Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi, Salman Al-Farisi (6): Parit dan Orang Persia

Salah satu sudut kota Ishafan Iran, tempat kelahiran Salman Al Farisi
Hamid Ahmad
Ditulis oleh Hamid Ahmad

Rasulullah sendiri tiap hari berdoa meminta pertolongan Allah: Senin, Selasa, dan Rabu. Pada Kamis dataglah pertolongan itu. Tiba-tiba datang angin topan yang amat dahsyat, yang menjungkirbalikan bejana makanan tentara Ahzab (padahal ransum mereka sangat terbatas), memporakporandakan kemah-kemah, dan menjungkalkan kuda-kuda mereka. moral berperang pasukan musuh langsung merosot drastis, bahkan Abu Sufyan sendiri dilanda ketakutan. Ya, dalam keadaaan begini, biasa saja tiba-tiba musuh sudah ada di sampingnya. Siapa bisa mendeteksi? Mereka memilih mundur teratur kembali ke Mekah.

Padahal, seandainya terjadi penyerangan (dan Allah Mahatahu), di atas kertas tentara Islam akan lumat. Sebaliknya, kegagalan itu membawa hikmah yang besar di sisi kaum muslimin. “Tidak akan menyerang kalian orang-orang Quraisy setelah hari ini, dan (inisiatif) penyerbuan ini  punya kalian,” Nabi bersabda. Itulah yang terjadi. Dengn demikian, jasa Salman Al-Farisi sebagai pencetus ide pembuatan parit sangat besar.

Namun, betulkan gagasan itu berasal dari Salman? Buku-buku sejarah, termasuk Hyatu Muhammad karangan Haekal, menyebut seperti itu. Tapi, J. Horovitz meragukan. Sebab menurut dia, catatan-catatan awal mengenai Yaumul Khandaq (Perang Parit) tidak menyinggung sama sekali peranan Salman – suatu hal yang terlalu penting untuk diabaikan. Hadis-hadis pada bagian Salman Al-Farisi dari kitab Ath-Thabaqtul Kubra, juga tak ada yang menyinggung peranan tersebut.

Pertanyaannya, kalau begitu, lalu usul siapa proyek pembangunan kanal itu? Sebagai rasul yang punya hotline dengan Allah, bisa saja Nabi yang meluncurkan gagasan itu. Namun, sebagai manusia biasa, tipis kemungkinan itu. Soalnya, Nabi kan tidak pernah berhubngan atau punya kontak dengan Persia. Lagi pula, untuk urusun duniawi seperti perang, Nabi selalu mengajak musyawarah . “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian – Antum a’lamu umura dunyakum,” demikian beliau bersabda. Sering beliau yang cerdas (fathanah)memunculkan siasat perang yang brilian, seperti menempatkan pasukan pemanah dalam Perang Uhud. Tetapi tak jarang pula beliau menggunakan ide orang lain. Nabi, dari sudut pandang ini, adalah seorang pemimpin yang efektif.

Mungkin juga ada di antara  sahabat yang pernah berhubungan dengan Persia dan mengenal taktik itu. Namun seharusnya bukan hanya para sahabat. Orang-orang Arab lain pun mestinya punya peluang yang sama untuk mengetahui siasat  yang mereka cap pengecut itu. Toh, selain dalam Perang Khandak, taktik yang sebenarnya tidak sejalan dengan jiwa berangasan orang Arab, yang sangat membanggakan keeranian dan otot, itu tidak penah dipakai. Nayatanya pula tentara Quraisy tak mampu mengantisipasinya.

Jadi, kita hanya mereka-reka. Kita bisa saja menduga, mungkin Nabi atau salah seorang sahabat mencetuskannya sebagai ide brilian yang segar, yang tanpa preseden. Tapi kalau begini, mestinya Salman Al-Farisi memiliki peluang paling tinggi karena dia orang Persia – bahkan satu-satunya orang Persia di kalangan para sahabat. Apalagi dia anak seorang tokoh penting (dihqan) di Persia, meski hanya pada tingkat desa, yakni Desa Jai (atau Jayan) dekat Isfahan, yang sekarang menjadi bagian dari Iran.***.                      

*Ditulis bersama Emat Suhimat. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 12 Agustus 1998.  Suhimat pernah bekerja di bagian riset dan dokumentasi majalah ini, dan kemudian bermukim di Jepang selama beberapa tahun. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat, menjadi wirausahawan.   

Tentang Penulis

Hamid Ahmad

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda