Tafsir

Tafsir Tematik: Keadilan dan Mantan Presiden (2)

Ibu Tien (kiri) sedang menghitung uang pada acara pengumpulan dana "Gotong Royong" untuk bantuan kemanusiaan disaksikan oleh Mbak Tutut (tengah) dan Presiden Soeharto (kanan) (1986) foto : wikipedia
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Pengadilan bukan penghinaan. Dan pengusutan harta Mantan Presiden atau para pejabat bukan karena dendam. Rasa kasihan,  atau hormat, atau pertimbangan akan jasa, juga tidak bisa dijadikan penghalang.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu para penegak keadilan sebagai saksi karena Allah, walau terhadap diri sendiri atau kedua orangtua dan sanak kerabat. Kalaulah ia kaya maupun miskin, Allah lebih hampir dengan keduanya. Maka janganlah turuti nafsu sehingga kamu jadi menyimpang. Adapun jika kamu memutar balik atau menghindar, Allah sangat tahu apa yang kamu lakukan. (Q. 4:135).

Mengusut Soeharto

Namun, satu hal sama: sikap tak pandang bulu yang diberikan ayat ini dalam hal keadilan. Ini keteguhan yang sama dengan yang bisa ditangkap dari sabda Nabi di sekitar dunia keadilan – yang hakikatnya sebuah kritik – yang mengungkapkan tingkah laku manusia (lembaga peradilan) yang menghukum berat orang kecil untuk kesalahan mereka, sementara membiarkan orang-orang terhormat yang durjana lolos dari hukuman. Bila itu beliau katakan sebagai faktor yang menyebabkan  “hancurnya umat-umat sebelum kamu”, kita pun paham mengapa sebuah rezim, juga di Indonesia pada akhir abad ke-20, tumbang oleh uap busuk praktek-praktek ketidakadilan yang hanya menyebarkan dendam di lapis menengah ke bawah bersama keruntuhan akhlak sosial di lapis menengah ke atas. Dengan itu, pada kedua lingkungan yang luas tersebut kepercayaan kepada pemerintah sebenarnya sudah lama runtuh dari sendinya. Tinggal lagi kegarangan tentara.

Karena itulah keadilan harus ditegakkan – dengan keras, menurut ayat di atas. Sangat khas, karena itu, kalimat penutup hadis Nabi tersebut: “Demi Dia yang diriku di Taangan-Nya, sekiranya Faitimah binti Muhammad mencuri, aku potong juga tangannya.” (Riwayat Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasa’i, dan ahmad). Tentu saja itu tidak terjadi. Tapi, dan ini benar, sebuah rakyat yang rusak moral bisa dipastikan akan tersentak bila tiba-tiba mendapati sebuah teladan-dan teladan yang keras-datang dari lapis atas. Sebuah uswatun hasanah, teladan bagus, akan menyebabkan nurani menguat dan banyak dari mereka yang selama ini rapuh atau ragu-ragu akan mendapatkan kembali milik berharga mereka yang selama ini hilang: kepercayaan.

Bagaimana bisa tokoh seperti H.R. Dharsono, seperti juga Mohammad Natsir  pada masa Bung Karno, meringkuk di bui demikian lama? Sementara Edy Tansil dengan nyaman melenggang ke luar penjara? Atau burononan seperti Djoko Tjandra bisa keluar-masuk Indonesia secara leluasa?”

Itulah rahasianya mengapa, dalam kasus Indonesia pascareformasi, terdengar tuntutan untuk mengusut harta kekayaan manta presiden RI Soeharto, keluarga, sanak kerabat, dan para kroninya — yang untuk sebagiannya dituruti. Bukan karena dendam — sebagaimana juga rasa kasihan, barangkali, atau hormat, atau pertimbangan akan jasa mantan presiden itu (yang toh bisa diperdebatkan) tidak boleh dijadikan dalih penghalang. Dalam kasus Bani Ubairiq di muka, bisa saja sebenarnya Nabi s.a.w. tidak menghukum mereka dengan mempertimbangakan keadaan mereka. Tapi, tidak. Hukum tidak memandang miskin atau kaya, sebagaimana juga tidak pernah memandang jasa, kalaupun ada. Kalau saja Nabi memilih kebijaksanaan itu, yang beliau tumbuhkan tak lain budaya “semua bisa diatur” (seperti yang kita miliki pada hari-hari kemarin), alias pembukaan pintu bagi masuknya kekuatan lain yang menguasai hukum. Dan itu, pada akhirnya, politik.

Itulah yang terjadi pada hari-hari kemarin ketika “kepentingan negara” (yang sebenarnya kepentingan kekuasaan memaksa hakim mengerahkan semua pelajaran sekolahnya untuk memvonis berat para oposan demi memenuhi majikan. Bagaimana bisa tokoh seperti H.R. Dharsono, misalnya, meringkuk di bui demikian lama? Seperti juga Mohammad Natsir, pada masa Bung Karno? Sementara Edy Tansil dengan nyaman melengang ke luar penajra? (Atau burononan seperti Djoko Tjnadra bisa keluar-masuk Indonesia secara leluasa? ed). Itulah pula yang terjadi di hampir semu negra yang mengalami peruahan plitik drastis. “Raja-raja, bila menduduki suatu negeri, mereka rusakkan dan mereka jadikan orang-orang mulianya hina dina. Begitulah mereka perbuat.” Itu keluhan Bilqis, ratu Sheba (Q.. 27:34). Bersambung      

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Panji Masyarakat, 30 September 1998.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda