Cakrawala

Peradaban Pelampiasan dan Penjara Korona

Pasti ada tekanan kuat ketika seseorang merasa dicabut kebebasannya. Di penjara misalnya. Dan, mau tak mau harus diakui, pandemi Covid-19 membuat kita semua tiba-tiba merasa berada dalam penjara. Yang sekarang sering menjadi masalah bukan hanya bagaimana mengatasi pandemi, tapi juga bagaimana mengubah tekanan kuat tersebut menjadi energi positif, yang justru bisa melahirkan produktivitas.

Beberapa tahun lampau, seorang kawan mengenalkan saya pada ibu mertuanya yang baru saja keluar dari penjara. Ia dipenjara selama lima tahun penuh, meski menurutnya ‘kejahatan’ yang dituduhkan tak pernah terbukti di pengadilan.

Yang menarik bukan proses bagaimana dia masuk atau keluar dari penjara; tapi bagaimana ia mengisi waktu selama di penjara. Di awal masuk penjara, tentu saja tekanan besar segera dirasakan, apalagi sejak awal dia merasa tidak bersalah.

Tapi, begitu menurutnya, itu tak berlangsung lama. Ia segera menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan penjara, dan mulai mencoba mengubah sudut pandangnya tentang kehidupan. Yang pertama: waktu adalah pemberianNya paling berharga yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kedua, pemanfaatan waktu terbaik adalah untuk menyebar sebanyak mungkin kebaikan bagi sesama dan lingkungan. Ketiga, perbuatan baik tidak dibatasi ruang, ia bisa dilakukan di mana saja manusia ditempatkan.

Berdasar kesadaran tersebut, ia lantas mengisi kehidupan di penjara dengan beragam aktivitas dan hanya beristirahat untuk tidur saat kantuk tak lagi bisa dilawan. Kecuali sholat dan membaca Al Qur’an; ia mengisi seluruh waktunya dengan mengurus tanaman, membersihkan lingkungan penjara, membersihkan kamar mandi, WC, got yang mampet dan apa pun lainnya yang dirasa berguna dan mampu dilakukannya. Tentu saja hampir seluruh pekerjaan tersebut bukanlah tugas dan tanggung-jawab pribadinya sebagai narapidana. Semua dia lakukan hanya semata-mata agar waktunya tidak terbuang tanpa ada kemanfaatan.

Ia justru merasa gelisah bila ada waktu tersisa tanpa ada yang dikerjakan. Cara ini membuat dia merasa semakin dekat dengan Allah. Ia bahkan merasa sangat ‘dimanjakan’ Allah, karena meski mengaku tak punya keberanian untuk meminta apa-apa, tapi apa yang terbersit di pikirannya hampir selalu secara langsung diberi olehNya.

“Bahkan untuk soal sederhana. Misalnya, suatu saat kawan-kawan di penjara kangen menyantap rendang. Meski tidak tahu caranya, sempat terlintas di pikiran keinginan untuk bisa menjamu mereka. Entah bagaimana, siang itu juga, seseorang tiba-tiba mengirim saya sejumlah besar makanan. Dan isi kiriman tepat seperti yang sedang dikangeni: rendang. Persis yang terlintas di pikiran, siang itu saya benar-benar menjamu mereka dengan rendang,” demikian kisahnya.

“Rasa dekat dengan Allah, dan juga pemanjaan dariNya; membuat saya merasa harus lebih bersyukur. Rasa syukur ini saya ungkapkan dengan semakin banyak mengisi waktu dengan hal-hal yang berguna. Saya benar-benar takut bila ada waktu dimana saya tak melakukan apa-apa. Bukan karena apa-apa, tapi semata-mata karena takut kehilangan rasa kedekatan denganNya,” ungkapnya dengan serius.

Bagi saya ini benar-benar kisah yang luar biasa. Penjara yang biasanya digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan dan bisa menghancurkan jiwa manusia; kali ini mampu ditundukkan oleh seorang perempuan setengah baya, dan justru dimanfaatkan sebagai anak tangga pencerahan ruhani seperti yang didambakan para sufi.

Tapi kisahnya belum berakhir hanya sampai di titik ini. Ia datang ke rumah saya karena sedang sangat gelisah. Dan kegelisahannya semakin membuat saya merasa bukan apa-apa dihadapannya. Betapa tidak? Tidak seperti kebanyakan orang, bebas dari penjara ternyata tak membuatnya gembira, tapi justru membuatnya gelisah.

“Saya takut kehilangan perasaan dekat denganNya,” demikian ungkapnya. Masya Allah.

Saat di dalam penjara, ia merasa berada dalam kondisi yang memungkinkannya hanya bergantung pada Allah, dan bisa selalu mengisi waktunya dengan semua hal yang dianggapnya bermanfaat. Ia takut dan khawatir, kondisi tersebut justru hilang saat dia merasa sudah bebas.

Kisahnya mengingatkan saya pada sebuah hadits Nabi shalallahu alaihi wassalam yang mengatakan: dunia adalah penjara orang yang beriman, dan surganya orang kafir. Dan harus diakui, belenggu atau penjara ternyata adalah kondisi yang memang dibutuhkan, setidaknya agar manusia mampu naik tangga dari posisi asfala safilin untuk meraih ahsanu taqwimnya.

Tak mengherankan bila Nabi Yusuf alaihi salam, nabi yang di waktu mi’raj ditemui Rasulullah di langit ketiga, langit yang melambangkan nafsu; secara sadar memilih dipenjara: Rabbi, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh (surat Yusuf: 33).

Mengingat bahwa Nabi Yusuf adalah sosok nabi yang tampil sebagai gambaran kemampuan manusia mengatasi nafsu, tak salah bila disimpulkan bahwa penjara atau pemenjaraan adalah satu-satunya metode untuk mengalahkannya. Kalau ditarik kesejajarannya, ini pula yang kemudian melahirkan ajaran tentang zuhud, uzlah, bertapa dalam keramaian atau tapa ngrame dalam budaya Jawa, dan segenap turunan-turunan lainnya. Hakikatnya sama: penjara atau pemenjaraan; cuma tidak dalam ruang khusus yang terbatas, tapi di ruang dunia keseluruhannya.

Hanya lewat pemenjaraan, manusia terhindar dari kecenderungan melampiaskan nafsu, dan bisa memulai perjalanan menanjak untuk meraih posisi azalinya yang mulia. Yang disebut sebagai ‘surganya orang kafir’ dalam hadits Nabi di atas, adalah ‘surga’ pelampiasan nafsu. Pelampiasan ini bisa berlangsung dalam berbagai bentuk dan tingkat, dengan beragam obyek. Pelampiasan menggejala sebagai cara hidup karena tak adanya kesadaran tentang keterikatan dengan Allah. Dan, tak perlu diragukan lagi, peradaban yang sedang kita jalani hari ini adalah peradaban yang dipanglimai oleh keserakahan, oleh pelampiasan nafsu.

Rasa-rasanya kita telah lupa tentang ini semua. Salah satu buktinya: kita justru merasa terpenjara ketika pandemi Covid-19 mencengkeram kita semua. Artinya, sadar atau tidak, selama ini kita cenderung tidak pernah merasa, dan karena itu tidak pernah menyikapi, dunia dengan peradaban pelampiasannya ini sebagai penjara. Sedikit atau banyak, diam-diam kita bahkan ikut merayakan proyek-proyek pelampiasan yang diselenggarakannya.

Sungguh saya merasa sangat malu setiap teringat kisah ibu mertua kawan saya tadi. Betapa tidak? Dia gelisah saat dibebaskan dari penjara; saya malah gelisah di dalam apa yang saya sangka sebagai penjara yang diciptakan oleh pandemi ini dan ingin segera bebas darinya. Astagfirullahal adzim.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda