Cakrawala

Kiai Rifa’i : Petani Peradaban

Apa niatmu mendirikan pesantren, Rifa’i?”, tanya Kiai Imam Zarkasyi.  Dengan tenang Rifa’i muda yang kala itu belum menikah menjawab; “Ibadah, kiai.  Atas niat ibadah”. Jawaban itu membuat senang sang guru, lalu ia memberi restu.

Sepenggal kisah di atas adalah episode awal bagaimana seorang Kiai Ahmad Rifa’i Arief memulai kiprahnya membangun pesantren. Pesantren itu bernama Daar el Qolam, di Tangerang. Pondok Pesantren La Tansa, Sekolah Tinggi La Tansa Mashira di Lebak dan Pesantren Wisata La Lahwa di Labuan.  Semuanya berada di tanah para ulama dan jawara: Banten.

Kehebatan dari sosok Kiai Rifa’i tampak dari visi dan gagasannya yang bernas nan tajam, dalam membangun sistem pendidikan pesantren modern di Banten. Sampai-sampai seorang cendekiawan Banten, Prof. MA. Thihami, mengatakan.”Bobot visinya melesat jauh melebihi kapasitas fisiknya”.

Pujian di atas bukan tanpa alasan. Di sudut kampung ia membangun peradaban (Daar el-Qolam). Di antara dua lembah yang jauh ia memberi ruh dan energi (La Tansa). Di tepi pantai ia membelai jiwa-jiwa yang kering agar tumbuh selaras dengan raga yang subur (La Lahwa).

Namun, sirah perjuangan beliau merintis pesantren, bukanlah kisah tanpa peluh. Perjuangannya memberikan pesan; “Kesuksesan tak semudah membalikan telapak tangan. Kesuksesan adalah jalan panjang yang terjal, berliku dan berbatu”.

Ahmad Rifai lahir di Gintung, 30 Desember 1942. Putra pertama dari 12 bersaudara. Ayahnya, H. Qosod Mansyur, adalah seorang guru pada Madrasah Ibtidaiyah Masyariqul Anwar, Gintung, Tangerang. Ia lahir dari rahim Hj. Hindun Mastufah, seorang ibu yang selalu berada di garda depan membantu perjuangannya.

Pada tahun 1959 ia tinggalkan kampung halaman. Ia menuruti perintah ayahnya. Ia memutuskan anaknya untuk mau merambah jalan baru menuju timur Jawa. Pondok Modren Darussalam Gontor menjadi tujuannya. Ditempat itulah ia ditempa dan dibina oleh Kiai Imam Zarkasyi.  Sebelumnya, ia mengaji kepada Kiai Sihabudin Makmun, di Caringin, Labuan.

Di Gontor, Ahmad Rifa’i tergolong murid yang taat dan cerdas.  Pesantren memberinya kepercayaan sebagai ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Gontor. Pada masanya terjadi konflik PII. Lalu Gontor memilih mendirikan organisasi santri yang tidak terikat dengan pihak luar. Berdirilah OPPM (organisasi pelajar Pondok Modern) Gontor.  Dengan demikian, Rifa’i adalah pengurus terakhir dengan nama PII Cabang Gontor .

Usai tamat dari Gontor pada tahun 1965, ia mengabdi di almamaternya. Membantu gurunya mengajar selama 2 tahun.  Setelah itu orang tuanya memanggil untuk pulang ke kampung halaman. Pengalaman belajar dan mengajar di Gontor memberinya banyak inspirasi dalam membangun pesantren. Sambil memimpin pesantren, ia juga memperkuat ilmunya di IAIN Serang (UIN SMH Banten). Salah satu gurunya di kampus itu adalah Prof. Abdul Wahab Afif.  

Berawal dari keinginan ayahnya, H. Qosod Mansyur yang ingin di kampung Gintung ada sekolah tingkat menengah.  Supaya alumni madrasah itu dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itulah ia memerintahkan Rifa’i membangun pesantren seperti Gontor.

Keinginan ayahnya ia turuti. Sang ayah berjibaku menyiapkan sarana pesantren. Sedangkan Rifa’i menyiapkan sistem dan kurikulumnya. Keduanya bahu membahu mewujudkan impian dengan niat ibadah, untuk mengangkat harkat dan martabat anak-anak di desanya. Agar mereka berbekal  ilmu dan akhlak mulia.

Pada masa awal membangun pesantren, Kiai Rifa’i tak punya kemampuan finansial yang memadai.  Apalagi setelah kematian sang ayah pada tahun 1976, membuatnya berjuang seorang diri. Modal besarnya adalah tekad dan kemauan yang kuat. Meski sebelumnya,  neneknya menghibahkan 1 hektar tanah dan dapur tua milik ibunya ia jadikan tempat belajar. Santri pertamanya berjumlah 22 orang. Tak lain adalah adik-adiknya, saudara, dan anak-anak di kampungnya.

Pada masa-masa awal ia merintis pesantren, sang guru, Kiai Imam Zarkasyi datang berkunjung. Kala itu fasilitas dan sarana pesantren masih sangat terbatas.  Santri yang belajar pun masih sedikit. Deras hujan menyambut kedatangan Kiai Zarkasyi. Di saat itulah ia berdoa, “Semoga jumlah santri di pesantren ini, sederas hujan yang turun hari ini,” demikian doa yang meluncur dari mulut Kiai Zarkasyi.

Jejak langkah Kiai Rifa’i tersebar di Banten. Tidak hanya pesantren yang ia bangun, yang saat ini menjadi tempat berlabuh ribuan santri menimba ilmu. Tapi juga puluhan pesantren yang dibangun oleh alumninya. Ia melebihi seorang pemimpin. Sebab ia menciptakan banyak pemimpin. Sejumlah murid-muridnya menjadi pemimpin pesantren di berbagai wilayah di Tanah Air.

Pesantren Dar El Qolam Gintung Tangerang

Lebih kurang 30 tahun ia berkiprah membangun pesantren. Sepanjang waktu ia curahkan tenaga dan pikirannya untuk membesarkan Daar el-Qolam. Ijtihadnya memberikan terobosan dalam membangun sistem pesantren modern. Ia berani menempuh cara yang berbeda dengan almamaternya dalam merintis pesantren. Tapi, tidak sedikitpun mengurangi rasa hormat kepada almamaternya.

Salah satu yang kontroversial adalah keberadaan santri putri di pesantrennya. Baginya, keberadaan santri putra dan putri dalam satu kelas, tak ubahnya seperti orang thawaf di Mekah. Di mana laki-laki dan perempuan thawaf bersama. Jika dalam ibadah mahdah seperti thawaf dibolehkan, maka dalam proses belajar menjadi tidak masalah. Asalkan ada imamnya. Dan imamnya adalah guru sebagai pengawas.

Selain itu, ia juga mengintegrasikan sistem pesantren dengan sistem sekolah/madrasah. Pesantrennya menginduk kepada sistem pendidikan yang dibangun pemerintah, baik yang ada di bawah naungan kementerian pendidikan maupun kementerian agama. Hal itu ia tempuh sebagai salah satu ikhtiar mewujudkan misi pesantrennya: mendidik santri untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, juga untuk memperluas medan juang mereka.

Dalam menyelengarakan sistem pendidikan, menurut Kiai Rifa’i, ada yang boleh berubah dan ada yang tak boleh berubah. Dalam kata lain, ada tujuan perenial yang abadi dan ada tujuan kontekstual yang boleh berganti. Tujuan yang abadi adalah menamankan akhlak mulia dan nilai-nilai kepesantren seperti kedisiplinan dan kemandirian. Sedangkan tujuan kontekstual adalah tujuan untuk memperluas wawasan dan pengetahuan santri. Dan itu boleh berubah, disesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Ia juga meninggalkan karya tulis yang sampai saat ini menjadi buku ajar untuk santri-santrinya seperti Al-fara’id fi fiqh al-Mawarits, ilm fiqih, durus tafsir, ilmu hadits, juga ilmu Sharaf .

Kiai Rifa’i wafat pada hari Ahad, 15 Juni 1997 dalam usia 55 tahun. Meninggalkan seorang istri yang selalu setia menemani perjuangannya, Hj. Nenah Hasanah. Juga 6 orang anaknya yang kini melanjutkan perjuangan sang ayah.

Dan yang tak kalah berharga, ia meninggalkan taman pengetahuan bernama Daar el-Qolam dan La Tansa. Murid-muridnya tersebar diberbagai tempat, berkiprah di masyarakat. Mengisi ruang-ruang sosial yang bervariaso. Hal itu menegaskan terwujudnya visi pesantren yang ia bangun: memperluas medan juang santri.

Jasa, karya, dan kontribusi Kiai Rifa’i dalam membangun pesantren di tanah Banten, menjadikan hidupnya lebih panjang dari usianya. Jasadnya memang terkubur, tapi pemikiran dan gagasannya kian subur dilanjutkan oleh generasi yang hidup setelahnya.  Pesantren yang ia bangun menjadi tempat persemaian manusia agar berilmu dan berakhlak mulia. Ia akan dikenang sebagai petani peradaban yang menanam benih-benih masa depan.

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda