Tafsir

Tafsir Tematik: Keadilan untuk Sejarah (3)

Written by Panji Masyarakat

Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan serta pemberian bantuan kepada karib kerabat, dan mencegah perbuatan keji, kemunkaran dan tindak agresif. Ia mewejang kamu agar mengingat-ingat. (Q. 16:90)

Rintihan Suci

Yang terasa, tapi begitulah bila orang membaca buku-buku Syi’ah, selalu sikap permusuhan bila membicarakan para sahabat yang dimuliakan Allah. Itulah seting mental hitam-putih yang dibangun ideologi ini: Ali, keluarganya, dan sedikit sahabat, yang bagai oara Oandawa, dizalimi mayoritas sahabat dan para istri Nabi, dikepalai Abu Bakr dan Umar. Judul buku Jalaluddin Rakhmat, Rintihan Suci Ahlul Bait, asosiatif melekatkan diri pada sentimentalitas seterotikal seperti itu – untuk hanya sebuah buku doa Syiah. Bahkan Ali Syari’ati mempercayai dongeng fabricated (madhu’) tentang bagaimana Abu Bakr menggebuk Fatimah sampai keguguran. Keadilan di kalangan ini, adalah keadilan dalam rangka “ideologi”.

Dalam pada itu, umat muslimin umumnya menganggap dunia sahabat (dalam persepsi keagamaan, kalau bukan dalam analisis kesejarahan) sebagai kesatuan. Mereka mendoakan raddhiallahu ‘anhum (Allah meridhai mereka untuk semua). Karena tidak ada konsep manusia superman pada mereka (imam-imam yang tak bisa berdosa, keliru atau lupa, praktis perantara antara manusia dan Tuhan, seperti pada Syiah), perbedaan pandangan, pertentangan, bahkan clash antarsahabat tak diingkari kemungkinannya. Sebab, hanya anak kecil yang tidak tahu bahwa antara orang adil dan orang adil bisa pecah perang – karena perbedaan pandangan, luas-sempit wawasan, dan temperamen (lebih-lebih temperamen Arab). Hanya saja mereka semua setia kepada agama – yang tetap tinggal selamat dan tidak “dipakai”.

“Penilaian berbeda mengenai pribadi-pribadi selalu dibolehkan. Yang haram adalah tindakan tak adil. Mengapa keadilan perlu? Karena manSsia sebenarnya tidak pernah sepenuhnya hitam-putih. Dan, karenanya, demikian pula sejarah.”

Karena itu dikotomi Kurawa-Pandawa boleh mempertontonkan kementahannya sendiri: Ali  yang dikatakan berada “di seberang” Abu Bakr dan Umar, justru mengawinkan putrinya, Ummu Kultsum Al-Kubra, dengan Umar. Juga menamai putra-putranya sesudah Hasan, Husein, dan Muhammad ibn Hanafiah (dari istri-istri sesudah Fatimah wafat) dengan nama-nama Abu Bakr, Umar dan Utsman. Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Thalib, kemenakan Ali, memberi seorang putranya nama Mu’awiah, dan seorang lagi Abu Bakr. Mu’awiyah ini lalu memberi nama seorang anaknya Yazid-setelah mendengar kesaksian Muhamad Hanafiah ibn Ali bahwa Yazid ibn Mu’wiyah ibn Abi Sufyan sebenarnya orang baik. (Al-Khatib, Al-Khuthuthul ‘Aridhah, 39-40).

Penilaian berbeda mengenai pribadi-pribadi selalu dibolehkan. Yang haram adalah tindakan tak adil. Dan, Khalifah Umar ibn Abdul Aziz telah membuka gerbang bagi sebuah koreksi besar, terhadap dongeng anak-anak, manusia sebenarnya tidak pernah sepenuhnya hitam-putih. Dan, karenanya, demikian pula sejarah.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Panji Masyarakat, 23 September 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda