Jejak Islam

Makam Ibrahim, Kurungan Besi Dekat Ka’bah

Written by Abdul Rahman Mamun

Maqam Ibrahim atawa Makam Ibrahim. Sebagian orang menduganya makam alias kubur Nabi Ibrahim. Sebuah batu yang ditempatkan dalam kurungan besi, dekat Ka’bah, sepintas memang bisa diduga sebagai nisan. Yang sebenarnya, Makam Ibrahim adalah bekas telapak kaki Nabi Ibrahim pada sebuah batu ketika beliau membangun Ka’bah.

Batu dalam kerangkeng berkaca itu terletak di timur Ka’bah dekat Multazam (pintu Ka’bah). Ini salah satu tempat yang mustajab (makbul) dan tempat salat sunah. “Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan Al-Bait tempat berkumpul bagi manusia dan tempat  yang aman. Jadikanlah Makam Ibrahim tempat sembahyang. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang rukuk dan yang sujud’.” (Q. 2:125).

Makam (dengan huruf qaf, al-maqaamu) berarti tempat, kedudukan, posisi, pangkat, derajat. Kata yang seasal misalnya mukim (al-muqiimu) berarti orang yang menetap (ism fa’il dari aqaama, menetap).

Sebagian besar mufasir berpendapat, yang dimaksudkan Makam Ibrahim bukanlah “rumah kecil” itu saja, melainkan seluruh ibadah haji. Sebagian lagi mengatakan, Makam Ibrahim itu Arafah, Muzdalifah, dan tempat melempar jumrah. Yang menjelaskan Makam Ibrahim sebagai batu dan sekitarnya, seperti yang sekarang ini, di antaranya Ibn Jarir Ath-Thabari, mufasir besar. Alasan: Umar ibn Al-Khaththab r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku menjadikan makam ini tempat salat?” Lalu turun ayat di atas.

Hadis lain, riwayat Hatim: Jabir r.a. menuturkan, sesudah memegang Hajar Aswad, Rasulullah s.a.w. tawaf dengan tiga kali lari kecil dan empat kali jalan biasa. Kemudian menuju Makam Ibrahim dan mengucapkan, “Ambillah Makam Ibrahim ini sebagai tempat salat.” Lalu Nabi salat di antara Makam dan Ka’bah.

Letak Makam Ibrahim yang sekarang adalah posisi sejak zaman jahiliah. Sekali pernah bergeser, yakni ketika terjadi banjir besar (dikenal dengan Peristiwa Umm Nasjal di tahun 17 Hijri (638 M.). Waktu itu Makam terbawa arus air hingga mendekti pintu Ka’bah sebelah timur. Khalifah Umar ibn Khaththab r.a. segera mengembalikannya ke tempat semula, disaksikan para sahabat Nabi.

Ada versi lain. Menurut Sejarawan  Ath-Thabari, Makam Ibrahim pada masa Nabi Irahim a.s. memang terletak di tempat sekarang. Namun di masa jahiliah orang-orang memindahkannya ke dalam Ka’bah karena khawatir rusak terkena banjir. Ini berlanjut sampai ke masa Rasulullah s.a.w. dan Khalifah Abu Bakr r.a. Baru di masa Umar dikembalikan ke tempat semula setelah melalui pengukuran yang detil.

Sejarawan lain, Abdullah ibn Muhammad At-Tasi (w. 1883 M.), menolak keterangan itu, karena bertentangan dengan yang dikemukakan Azraqi (sastrawan Persia, w. 1132 M.) dan hadis Jabir r.a. Menurut At-Tasi, yang mengembalikannya ke tempat asal mungkin Nabi Muhammad s.a.w. atau Umar r.a. atau lainnya, tapi memang Makam itu berada di tempatnya sejak masa Ibrahim a.s. Tapi akhirnya Tasi cenderung berpendapat yang menempatkan kembali adalah Umar pada 17 H.

Maqam ibrahim

Adapun orang yang disebut-sebut berjasa dalam mengelola dan merawat dan memperindah Makam Ibrahim dengan berbagai ukiran adalah Khalifah Al-Mahdi (775-785 M.) dari Bani Abbas (Dinasti Abbasiah). Disebutkan, ketika para penjaga Ka’bah melaporkan batu bersejarah itu retak, Al-Mahdi mengirimkan biaya sebesar 1.000 dinar. Renovasi dilakukan pada 161 H. (780 M.).

Pada pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) renovasi kedua terjadi, yakni pada 236 H (850 M). waktu itu dibutuhkan dana lebih dari 8.000 kerat emas dan 70.000 dirham perak, terutama untuk pembangunan tudung dan kubah. Namun berbagai hiasan Makam Ibrahim pernah dibongkar Gubernur Mekah Ja’far ibn Fadl dan Muhammad ibn Hatim untuk dilego. Uangnya dipakai untuk membiayai perang melawan Ismail ibn Yusuf Al-Alawi yang pada 251 H (865) hendak meyerbu dan menghancurkan Kota Mekah dan Hijaz.

Ketika jabatan gubernur Mekah dipegang ali ibn Hassan, juga dari Bani Abbas, dilaporkan bahwa Makam Ibrahim mulai rusak. Maka sang gubernur memerintahkan batu itu dibalut dengan dua buah gelang simpai emas 1.992 kerat dan sebuah gelang perak. Itu tahun 256 H. (870 M). Sampai sekarang.

Sumber: Majalah Panjimas, 23 Januari-5 Februari 2003.            

About the author

Abdul Rahman Mamun

Direktur Utama panjimasyarakat.com, CEO Magnitude Indonesia, Ketua dan Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) RI 2009-2013, pernah menjadi jurnalis & producer di Metro TV dan ANTV. Menyelesaikan studi Teknik Sipil UGM, jurusan Tafsir-Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan menempuh studi Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda