Jejak Islam

Ketika Meriam dan Banjir Meghantam Rumah Allah (3)

Sepuluh tahun kemudian Abdul Malik ibn Marwan mengirimkan jagoannya, Hajjaj ibn Yusuf, menghadapi Abdullah ibn Zubair. Kali ini Abdullah, yang juga cucu Abu Bakr dari putrinya bernama Asma itu tak mampu bertahan. Ia gugur  – tiga hari mayatnya dipertontonkan di sekitar Ka’bah, disalibkan di kayu salam.

Hajjaj lalu melapor kepada bosnya, bahwa pembangunan Ka’bah oleh Ibn Zubair tidak sesuai dengan Ka’bah pada masa Rasulullah. Lalu keluar perintah dari Khalifah agar Ka’bah dibangun kembali seperti keadan semula. Sampai tahun 1039 H. tidak ada kejadian apa-apa yang menimpa Ka’bah. Tapi pada bulan Sya’ban tahun itu terjadi hujan yang sangat deras, yang belum pernah terjadi sebelumnya, tepatnya pada hari Rabu 19 Sya’ban. Bukan hanya banjir, melainkas air bah yang melenyapkan ribuan rumah yang berada di sekitar disekitar Ka’bah dan ratusan jiwa dinyatakan hilang terbawa arus air. Bencana ini juga untuk pertama kali  menggenangi hampir seluruh bagian Kabah.

Sehari kemudian, penguasa atau syarif  Mekah yaitu Mas’ud ibn Idris datang dan menyaksikan air bah di dalam  masjid dan memeritahkan agar membuka pintu bab Ibrahim, yang disediakan untuk melakukan pembuangan air itu ke arah bawahan Mekah ke arah Yaman. Tapi belum tuntas pembuangan air bah, gugurlah seluruh dinding Hijir Ismail Ka’bah, dan tangga bagian dalam runtuh. Kejadian ini benar-benar mncemaskan bukan hanya masyarakat tetapi juga para pembesar Mekah. Maka atas perintah Syarif dilakukan tindakan penyelamatan atas berbagai barang berharga yang berada di dalam masjid. Sekitar 20 kandil emas,serta puluhan barang berharga dari emas dan perak, diangkut keluar. Pendaftaran barang ini disaksikan langsung oleh Syarif  sebelum disimpan dirumah Syeikh Jamaludin Muhamad di tepi bukit Safa dengan penjagaan ketat tentara bersenjata.

Tak membuang-buang waktu,  Syarif memimpin upaya pembersihan tanah-tanah yang masih menempel pada dinding Ka’bah, pada Jum’at dan pada hari Sabtu digelar rapat dengan melibatkan ulama-ulama besar untuk membahas upaya perbaikan baitullah  itu. Perbaikan dilakukan tanpa menunggu perintah Khalifah di Istanbul (waktu itu jazirah Arab merupakan bagian dari kekhalifahan Turki Usmani). Dalam waktu singkat perbaikan punselesai, tepatnya 23 Syawal.  Syarif menyempatkan salat dua rakaat dan tawah yang diikuti masyarakat sekitar.

Sepanjang masa Ka’bah memang dipenuhi rasa pembinaan, baik terjadi peristiwa seperti kebakaran dan banjir  ataupun tidak. Ka’bah pernah menjadi sasaran kemarahan kaum Qaramithah, salah satu sekte Syi’ah, dari Irak pada musim haji 930 M yang ingin mengembalikan kejayaan kerajaan Persia.Serangan dilakukan melalui Syam dengan sasaran Khalifah pada 924. Enam tahun kemudia serangan sampai ke Basrah dan Kufah. Pada 930 kekuatan agresi masuk Mekah dan menjarah kekayaan kota bahkan membunuh sekitar 30.000 kaum muslimin. Barang-barang berharga hak milik wakaf Mekah, termasuk Hajar Aswad,  baru dikembalikan 22 tahun kemudian, setelah ditebus dengan bayaran mahal.

Di bawah Arab Saudi

Saat ini Ka’bah berada di bawah pembinaan Kerajaan Arab Saudi. Berbagai bagian telah mendapatkan penyempurnaan dan upaya pengindahan secara optimal. Pada dinding sebelah timur laut terdapat sebuah pintu dan karena itu sisi ini sering disebut muka Ka’bah. Sedangkan sisi sebaliknya, sisi barat daya, disebut bagian belakang Ka’bah. Bangunan yang berdiri diatas pondasi kokoh yang berasal dari batu marmer dengan ketebalan 25 sentimeter itu ditutupi semacam kelambu sutra hitam. Kiswah namanya. Kira-kita dua meter dibagian bawah berwarna putih disebut Syazarwan. Di tengah-tengan itu terdapat “ikat pinggang” sutra berwarna hijau yang dikenal dengan “hizam”, bertuliskan ayat-ayat tentang Ka’bah terbuat dari sulaman benang-benag emas. Masih ada lagi penabir tutup pintu bertuliskan “Laailaha illallah Muhammadur Rasulullah”, yang disebut al-burk. Semua itu didatangkan dari Mesir.

Setiap tahun, kiswah itu diganti, tepatnya pada 25 Zulkaidah, sesudah selesai musim haji. Proses penggantian kiswah ini dilakukan dalam sebuah ritual dan diikuti oleh jamaah haji dan dipimpin seorang amir berasal dari Bani Syaibah, yang ditunjuk resmi oleh Kerajaan yang disebut Amir Al-Haj. Upacaranya disebut mahmal.

Di dekat pintu Ka’bah di hadapan Maqam Ibrahim terdapat satu tempat yang yang banyak dipergunakan  orang untuk salat, bernama Multazam. Di situ pula tempat imam salat berdiri. Sedangkan tempat tawaf atau disebut mutawaf, terdiri dari batu marmer, yang semakin banyak mendapat sinar matahari akan memancarkan suhu sejuk. Di dekat pintu Bani Syaibah di sebelah timur laut Ka’bah juga dibangun gedung sumur Zam-zam sumber air ajaib di kawasan kering itu, sehingga memudahkan kaum muslimin melepaskan rasa hausnya. Demikian juga terpeliharanya tiga tiang kosong di dalam Ka’bah, dua tangga-salah satunya berusia ribuan tahun-mimbar Masjidil Haram hadiah Sultan Sulaiman yang berornamenkan budaya klasik.

Kemegahan Ka’bah juga semakin lengkap setelah Masjidil Haram dilengkapi tujuh menara, dan berlantai dua. Apalagi ribuan lampu yang terpasang di setiap pojok juga menciptakan panaroma Masjidil Haram amat indah di malam hari.


Penulis: Agung Y. Achmad, wartawan majalah Panji Masyarakat, 1997-2001, redaktur majalah Panjimas, 2002-2003.. Kini penulis lepas, atara lain untuk kolom bahasa majalah Tempo. Sumber: Panjimas, 23 Januari-5 Februari 2003.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda