Negara, yang tidak mungkin NV Marba berani dan memiliki kepentingan untuk mengarang sebuah surat resmi negara. Tetapi yang lebih penting untuk diperhatikan adalah tulisan MEMBELI beberapa gedung, yang artinya NV Martak & Badjnet  (memang) tidak menempati rumah tersebut dan bukan pemilik rumah tersebut sebelumnya, tetapi mereka membelinya untuk dihibahkan kepada negara. Sehingga tidak bertentangan dengan bukti sejarah lainnya, yaitu fakta yang sudah tertera dalam buku Chairul Basri.

Yang kedua, tahun terbit surat tersebut pada tahun 1950. Surat tersebut diterbitkan di Jogjakarta ketika Pemerintah RI masih berada di Jogja, tertanggal 14 Agustus 1950 dibuat oleh Menteri Pekerjaan Umum pada waktu itu Ir. Mamanti Sitompoel. Sebagai sebuah pelajaran sejarah bagi kita semua, mari kita lihat catatan berikut:

4 Januari 1946 : Jakarta diduduki oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA) sehingga ibu kota pindah ke Yogyakarta.  19 Desember 1948 : Yogyakarta diserang dalam Agresi Militer Belanda II, Sekarno-Hatta diasingkan ke Bangka kemudian Syafruddin P membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). 6 Juli 1949 : Soekarno dan Hatta kembali ke Yogyakarta, PDRI bubar.  27 Desember 1949 : Republik Indonesia Serikat (RIS) yang didirikan. 17 Agustus 1950 Ibu Kota Pemerintahan kembali ke Jakarta. Surat tersebut dikeluarkan pada tanggal 14 Agustus 1950, 3 hari sebelum kepindahan.

Setelah Bung Karno kembali ke Jogja dari pengasingannya itu, beliau memanggil perwakilan dari perusahaan NV Marba (Martak & Badjenet), yaitu Ahmad bin Said Martak dan Ali Muhammad Badjenet, selaku Direktur Pemasaran. Dalam pertemuan tersebut Bung Karno meminta kepada perusahaan tersebut yaitu NV Marba untuk membeli dan menyelamatkan Gedung Proklamasi serta beberapa gedung-gedung bersejarah lainnya yang saat itu kembali dipegang Belanda dan akan segera dilelang. Bung Karno khawatir gedung-gedung bersejarah itu akan diambil pihak-pihak yang anti-nasionalis dan kemudian hilang atribut sejarahnya. Beliau juga menyampaikan bahwa, ketika Pemerintah RI sudah memiliki dana, maka semua biaya pembelian tersebut akan diganti oleh Pemerintah. NV Marba pun menolak rencana penggantian dana tersebut setelah memenangkan lelang, semua itu dianggap sebagai hibah dari NV Marba kepada NKRI. Maka dikeluarkanlah surat sebagai tanda ucapan terima kasih atas nama Pemerintah RI kepada Faradj bin Said Martak selaku Presiden Direktur perusahaan tersebut. Informasi ini dituturkan langsung oleh anak cucu dari keluarga besar alm. Faradj Martak, yang hingga sekarang masih hidup.

Sebagai tambahan informasi, keluarga Martak terkenal sebagai keluarga yang dekat dengan tokoh-tokoh nasionalis Indonesia, di antaranya Soekarno dan juga Ir. MH Thamrin. NV Marba sendiri adalah salah satu perusahaan besar dan sukses dari golongan keturunan Arab, keluarga Martak  dan Badjenet yang bergerak dalam bidang eksport-import dan juga properti. Ketika Bung Karno sakit (beri-beri) keluarga Martak memberikan madu Arab yang sangat berkhasiat kepada Bung Karno, sehingga ia menulis surat ucapan terima kasih atas madu tersebut pada tahun 1953. Hal ini menunjukkan kedekatan hubungan antara Bung Karno dengan Keluarga Martak.

Keluarga Martak ini pada awalnya memiliki usaha awal yang bernama Firma Al-Said bin Awad Martak di daerah Kesoni, Mojokerto. Said bin Awad Martak memiliki 4 orang anak yaitu Yuslam, Muhammad, Faradj dan Ahmad, sebelum kemudian mendirikan Perusahaan Export Import en Handel NV Marba (Martak-Badjenet) yang didirikan pada tahun 1946. Saat ini NV Marba menjadi PT Marba yang dimiliki sahamnya oleh Salim Achmad Martak yang merupakan salah satu dari pendiri NV Marba yang masih hidup, serta merupakan anak tertua dari Achmad Said Martak.

Jadi jelaslah bahwa rumah Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 awalnya memang milik seorang Belanda, kemudian ditempati Bung Karno pada masa pendudukan Jepang. Setelah Belanda datang kembali dan Bung Karno pindah ke Jogja, rumah tersebut terpaksa ditinggalkan (kemungkinan diambil alih kembali oleh Belanda, NICA atau pemilik awalnya). Tahun 1950 rumah tersebut dibeli oleh Faradj Martak selaku Direktur Utama dari NV Marba dalam sebuah lelang, untuk dihibahkan kepada Republik Indonesia. Jelas di sini bahwa NV Marba memiliki jasa yang luar biasa dalam menjaga rumah bersejarah itu tetap menjadi milik bangsa Indonesia dengan membeli kembali rumah Proklamasi tersebut. Bukan hanya rumah atau gedung Proklamasi Pegangsaan Timur 56 itu saja yang dibeli dan kemudian dihibahkan kepada pemerintah, tetapi juga banyak yang lainnya, yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Sampai saat ini keluarga besar Martak dan Badjenet (Marba) tidak pernah mempedulikan atau mencari pengakuan, apa itu untuk diapresiasi atau sekadar penghargaan atas jasa-jasanya tersebut. Karena mereka melakukan semua itu dengan hanya mengharap keridhoan Allah swt, sebagai bukti kecintaan dan pengabdian anak bangsa kepada tanah airnya. Hanya saja kita sebagai generasi penerus bangsa perlu mengingatnya dengan membaca sejarah sebagai pelajaran dan teladan. Tentu saja seberapa kecil pun fakta perlu dituliskan, meski sekadar catatan.

Semoga apa yang telah dilakukan oleh keluarga Martak dan Badjenet dalam mendukung perjuangan bangsa dicatat sebagai amal jariyah yang terus mengalir kepada keluarga tersebut. Semoga  ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua sebagai anak bangsa. DIRGAHAYU INDONESIA, MERDEKA !!!

About the author

Nabiel A Karim Hayaze

Penulis dan peminat sejarah, penerjemah Arab dan Inggris. Kini direktur Yayasan Menara Center, lembaga kajian dan studi keturunan dan diaspora Arab di Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda