Cakrawala

Mabrur Tanpa ke Makkah

Situasi wukuf di Arafah pada musim haji tahun 2020 yang diikuti seribu orang karena Pandemi Covid-19 (foto : YouTube)
Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Dalam salah satu kesempatan pergi haji, Abdullah ibn Mubarak, seorang tabiin yang terkenal, sempat tertidur di Masjidil Haram. Dalam tidurnya, ia bermimpi mendengar dua orang malaikat sedang bercakap-cakap.

“Berapa orang yang berhaji tahun ini?” tanya salah satu malaikat.

“Enam ratus ribu orang,” jawab malaikat lainnya.

“Berapakah yang mabrur?”

“Hanya satu orang, Ali ibn Muwaffaq. Karena satu orang inilah semua yang berangkat tahun ini ikut mabrur hajinya.”

Abdullah ibn Mubarak terbangun dari tidurnya dengan kaget. Tak percaya dengan apa yang didengarnya dalam mimpi. Ia pun mencoba mencari nama tersebut. Pada rombongan-rombongan haji yang ada, tak ditemukannya orang dengan nama tersebut. Sampai akhirnya ia bertemu dengan rombongan haji dari Damaskus.

“Di Damaskus memang ada tukang sepatu yang bernama Ali ibn Muwaffaq. Ia berencana pergi haji tahun ini, tapi kami tak tahu keberadaannya; karena tak ada di rombongan kami,” jawab salah seorang dari mereka.

Sepulang dari haji, Abdullah ibn Mubarak memutuskan untuk ke Damaskus, mencari orang yang bernama Ali ibn Muwaffaq tersebut.

“Apakah engkau berangkat haji tahun ini?” tanya Abdullah ibn Mubarak begitu menemukan alamat orang yang dicarinya.

“Aku memang sudah berniat berangkat haji tahun ini,” jawab Ali ibn Muwaffaq.

“Bertahun-tahun aku menabung dari hasil kerja sebagai tukang sepatu. Tahun ini alhamdulillah tabunganku sudah cukup untuk pergi haji,” sambung Ali ibn Muwaffag.

“Tapi ketika aku sudah menyiapkan segala keperluan untuk berhaji, isteriku yang hamil mencium bau masakan yang lezat. Karena ia sangat menginginkannya, aku pun mencari sumber bau masakan tersebut.”

“Setelah kutemukan rumahnya dan kuutarakan maksudku untuk meminta sedikit makanan; si empunya rumah, seorang perempuan, malah mengatakan bahwa makanan ini haram untukku dan keluargaku. Tentu saja aku penasaran dengan jawabannya ini. ”

“Setelah kudesak, perempuan tersebut lantas bercerita bahwa ia dan anak-anaknya yang yatim sudah tiga hari tak makan, karena memang tak ada lagi yang bisa dimakan. Perempuan tersebut lantas ke luar untuk mencari apa pun yang sekiranya dapat dimakan. Kebetulan yang ditemukan adalah bangkai onta. Itulah yang dia masak, dan baunya membuat isteriku menginginkannya.”

“Tak tahan mendengar ceritanya, segera saja aku pulang. Kuambil semua uang tabungan haji, dan kuserahkan ke perempuan tersebut, agar dia dan anak-anak yatimnya bisa menyambung hidup,” kisah Ali ibn Muwaffaq.

“Jadi engkau tak berangkat haji tahun ini?” tanya Abdullah ibn Mubarak sekali lagi.

“Tidak!” jawab Ali ibn Muwaffaq.

Kisah dari Abdullah ibn Mubarak ini sangat populer dan sering dikutip orang. Tapi rasa-rasanya ia tak pernah cukup kuat untuk menggedor kesadaran kita bahwa ibadah tertinggi adalah membantu sesama; bahwa kekhalifahan yang diamanahkan pada manusia adalah untuk menyelamatkan sesama dan makhluk Allah lainnya.

Bayangkan, seorang tukang sepatu yang miskin, yang menabung seumur hidupnya agar bisa menunaikan ibadah haji; dengan ikhlas membatalkan niatnya berhaji demi sebuah keluarga janda dengan anak-anak yatimnya. Sementara banyak orang yang berlebih hartanya, kesadaran yang demikian terbersit pun mungkin tidak. Mungkin karena kita memang tidak serius beragama, apalagi sungguh-sungguh berTuhan.

Ada kisah percakapan menarik antara Nabi Musa alaihi salam dengan Allah yang pernah dikutip oleh Imam Ghazali. Konon, pada suatu waktu terjadi dialog antara Nabi Musa dengan Allah.

“Ya Allah, amalan ibadah apa yang paling Engkau senangi dariku. Apakah shalatku?”

“Tidak. Shalatmu itu hanya untukmu sendiri. Karena shalat membuat engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.”

“Apakah dzikirku?”

“Tidak. Dzikirmu itu untuk dirimu sendiri. Karena dzikir membuat hatimu menjadi tenang.”

“Apakah puasaku?”

“Tidak. Puasamu itu hanya untukmu saja. Karena puasa melatih diri dan mengekang hawa nafsumu.”

“Lantas, ibadah apa yang membuat Engkau senang ya Allah?”

“Mencintai sesama dan bersedekah. Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang kesusahan dengan sedekah, sesungguhnya Aku berada di sampingnya.”

Atau, kalau kita pakai redaksi seperti dipakai dalam hadits qudsi: “Wahai anak Adam! Aku sakit mengapa engkau tidak menjenguk-Ku, ia berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam. Allah berfirman: Engkau tahu bahwa seorang hamba-Ku sakit di dunia, akan tetapi engkau tidak menjenguknya, seandainya engkau menjenguknya sungguh engkau akan dapati Aku di sisinya.”

“Wahai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu, mengapa engkau tidak memberi-Ku? Orang itu berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makan sedangkan engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah berfirman: Engkau mengetahui ada dari hamba-Ku yang kelaparan dan engkau tidak memberinya makan, sekiranya engkau memberinya makan, niscaya engkau dapati Aku di sisinya. Wahai anak Adam Aku meminta minum padamu sedang engkau enggan memberi-Ku minum. Ia berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah menjawab: Seseorang meminta minum padamu dan engkau tak memberinya, sekiranya engkau memberinya minum niscaya engkau dapati Aku di sisinya.”

Dalam kitab ar-Risalatul Qusyairiyah dikisahkan tentang kebiasaan Nabi Ibrahim memberi makan secara cuma-cuma kepada orang lain. Hanya saja, sebelum memberi makan, Nabi Ibrahim selalu mengajak mereka untuk menyembah Allah.

Suatu saat, ada seorang majusi yang beliau ajak makan bersama. Seperti biasa, Nabi Ibrahim menawarinya untuk menyembah Allah. Tentu saja si majusi menolak. Makan bersama pun batal dan si majusi pergi meninggalkan Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim langsung ditegur Allah: “Selama 50 tahun dia kafir padaKu, namun Aku tetap memberinya makan. Bagaimana bisa kamu baru memberinya sesuap makanan, langsung menuntutnya macam-macam?”

Membandingkan kisah-kisah semacam ini dengan ekspresi keberagamaan kita akhir-akhir ini; rasa-rasanya malu bukanlah kata yang tepat untuk mewakilinya.

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda