Jejak Islam

Ketika Meriam dan Banjir Menghantam Rumah Allah (2)

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Pembinaan Ka’bah

Ka’bah dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Nabi Ismail a.s.  Ka’bah sendiri artinya persegi panjang berbentuk kubus. Tapi kalau diukur secara cermat, Ka’bah dengan arsitektur demikian sederhana itu sebenarnya tak persis berbentuk sebuah kubus. Tingginya 15 meter tapi panjang di sisi utara kira-kira 9,92 meter, sementara di sisi selatan 10,25 meter. Sedangkan sisi barat 12,15 meter  dan 11,85 meter, dan 10,52 meter di sebelah timur. Tiap pojok Ka’bah menunjuk mata angin ke arah timur laut, barat laut, barat daya, dan tenggara.

Adapun bangunan yang mengelilingi Ka’bah mulai dibangun pada zaman Khalifah Umar ibn Khaththab. Pada waktu itu bangunan sebatas tinggi manusia. Dengan bijak Khalifah Umar membeli rumah-rumah yang berdiri di sekitar Ka’bah. Perluasan kembali diteruskan pada era Utsman ibn Affan. Upaya pengindahan dan perluasan terus dilakukan oleh khalifah-khalifah berikutnya. Bukan hanya meliputi luas bangunan tetapi juga hiasan-hiasan di dalamnya.

Namun, dalam sejarahnya rumah Allah itu tak lepas dari berbagai ancaman, mulai dari akibat konflik politik di antara penguasa Muslim sesudah erah Nabi sampai bencana alam seperti banjir dan sebab-sebab kecelakaan.

Pada 683 M. pasukan Yazid ibn Mu’awiah, di bawah komando Al-Hasan ibn Namir, menyerang Mekah setelah lebih duu menaklukkan Madnah. Mekah yang waktu itu diperintah Gubernur Abdullah ibn Zubar memang menolak baiat atas Yazid sebagai khalifah, mengantikan ayahnya, Mu’awiah. Manjanik (meriam batu) ditempatkan di Jabal Qubais, sebelah timur, dan Jabal Hindi di barat laut. Taktik mengurung ini memaksa para pengikut Adullah ibn Zubair berkumpul di dalam masjid, dekat Ka’bah, mendirikan beberapa tenda, sebagai posko dan tempat pengobatan. Untuk  melindungi yang bertawaf, Abdullah ibn Zubair membuat dinding yang mengelilingi sekitar Ka’bah. Toh dinding dengan tiang-tiang kokoh dari bahan-bahan pilihan asal Yaman dan Habasi itu  tak mampu menahan gempuran meriam. Beberapa peluru malah menimpa Ka’bah dan merontakan bagian atas dindingnya. Menyusul kebakaran tenda-tenda, api merembet membakar kiswah. Ada yang menyebut kebakaran berasal dari percikan manjanik yang disertai api, meski ada juga yang mensinyalir akibat kecerobohan prajurit bagian logistik. Ketika pajurit itu menyalakan api di Safa, di lingkungan masjid, puntung-puntungnya berterbangan sampai ke kemah.

Perang terus berkobar dan tidak ada yang menang. Sampai kemudian Abdullah ibn Zubair mendengar kabar Yazid wafat. Yazid digantikan putranya, Mu’awiyah. Ia segera mengirim pesan kepada Hassin untuk menghentikan perang. Disetujui. Dan Mekah kembali aman. Abdullah lalu memerintahkan sekeliling Ka’bah dibersikan. Timbul persoalan, ketika para pemuka merundingkan rehabilitasi rumah Allah itu. Kelompok pertama, yang dipelopori Abdullah sendiri, menghendaki sebuah bangunan baru, dengan meruntuhkan lebih dulu Ka’bah yang dibangun orang Quraisy sebelum Nabi. Itu diyakini sesuai dengan cita-cita Nabi sendiri. Rujukan mereka adalah penuturan Aisyah, istri Nabi yang juga  bibi Abdullah. Kelompok kedua, mereka hanya ingin perbaikan, yang antara lain diwakili Abdullah ibn Abbas. Ibn Zubair akhirnya dapat melaksanakan kehendaknya.

Ketik Ka’bah hendak dirobohkan, datang surat dari Ibn Abbas. Tulisannya, “Jangan sampai pekerjaanmu itu membiarkan manusia tidak ber-Ka’bah. Karena itu, bikinlah dulu tiang-tiang kayu di sekelilingnya. Tutup pakai kain putih.” Ibn Zubair setuju. Poyek itu rampung pada 17 Rajab 65 H.

Bersambung

Penulis: Agung Y. Achmad, wartawan majalah Panji Masyarakat, 1997-2001, redaktur majalah Panjimas, 2002-2003.. Kini penulis lepas, atara lain untuk kolom bahasa majalah Tempo. Sumber: Panjimas, 23 Januari-5 Februari 2003.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda