Tafsir

Tafsir Tematik: Kebajikan Mengiring Keadilan (2)

Sesungguhnya Allah memerinthkan sikap adil dan kebajikan  serta pemberian bantuan kepada karib kerabat, dan mencegah perbuatan keji kemungkran dan tindak agresif. Ia mewejang kamu agar kamu mengingat-ingat. (Q. 16:90).

Adapun “pemberian bantuan kepada karib kerabat”, dalam ayat, merupakan penambahan hal yang dianjurkan (mandub) kepada hal yang wajib – penambahan ihsan kepadakeadilan. Bahwa perhatian kepada para kerabat, yang sebenarnya sudah termasuk ihsan perlu disebut tak lain karena hak-hak kerabat memang lebih diwanti-wantikan – sebagai penekanan satus hubugan berdasarkan kandungan (rahim), yang pecahan namanya (dari r-h-m) dipakai  Allah sebagai namanya (Rahman, Rahim), dan yang hubungan dengannya dimasukkan Allah ke dalam hubungan dengan Diri-Nya. (Qurthubi, loc.cit.). Itu pula sebabnya, sabda Nabi, “Perbuatan kesalehan yang paling cepat pahalanya adalah silaturahim.” (Nawawi, loc.cit.). Bukan nepotisme. Yakni pemberian kepadafamili sesuatu yang bukan hak mereka, atau dengan merugikan orang lain atau secara tak pantas.

Di sini tidak usahlah kita, kiranya, mempertimbangkan pendapat yang disandarkan kalangan Syi’ah kepada imam mereka. Konon imam-imam itu menfsirkan karib kerabat dalam ayat di atas sebagai kerbat Nabi s.a.w., sedangkan berbuat baik kepada mereka berarti menyerahkan khumus, seperlima penghasilan seperti yag disetorkan kepada imam dan para wakil – yang hanya merupakan bagian dari usaha mencari sandaran keabsahan aliran dengan penafsiran ayat, karena tidak mungkin teksnya. Thabathaba’ sendiri meletakkan tu sebagai pendapat tambahan. Alternatif lain, karib kerabat  (dzul qurba) itu “umum untuk semua kerabat, seperti yang mereka (pra mufasir)sebutkan.” (Thabathaba’i, op.cit.,:353)

Menyantet Nabi

Perbuatan keji, dalam terjemahan di atas, adalah salinan al-fahsya’: semua hal buruk, ucapan maupun perbuatan. Ibn Abbas berpendapat, fahsya’ di situ berarti zina. Sedangkan “kemunkaran” (al-munkar) adalah semua yang diingkari Syariat. (Qurthubi, loc.cit.). Bagi Sayid Quthub, munkar disebut begitu  karena ia “diingkari fitrah” (dalam definsi Abul A’la Maududi: hati nurani; pen)  dan karena itu diingkari Syariat.”Fitrah terkadang menceng, sementarayang tetap adalah syariah.” (Quthub, Fi Zhilalil Quran,  IV:219). Sebagian orang mengartikan munkar dalam ayat itu sebagai syirik.

“Ajaran Ihsan mengatakan bahwa yang utama bagi si teraniaya ialah justru mengunjukkan syukur kepada Allah atas jaminan pertolongan itu, dan menyambutnya dengan perbuatan maaf kepada yang berbuat… Inilah yang dilakukan Nabi s.a.w. kepada orang Yahudi yang menyantetnya”

Sedangkan ‘tindak agresif’ adalah salinan kita untuk al-baghy. Arti asilinya: keangkuhan, kezaliman, dendam, dan pelanggaran batas hak. “Hakikatnya pelanggaran bats itu,” kata Qurthubi 9loc.cit). karena itu Al-Baidhawi mengartikan al-bghy langsung sebagai tindakan “mengalahkan, mengusai, dan memaksa orang” (Baidhawi, Anwarut Tanzil, II:190) – dengan pelakunya disebut al-baaghii atau baaghin; jamaknya bughat, yang sebagai istilah politik berarti pemberontak.

Kalau kita lihat definsi-definsi di atas, kita jumpai pengertian-pengertian umum dan kusus. Yang umum adalah al-munkar. Ini adalah istilah yang menjadikan syariat – pengingkaran maupun penerimaan oleh syariat – sebgi ukuran. Kemudian, kemunkaran yang berbau kejorokan, di sekitar zina, tuduhan zina, dan seterusnya, disebut al-fahsya’. Sedangkan yang dari jenis agresi, tapi juga keangkuhan dan dendam (yang aktif) disebut al-baghy. Bedanya baghy dengan zhulm (kezaliman) bisa kita pikirkan: yang pertama untuk istilah perbuatan, yang kedua untuk nilai perbuatan itu.

Adapun masih dperlukannya penyebutan baghy oleh Allah, sementara sebenarya sudah termasuk ke dalam pengertian munkar, kiranya bisa dimengerti dari sabda Nabi s.a.w.: “Tidak ada dosa yang lebih cepat penghukumannya dibanding baghy (bisa diartikan ‘kezaliman’).” Allah Sendiri berjanji memberi bantuan kepada yangdizalimi (dalam satu hadis: “walaupun tidak sekarang”; pen).

Bukhari memuatkan hadis Aisyah r.a. tentang peristiwa tenung – yang diperbuat Labidibn Al-A’sham terhadadap Nabi s.a.w. Itu diletakkannya dalam “Bab firman Allah Ta’ala, ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan….danmencegah perbuatan keji, kemungkaran dan tindak agresif’,” dan seterusnya. Di situ dimuat kalimat Rasulullah (setelah santet selesai): “adapun Allah Ia telah menyembuhkan aku. Adapun aku sendiri tak hendak mengenakan kejahatan kepada orang.”

Dengan demikian satu kesimpula bisa ditarik, menurt Qurthubi: ayat “Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan…” itu menganjurkan berbuat ihsan kepada si pembuat kejahatan, dan bukan membalasnya.

Begitulah,  ketika Allah memberi tahu para hamba-Nyabahwa akibat buruk tindak agresif itu akan pulang kepada pelakunya (dengan ayat “Sesungguhnya kezaliman kamu itu terhadap diri kamu sendiri”), dan berjanji akan menolong pihak teraniaya, ajaran Ihsan mengatakan bahwa yang utama bagi si teraniaya ialah justru mengunjukkan syukur kepada Allah atas jaminan pertolongan itu, dan menyambutnya dengan perbuatan maaf kepada yang berbuat. Demikianlah yang dilakukan Nabi s.a.w. terhadap si Yahudi penyantet. Padahal beliau punya hak balas, berdasarkan firman “Dan jika kamu membalas, balaslah secara sepadan dengan yang ditimpakan kepada kamu,” (Q. 16:126). Tetapi beliau menunjukkan kelapangan dada, menurut firman-Nya (Q. 42:43): “Tetapi orang yang bersabar dan mengampuni, yang demikian itu termasuk perkara yang benar ditekankan.” (Lihat Qurthubi, op.cit.,:167).***         

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Panji Masyarakat, 16 September 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda