Jejak Islam

Ketika Meriam dan Banjir Menghantam Rumah Allah

Kota Mekah, Masjidil Haram dan Ka'bah sekitar tahun 1900-an
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik… Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.

Suara lafal itu diucap berulang-ulang jutaan mulut manusia yang menyemut sambil bertawaf, mengitari Ka’bah tujuh kali putaran (di musim haji kali ini diperkirakan hanya 10.000 orang yang menunaikan rukun Islam kelima ini, menyusul pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, termasuk Arab Saudi). Mereka menyatakan ketunggalan tuhannya, Allah SWT, pada ritual ibadah haji, dalam melengkapi rukun islam yang kelima. Meskipun tanpa komando, alunan suara mereka mampu menciptakan irama teratur. Warna pakaian putih tanpa jahitan yang mereka kenakan menguatkan suasana batin yang suci dalam kesetaraan sesama manusia di hadapan Sang Pencipta. Semua perbedaan: warna kulit, pangkat,status sosial, tanggal pada hari itu.

Tawaf dalam rukun haji merupakan bagian terpenting dari segala rangkaian ibadah haji. “Tiada haji tanpa tawaf,”kata Nabi s.a.w. Ritual ibadah haji dan bangunan Ka’bah itu bersifat simbolistik, bahkan memiliki unsur mitos. Misalnya setiap orang yang menunaikan ibadah haji merasa kurang afdol kalau tidak mencium Hajar Aswad. Nabi s.a.w. sendiri melakukan hal ini. Umar ibn Khattab pernah terusik gara-gara hal itu, saat berbaris menunggu giliran di belakang Nabi. “Kalau Nabi tidak melakukan hal ini, aku tentu tidak akan melakukannya,” gumam Umar. Toh sahabat yang di kemudian hari menjadi khalifah itu melakukannya juga. “Hampir agama-agama membawa mitos-mitos. Islam agama yang paling sedikit mitos, dan itu hanya pada ibadah haji,” kata Nurcholish Madjid, yang menulis disertasi tentang Ibn Taimiah itu.

Sebelum Ka’bah menjadi kiblat, kaum muslimin bersembahyang menghadap ke selatan yakni ke arah Baitul Maqdis di Yerusalem, sebuah kota bersejarah dan suci, yang juga salah satu situs risalah Nabiullah Ibrahim a.s. Tapi dengan berkiblat ke arah selatan, waktu itu Nabi s.a.w. bermaksud sekaligus menghadap Ka’bah. Namun, ketika Nabi hijrah ke Madinah, hal itu tidak bisa dilakukannya lagi. Ketika itu kiblat menghadap utara tetap ke arah Baitul Maqdis, dan membelakangi arah Ka’bah.

Posisi seperti itu bagi Nabi tidak mententramkan. Lalu Nabi pun memohon kepada Allah supaya diizinkan pindah kiblat. “Kami melihat mukamu menengadah ke langit; maka akan Kami arahkan engkau ke Kiblat yang kau sukai; arahkanlah wajahmu ke Masjidil Haram, dan di mana pun kamu berada arahkanlah wajahmu ke sana.” (Q. 2:144).

Menjadi Pusat Sejak Dulu

Allah sendiri yang menyebut Ka’bah rumah (bait)-Nya. Dan karena kehadiran bangunan berbentuk kubus itulah mengapa Alquran (14:40) mendeskripsikan Mekah  sebagai kota yang terhampar di sebuah lembah tandus,yang sedikit terdapat sumber air, kebun-kebun dan pepohnan) disebut kota suci (haram). Tanpa Ka’bah, Mekah hanyalah salah satu dari kota-kota tua di Hejaz, yag kini berada dalam wilayah kekuasaan Kerajaan  Arab Saudi. Letaknya kira-kira berada pada 45 mil di sebelah timur pelabuhan Jeddah di Laut Merah, di pertengahan antara Tanjung ‘Aqabah dan Babul Mandab. Posisi geografis kota ini 330 meter di atas permukaan laut, pada 39,28 derajat bujur timur dan 21.27 derajat lintang utara.

Sebagai kota tandus di hamparan lembah kerng dan dikelilingi gunung-gunung karang, Mekah memang bukan tempat tinggal yang nyaman. Panjang lembah dari barat ke timur sekitar 3 km. Lebar dari utara ke selatan sekitar 1,5 km. Kota ini dikepung oleh sejumlah bukit: Abu Qubais di sebelah timur, Abu Hadidah (Kudai) dan Khundamah disebelah selatan, Falj, Qaiqan, Jabal Hindi, dan Lu’lu di sebelah selatan, dan di barat Jabal Kada. Dari bukit sebelah barat Jabal Kada. Dari bukit sebelah barat inilah dulu Nabi dan kaum muslimin menaklukan kota Mekah pada tahun 8 H.

Namun Mekah sangat dikenal masyarakat yang mendiami Semenanjung Arabia sejak sekitar dua abad sebelum Islam lahir di kawasan itu. Mekah menjadi persinggahan para kafilah dari berbagai suku di Semenanjung Arab, Syam (kawasa yang sekarang meliputi Palestina, Lebanon, Yordania, Suriah), dan Asia kecil. Ptolemeus menyebut kota Mekah sebagai stasiun perdagangan rempah-rempah. Jadilah Mekah pada waktu itu sebagai pusat perdagangan. Di dataran sempit itulah, hanya kira-kira 2 mil persegi, di antara bebukitan yang mengelilinginya, Ka’bah berdiri.

Para kafilah pada waktu itu memiliki kepercayaan yang beragam, dari penyembah berhala sampai penganut Yahudi dan pengikut Nasrani. Pada saat singgah di Mekah, di sela-sela kegiatan berdagang, mereka mendatangi Ka’bah untuk beribadah, sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Jadilah Mekah menjadi pusat peribadatan suci berbagai agama dan kepercayan yang berbeda-beda. Ka’bah telah menjadi rumah suci “milik bersama”.

Tak mengherankan jika bukan hanya berhala-berhala yang menjadi  sesembahan suku-suku Arab yang dipajang di dalam Ka’bah, seperti Uza, Lata dan Manat. Tetapi juga Hubal, berhala dari Syam, di samping patung Yesus dan Bunda Maria. Perubahan fungsi Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim a.s. pada berabad-abad sebelum itu, baru terjadi bersamaan dengan datangnya Islam. Nabi  Muhammad membawa risalah tauhid dan membersihkan segala penyembahan berhala di dalam sekitar Ka’bah. Islam mengajarkan tiada tuhan selain Allah. “Dan ingatlah ketika kami memberikan tempat kepada Ibrahim di bait Allah (dengan mengatakan): janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan aku dan sucikanlah rumahku ini bagi orang -orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang rukuk dan sujud.”(Q.S. Al-Hajj:26). Bersambung.

Penulis: Agung Y. Achmad. Sumber: Majalah Panjimas, 23 Januari-5 Februari 2003.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda