Cakrawala

Yang Gelut Situ, Yang Remuk Sini

Pengguna subway mengenakan masker untuk mematuhi protokol kesehatan selama Pandemi Covid-19 (foto : Ketut Subiyanto/pexels.com)
Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Untuk sementara waktu tak usahlah membaca atau menonton berita, kecuali memang yakin ingin menjadi bodoh, atau sekurang-kurangnya ingin terserang migrain berkepanjangan. Juga jangan banyak membuang waktu menengok sosial media, kecuali sudah benar-benar yakin ingin mengidap sakit jiwa, atau setidak-tidaknya ingin kehilangan akal sehat.

Mayoritas isi berita adalah kutipan suara para pemegang kuasa; yang akan memberi anda cukup alasan untuk membentur-benturkan kepala ke tembok bila mengikuti nalarnya yang sering belepotan, bertubrukan satu dengan yang lain atau malah berlompatan tanpa hubungan. Tidak cukup itu, masih ada tambahannya juga: ngomong A tapi melakukan B; janji C-D-E-F-G dan seterusnya, tapi yang dikerjakan tetap saja X. Dan itu semua bisa dilakukan tanpa sedikit pun rasa malu, apalagi bersalah.

Sementara mayoritas muatan sosial media adalah bangkai dan sampah yang diproduksi kelompok-kelompok yang sebelumnya secara massif telah sukses diternakkan entah oleh siapa dan untuk tujuan apa. Mereka membelah masyarakat, menginventarisasi isu-isu sensitif, dan kemudian mengondisikan kelompok tertentu di masing-masing sisi untuk terus-menerus saling melempar isu-isu tersebut untuk memancing keributan.

Yang jelas, banyak masalah besar dan mendasar luput dari perhatian karena kegaduhan yang terus mereka produksi. Ketika ada badai besar mengancam, dengan cekatan mereka ganti topiknya dengan kisah hembusan sepoi-sepoi angin surga. Ketika ada kapal yang mulai oleng dan nyaris tenggelam, dengan cepat mereka ubah kisahnya menjadi dongeng keajaiban kapal yang sedang bertamasya di samudra raya. Sementara di sisi yang satunya, ada saja yang bicara tentang masalah-masalah receh dan tidak bermutu untuk memantik kegaduhan yang lain lagi.

Dari masing-masing sisi, yang muncul dan dimunculkan ke permukaan adalah para medioker, barisan kemampo, pasukan setengah matang bahkan mentah. Merekalah yang jumawa menyesaki ruang publik dengan wacana-wacana agama, politik, budaya, ekonomi, kesehatan dan lain sebagainya yang pada dasarnya sama sekali tidak pernah dikuasainya. Kekonyolan dilawan dengan kekonyolan. Kegilaan dibalas dengan kegilaan. Sebagai sebuah bangsa besar rasanya saat ini kita sedang memasuki titik nadirnya. Sungguh tak bisa saya bayangkan akibatnya bila kita masih dipaksa memasuki titik yang lebih rendah lagi.

Saya hanya melongo mendengar ungkapan kawan yang tampaknya sedang putus asa ini. Sudah lama saya mendengar analisa-analisanya; tapi tak pernah segelap ini. Setiap pulang kampung, ia memang selalu menyempatkan diri untuk mampir, dan sering terlibat pembicaraan hangat dan mengasyikan dengan kawan-kawan lain yang kebetulan berkumpul di rumah saya.

Bukan hanya itu, demikian dia melanjutkan pembicaraannya; sudut pandang apa pun dan siapa pun yang muncul dalam menyikapi setiap masalah yang muncul, selalu digiring dan diarahkan sedemikian rupa sehingga seolah menjadi bagian dari pembelahan yang sudah tercipta. Menjadi bagian dari yang sini atau yang sana. Akibatnya bukan sudut pandangnya yang diperdebatkan, tapi afiliasinya; sehingga sulit untuk menilai sesuatu dengan jernih. Dan lewat segala cara penyederhanaan, pembingkaian, penggelinciran nalar; narasi tersebut kemudian disemburkan ke masyarakat.

Pada gilirannya, masyarakat dipaksa menghabiskan energi untuk berdebat tentang sesuatu yang pada dasarnya tidak benar-benar mereka pahami asal-usul dan duduk perkaranya. Mereka terus dikondisikan agar merasa sedang membela sesuatu yang sangat besar dan penting bagi kehidupan bangsa dan negaranya, sehingga seolah tak ada jalan lain bagi mereka kecuali saling bertubrukan, kalau perlu bahkan saling meniadakan. Masing-masing terus menerus di doping agar merasa berada di posisi malaikat, sementara lawannya adalah posisi iblis.

“Pertanyaannya: siapa yang diuntungkan oleh kondisi ini? Rakyat? Jelas tidak! Justru merekalah yang akan remuk duluan. Bahkan tidak perlu konflik horisontal; terpuruknya ekonomi karena pandemi ini saja sudah membuat napas mereka terengah-engah dan montang-manting hidupnya!” tegasnya dengan nada getir.

“Lantas siapa?” tanya salah seorang kawan yang hadir malam itu.

“Kebetulan kemarin saya bertemu dengan seorang kyai, yang menjelaskan asbabun nuzul surat Ali Imron ayat 103,” jawab kawan yang tampak putus asa tadi.

Seperti diketahui, di Madinah ada suku Aus dan Khazraj yang sebelum Rasulullah datang, selalu bertikai dan berperang satu dengan yang lain. Kecuali Aus dan Khazraj, ada juga komunitas Yahudi di Yatsrib; nama lama sebelum disebut sebagai kota Madinah. Komunitas ini, dengan memanfaatkan konflik diantara kedua suku tersebut, sebelumnya punya posisi terhormat. Nah, setelah Aus dan Khazraj didamaikan dan disatukan oleh Rasulullah, perlahan-lahan posisi komunitas Yahudi mulai tergeser. Tentu saja ini membuat jengkel mereka.

Untuk mengembalikan posisi terhormatnya, tokoh-tokoh komunitas ini mulai memprovokasi suku Aus dan Khazraj. Mereka membongkar-bongkar luka perseteruan lama yang terjadi di antara kedua suku tersebut. Kepada suku Aus mereka mengingatkan tentang kekejaman dan pembunuhan yang telah dilakukan oleh Khazraj. Begitu juga sebaliknya. Akhirnya, kedua suku tersebut benar-benar terprovokasi, dan masing-masing pihak benar-benar mempersiapkan diri untuk kembali berperang.

“Maka turunlah ayat: Dan berpegang teguhlah kepada tali Allah, dan jangan bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

“Ada pepatah: mengail di air keruh. Untuk bisa mengail mereka butuh air yang keruh. Yang menyakitkan: ternyata begitu naifnya kita sehingga rela terus menerus dikeruhkan, agar ada yang selalu bisa mengail. Lebih menyakitkan lagi: seperti kerbau dicocok hidungnya, kita tetap saja asyik berkubang kekeruhan bahkan saat pandemi Covid-19 sudah membunyikan tanda bahayanya.”

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda