Tafsir

Tafsir Tematik: Keadilan dan Mantan Presiden (4)

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Keadilan timbangan Allah di bumi. Dengan itu ia mengembalikan hak si lemah dari orang yang kuat, hak orang yang benar dari pendusta, hak orang yang lurus dari yang lancung. Dengan itu dibenarkan orang yang benar dan disalahkan orang yang salah serta ditolak para pelanggar  batas yang dihinakan Allah Ta’ala. Dengan keadilan, manusia sejahtera.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu para penegak keadilan sebagai saksi karena Allah, walau terhadap diri sendiri atau kedua orangtua dan sanak kerabat. Kalaulah ia kaya maupun miskin, Allah lebih hampir dengan keduanya. Maka janganlah turuti nafsu sehingga kamu jadi menyimpang. Adapun jika kamu memutar balik atau menghindar, Allah sangat tahu apa yang kamu lakukan. (Q. 4:135).

Pengakuan Habibe

Ayat di atas bicara jelas. Hendaklah kita  jadi para penegak keadilan, sebagai para saksi karena Allah, bahkan pertama kali kepada diri sendiri. Dalam hal kesaksian dalam arti harfiah, bagaimana saksi terhadap diri sendiri? “Pengakuan,” jawab Zamakhsyari. Walaupun itu “merupakan bencana terhadap dirinya, orangtuanya atau kerabatnya.” (zamkhsyari, Al-Kasysyaf, 1:570). Dan itu bukan hanya teori: banyak

orang yang menyadari bahwa kesaksiannya, pengakuannya, atau kegiatannya yang diebabkan keyakinannya, sebelum peradilan, bicara lantang dan kemudian mendekam dalam penjara. Siapa pun, dan juga Soeharto, bisa menempuh keberanian serupa – atau yang lebih berat, memang, jika itu menyangkut sikap kstaria, di luar maupun di pengadilan, dalam hal pengakuan (sepanjang hal-hal yang memang harus diakui) seperti yang dimaksudkan Zamakhsyari.

Juga Presiden Habibie (waktu artikel ini ditulis, Setember 1998, ed) – meskipun tidak, atau belum, sehubungan dengan peradilan. Sudah sejak saat-saat pertama kedudukan Habibie di kursi presiden, tokoh seperti Amien Rais menyarankannya untuk, dalam rangka memerangi KKN, membuktikan keseriusannya dengan memulai dari dirinya sendiri: membeberkan kekayaannya, dan kalau tidak salah, menjelaskan dari mana didapat. Terdapat juga tuntutan – seperti yang akhirnya dari Menteri Saefuddin, agar semua mantan menteri Soeharto, termasuk rekan-rekannya di kabinet kini, mendapat pemeriksaan – pada waktu-waktunya, barangkali saja. Bahkan Presiden Habibie. Itu sebagai ikhtiar pembalikan kesan – dari kenyataan bahwa mereka para mantan orang dekat Soeharto, yang bahkan sebagiannya diisukan tak bersih. Yang susah ialah, memang, kalau ketidakbersihan itu, dalam “orde” yang lalu, menyeluruh di segenap sel birokrasi – dan lembaga peradilan tak terkecuali.

Ada yang bagus yang dipikirkan Fakhruddin Ar-Razi (w. 604 H.). Ia membedakan ungkapan tentang menjadi penegak keadilan dan ungkapan menjadi saksi dalam ayat di atas. Kemudian bertanya; mengapa keadilan disebutkan sebelum kesaksian? Padahal, dalam ayat lain kalimatnya berbunyi, “Allah bersaksi bahwa tiada tuhan apa pun selain Dia, juga para malaikat dan orang-orang berilmu, Yang Maha Penegak Keadilan” (Q. 3:18). Di situ  kesaksian yang didahulukan.

Ia menjawab sendiri. Kesaksian Allah itu mewakili peran-Nya sebagai pencipta, katanya, sementara kedudukan-Nya sebagai penegak keadilan mewakili pemeliharan-Nya kepada para penegak keadilaan di antara makhluk. Karena itu kesaksian Allah disebut lebih dahulu. Sebaliknya, di antara para hamba (dalam ayat kita di atas), kedudukan penegak keadilan mewakili suatu yang memang tugas kita “Dan diketahui bahwa selama seseorang belum orang yang adil, tidak bakal kesaksiannya diterima.” (Razi, At-Tafsirul Kabir, XI:74). Selama seorang jaksa atau hakim atau pemeriksa apa pun, demikian dalam arti yang diluaskan, belum sejatinya penegak keadilan, dan kebetulan kotor (dan sementara itu tak hendak menyertakan tenaga dari luar, dengan dalih di sekitar hukum pula), bagaimana orang akan merasa tenteram –bahwa mereka tidak akan, meminjam ungkapan ayat, justru “memutar balik atau menghindar”, dengan suatu cara?

Namun, ayat di atas bicara untuk masa yang panjang, yang sangat panjang. Sementara itu perubahan dalam banyak hal suatu proses. Sebagaimana Allah mahakuasa membalikkan  keadaan negeri ini dan memasukkannya ke kebebasan, yang mudah-mudahan tak kembali dicabut, Ia mahakuasa meggerakan makin banyak hati dan makn banyak hati lagi disegenap ditempat. “Allah telah meridhai keadilan untuk Diri-Nya,“ kata Qatadah r.a. “Ia timbangan Allah di bumi. Dengan itu ia mengembalikan hak si lemah dari orang yang kuat, hak orang yang benar dari pendusta, hak orang yang lurus dari yang lancung. Dengan itu dibenarkan orang yang benar dan disalahkan orang yang salah serta ditolak para pelanggar  batas yang dihinakan Allah Ta’ala. Dengan keadilan, manusia sejahtera.” (Thabari, op.cit,: 32).

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Panji Masyarakat, 30 September 1998.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda