Mutiara

Kiai dan Pembersihan PKI

Peristiwa pemberontakan PKI Madiun 1948
A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Sosok Kiai Abdullah Shiddiq, ulama dan aktivis NU, salah satu tokoh utama yang menggalang pembersihan PKI di Jawa Timur. Kiprahnya sudah dimulai pada 1948.

Aksi-aksi sepihak PKI pada 1964 dan 1965 di Jawa Timur mendorong para kiai waspada dan bersiap-siaga. Salah satunya adalah  K.H. Abdullah Shiddiq yang dikenal keras terhadap PKI. Jauh sebelum itu, saat pemberontakan FDR/PKI di Madiun ditumpas pada akhir 1948, Kiai Abdullah dan beberapa kiai aktif melakukan pembersihan sisa-sisa anggota FDR/PKI yang melarikan diri ke Jember. Setelah Gerakan 30 September 1965, dia juga ikut aksi anti- PKI di Jember dan sekitarnya. Dalam satu dokumen Intelijen Angkatan Darat pada tanggal 30 November 1965 tentang pemetaan sikap politik orang-orang pesantren terhadap PKI di Jawa Timur, K.H. Abdullah Shiddiq disebut sebagai salah tokoh utama yang menggalang dukungan untuk pembersihan PKI di Jawa Timur. Pada waktu itu ia menjadi Ketua Pimpinan Wilayah NU Jawa Timur.   

Pengasuh Pesantren Kiai Shiddiq di Jember, Jawa Timur, ini  .selain sebagai ulama, ia juga berperan sebagai komandan Laskar Sabilillah-Hizbullah Jember di masa Revolusi Kemerdekaan. Lahir di Jember pada 1922, Abdullah adalah putra keempat dari pasangan K.H. Muhammad Shiddiq (Mbah Shiddiq) dan Nyai Hj. Siti Maryam. Kakak kandung pertamanya, K.H. Machfudz Shiddiq, pernah menjadi Ketua Umum PBNU pada  1940 sampai 1945. Sedangkan adiknya, K.H. Ahmad Shiddiq, adalah Rais Am PBNU periode 1984-1991.

Sejak usia 12 tahun Abdullah Shiddiq ditinggal wafat oleh ayahnya, dan kemudian diasuh oleh kakaknya K.H. Abdul Halim Shiddiq. Putra kedua Kiai Shiddiq ini dikenal punya kepribadian pemberani dan keras dalam pendirian, yang kemudian ditanamkan kepada adiknya hingga dewasa. KAbdullah lalu dikirim ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur,  berguru pada K.H. Hasyim Asy’ari, dan belajar di Madrasah Nizhamiyah yang diasuh K.H. Wahid Hasyim. Dari yang terakhir ini, Abdullah banyak menimba ilmu secara langsung tentang kepemimpinan dan pengorganisasian masyarakat. Termasuk pelajaran berorganisasi dalam NU dan kelaskaran.

Sepulang dari Tebuireng (1945), Abdullah membantu kakak iparnya, K.H. Dzofir Salam, mengurus Pesantren Talangsari, Jember, Jawa Timur. Dalam situasi perang memperjuangkan kemerdekaan, Abdullah terlibat aktif dalam Laskar Sabilillah di Jember, bersama kakaknya, Abdul Halim, dan kakak iparnya,  Dzofir Salam. Kedua kiai terakhir ini adalah pengasuh pesantren Talangsari, Jember dan juga pendiri Laskar Sabilillah-Hizbullah di Jember beberapa bulan menjelang Proklamasi Kemerdekaan.

Agresi militer Belanda pada 1947 yang  menduduki Kota Jember mendorong Abdullah memobilisasi para laskar untuk pertahanan rakyat. Pada 25 Agustus 1947,   bersama para tokoh agama di Jember dia membentuk Pusat Pimpinan Perjuangan Rakyat (PPPR). Dia memegang posisi kepala keamanan dengan nama samaran Pak Jimun. Nama samaran ini – diperoleh Kiai Abdullah dari nama gembong penjahat yang terkenal di Jember saat itu – dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan agar tidak mudah dilacak dan diketahui oleh pihak musuh. Untuk konsolidasi kekuatan bersama sehingga efektif menghadapi musuh, PPPR bersama sejumlah laskar (seperti Resimen III Laskar Hizbullah dan Batalyon Elang Mas) bergabung menjadi Resimen Mujahidin yang meliputi daerah Keresidenan Besuki dan berpusat di Jember. Dan Kiai Abdullah menjadi salah seorang komandan dalam resimen ini.

Dalam sejumlah pertempuran di garis depan, Kiai Abdullah Shiddiq dikenal pemberani dan tak gentar akan bahaya maut. Dalam sebuah pertempuran di pinggir Sungai Balung, Jember, Kiai Abdullah tampil sendirian berdiri sambil menembak tentara Belanda hingga banyak yang tewas. Anehnya peluru musuh tidak satupun melukainya.

Kiai Abdullah pula bersama para kiai dan komandan laskar mengambil inisiatif pada 30 Desember 1947 untuk melakukan serangan umum terhadap pos-pos strategis tentara Belanda di kota Jember,  Ambulu, Rambipuji dan Kencong. Hari itu mulai pukul 10 pagi, para pejuang bersama ribuan rakyat memakai ikat kepala berwarna merah-putih bahu-membahu menyerang target musuh, merusak jembatan dan menebang pohon. Sehingga tentara Belanda pada hari itu juga lumpuh dan sebagian melarikan diri.

Selain aktif dalam perjuangan kemerdekaan,  Abdullah Shiddiq juga aktif dalam partai politik. Ketika partai-partai politik dibentuk di bulan Oktober 1945, dia  bergabung ke Partai Masyumi yang merupakan satu-satunya partai representasi umat Islam Indonesia dan waktu itu dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari. Melalui jalur Masyumi ini pula dia   masuk menjadi anggota DPRD Sementara Kabupaten Jember pada 1950 sampai 1955.

Pada  1960-an K.H.  Abdullah Shiddiq  memimpin NU wilayah Jawa Timur selama beberapa periode. Usai Pemilu 1971, dia  terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Timur mewakili Partai NU. Ketika Partai NU berfusi dengan partai-partai Islam lainnya menjadi PPP (Partai Persatuan Pembangunan), dia terpilih kembali sebagai anggota DPRD Jawa Timur hasil Pemilu 1977 hingga akhir hayatnya.

Kiai Abdullah Shiddiq wafat pada 1982 dan dimakamkan di Pemakaman Turbah Condro, Jember.

Sumber: Afton Ilman Huda,  Revitalisasi Kebijakan Tata Kota Jember melalui Konsep Pembangunan Berbasis Historis Kultural ( 2006); .Jurnal Indonesia, No. 41, April 1986, hal. 136-149.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda