Cakrawala

Berkibarlah Benderaku : Husein Mutahar,Bendera Pusaka,dan Kemerdekaan

H Mutahar, pencipta lagu Hari Merdeka memiliki kiprah perjuangan kemerdekaan Indonesia
Nabiel A Karim Hayaze
Ditulis oleh Nabiel A Karim Hayaze

Proklamasi Kemerdekaan

Tak lama lagi, kita semua akan merayakan Hari Peringatan Kemerdekaan 17 Agustus untuk yang ke 75 (1945-2020). Sebuah hari yang sangat besar bagi seluruh bangsa Indonesia, hari di mana seluruh rakyat Indonesia bersyukur, bergembira dan bersuka cita atas nikmat kemerdekaan. Proklamasi Kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari “keberadaan” Bendera Sang Saka Merah Putih, salah satu lambang negara yang sangat sakral maknanya bagi sejarah bangsa Indonesia. Bendera Merah Putih telah ada dan dikibarkan jauh sebelum Proklamasi kemerdekaan, dalam Sumpah Pemuda 20 Oktober 1928.

Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus seharusnya juga menjadi momentum bagi kita semua untuk mengingat jasa-jasa para pahlawan pejuang yang telah berjasa mengabdikan jiwa dan raganya demi bangsa dan tanah air. Salah satunya adalah Husein Mutahar, seorang patriot dan pejuang bangsa yang selama ini “sering” kita lupakan. Husein Mutahar adalah sosok penyelamat pusaka bangsa Sang Merah Putih, Pendiri Paskibraka dan tidak banyak yang tahu bahwa ia juga sosok yang menjahit kembali bendera sang saka Merah Putih.

Mutahar dan Sang Saka Merah Putih

Bendera Pusaka Merah putih dijahit oleh Fatmawati pada tahun 1944 dengan bantuan seorang Jepang pro-Indonesia. Terbuat dari kain merah putih, berbahan kain batik tulis halus yang didapat dari sebuah tempat di daerah pintu air. Kain merah dan putih tersebut dijahit oleh ibu Fatmawati sendiri selama dua hari dengan tetesan air mata dan dalam keadaan hamil. Hingga akhirnya bendera tersebut dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan sejak saat itu bendera tersebut selalu disimpan dan dibawa oleh Presiden Soekarno kemana ia pergi dan berada.

Pada bulan Januari 1946, Presiden Soekarno dan keluarga meninggalkan Jakarta menuju Jogja karena alasan keamanan dan sejak saat itu Ibu Kota Negara berpindah dari Jakarta ke Jogjakarta.  Hingga akhirnya, bulan Desember 1948 Belanda menyerang dan menyerbu Jogja dan akhirnya Soekarno-pun menyerah. Sebelum ia menyerah, ia memanggil ajudannya, Mayor Husein Mutahar dan menyerahkan bendera pusaka tersebut kepada Mutahar dan berpesan agar jangan sampai jatuh ke tangan Belanda.

Dalam buku Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams, Soekarno berkata kepada Mutahar:

“Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, percayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya. ”

Mutahar tidak berhenti berfikir bagaimana cara agar bendera pusaka tersebut tidak jatuh ke tangan Belanda. Hingga ia memutuskan untuk memisahkan potongan kain merah dan putih tersebut dengan menarik benang jahitan yang menyatukan kedua bagian tersebut. Kemudian kain merah dan putih itu diselipkan pada dua tempat secara terpisah. Hingga kalau Belanda menangkap dan menggeledahnya, mereka akan menyangka hanya kain biasa yang kebetulan berwarna merah dan putih.

Setelah penyerbuan tersebut, Soekarno-Hatta dibuang ke Daerah Prapat, di pinggir danau Toba, sebelum akhirnya dipindahkan ke Muntok, Bangka. Sedangkan Mutahar ditangkap dan ditahan di Semarang, hingga berhasil melarikan diri ke Jakarta, ketika mendapatkan status tahanan kota. Di Jakarta ia menginap di rumah PM Syahrir. Ia terus mencari jalan untuk bisa menyerahkan sang saka Merah Putih kepada Soekarno.  Hingga akhirnya ia berhasil berkomunikasi dengan Soekarno, yang memerintahkan agar bendera tersebut diserahkan kepada Sudjono, untuk dibawa kepadanya di rumah pembuangan di Bangka. Sudjono adalah anggota Delegasi dari UNCI (United Nations Committee for Indonesia), satu satunya organisasi yang dibolehkan untuk mengunjungi Soekarno.

Mutahar kemudian menjahit kembali kedua bagian terpisah dari bendera tersebut dan menyerahkan bendera pusaka tersebut kepada Soekarno, melalui Sudjono. Bendera Pusaka tersebut akhirnya berhasil diterima oleh Soekarno.

Hingga akhirnya pada tanggal 6 Juli 1949, Soekarno-Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pusaka kembali berkibar di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta. Dan pada tahun 1949, Soekarno kembali ke Jakarta untuk memangku jabatan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan bendera pusaka kembali ke Jakarta. Dan untuk pertama kalinya setelah Proklamasi, bendera pusaka kembali berkibar pada peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1950.

Siapakah Husein Mutahar?

Nama lengkapnya adalah Husein bin Salim Al-Mutahar, seorang keturunan Arab, yang lahir di Semarang, pada tanggal 5 Agustus 1916.  Ia sempat menempuh pendidikan sarjana bidang Satra Jawa pada Universitas Gajah Mada. Tetapi tidak sempat menyelesaikan pendidikannya, karena ia memutuskan untuk terjun dalam perjuangan kemerdekaan. Pada tahun 1945, Mutahar menjadi Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Jogjakarta dan ikut dalam Pertempuran 5 Hari di Semarang. Ketika Soekarno dalam perjalanan menuju Jogja, ia bertemu dengan Mutahar dan memintanya untuk menjadi ajudan pribadinya dengan pangkat Mayor hingga kemudian dipercaya oleh Soekarno untuk menyelamatkan bendera Pusaka Sang Merah Putih.  

Sebuah cerita menarik, pada tahun 1967 setelah Soekarno lengser dan digantikan oleh Soeharto, menjelang peringatan 17 Agustus 1945, bendera pusaka tidak bisa ditemukan. Dan ternyata masih dibawa dan disimpan oleh Soekarno. Hingga akhirnya Soekarno menyerahkan bendera tersebut untuk dikibarkan kembali pada peringatan 17 Agustus 1967. Untuk memastikan keotentikan dari bendera pusaka tersebut, Soeharto pun meminta Mutahar untuk mengecek apakah bendera itu adalah bendera pusaka yang asli. Karena hanya satu orang yang tahu dengan pasti kecuali Fatmawati, tak lain tak bukan hanyalah Mutahar. Karena ia yang mengetahui dengan baik dan pasti soal bendera tersebut, karena yang mengetahui detail keadaan kain, benang dan titik lubang jahitan pada bendera tersebut.

Pendiri Paskibraka

Mutahar juga sosok dibelakang lahirnya Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka. Ketika menjabat sebagai Ajudan Sukarno, salah satu tugasnya adalah menyusun protokol upacara pengibaran bendera pusaka dalam setiap peringatan Detik-detik Hari Kemerdekaan. Ia kemudian menggagas bahwa upacara tersebut selayaknya dilakukan oleh perwakilan pemuda-pemudi yang mewakili daerah dari seluruh Indonesia.

Dalam buku Berkibarlah Benderaku: Tradisi Pengibaran Bendera Pusaka disebutkan  bahwa Megawati adalah salah satu orang yang pernah penjadi petugas pengibar bendera pada tahun 1963, dan Mutahar merupakan salah satu pelatihnya, yang dipanggil oleh Megawati dengan sebutan Oom Mutahar.

Pada tahun 1967,  Mutahar dipanggil oleh Soeharto, untuk mengatur masalah upacara pengibaran bendera pusaka, yang kita kenal sekarang sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang kita bisa lihat tiap tahun pada tiap sore tanggal 17 Agustus tiap tahunnya di Istana Negara.


Acara Pelantikan Husein Mutahar (jas putih berkacamata) sebagai Duta Besar Vatikan oleh Presiden Suharto pada tanggal 1 Maret 1969 di Istana Negara. Foto koleksi Perpustakaan Nasional RI

Perginya Sang Pejuang  

Mutahar seorang polyglot dengan menguasai 8 bahasa selain Bahasa Indonesia, ia juga salah satu pendiri Kepanduan Indonesia dan pernah menjadi Duta Besar RI di Tahta Suci (Vatikan) dari tahun 1969-1973. Jabatan terakhirnya adalah sebagai Penjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974)

Selama hidupnya Mutahar tidak pernah menikah dan memiliki 8 anak angkat.  Dan pada hari Rabu, tanggal 9 Juni 2004, pukul 16.30, dua bulan menjelang ulang tahunnya yang ke-88, sang pejuang meninggal dunia.  Mutahar mendapatkan anugerah dua bintang kehormatan, Bintang Mahaputera atas jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka dan Bintang Gerilya atas jasanya bergerilya tahun 1948–1949.

Seperti sahabatnya AR Baswedan, walaupun ia berhak untuk dimakamkan di Makam Taman Pahlawan, ia berwasiat agar dikuburkan secara sederhana di Taman Pemakaman Umum (TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan) almarhum ingin dikebumikan sebagai rakyat biasa dalam tata cara Islam. Begitulah teladan seorang pahlawan dan pejuang sejati, hanya mengharapkan keridhoan Allah .  

Setiap kali kita melihat bendera Merah Putih, ingatlah selalu dan jangan pernah kita lupakan jasa dan pengabdian para pejuang bangsa, terutama almarhum H Mutahar. Dan bertanyalah kepada diri kita sendiri, apa yang telah dan mampu kita berikan untuk bangsa dan negara kita.

Tentang Penulis

Nabiel A Karim Hayaze

Nabiel A Karim Hayaze

Penulis dan peminat sejarah, penerjemah Arab dan Inggris. Kini direktur Yayasan Menara Center, lembaga kajian dan studi keturunan dan diaspora Arab di Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda