Tasawuf

Indonesia : Taubat Atau Ditaubatkan

Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

“Sebenarnya kita tidak sepenuhnya tidak tahu apa yang nanti bakal terjadi; karena sebagiannya bisa diperkirakan berdasar fakta dan data yang tersedia. Seseorang yang secara berulang terus menerus mengonsumsi makanan tidak sehat misalnya; bisa diperkirakan dalam waktu tertentu, kurang lebih lima sampai sepuluh tahun kemudian, akan mengalami masalah kesehatan yang cukup serius. Ibarat mengonsumsi racun sedikit demi sedikit; dampaknya baru terasa bila akumulasi racun di tubuhnya sudah melewati kadar tertentu,” jelas Pak Amal.

Malam itu, Pak Amal datang ke pondok bersama Kyai Anom. Sambil menunggu Kyai Anom yang tampaknya sedang berbincang serius dengan Mbah Sirra, Pak Amal menemani kami di gotha’an. Yang tampak tidak biasa, malam itu sama sekali tak terdengar suara tawa khas Kyai Anom. Suara tawa yang hampir selalu terdengar dan menjadi ciri penyeling pembicaraan mereka berdua.

Menurut cerita dari mulut ke mulut yang konon bersumber dari santri-santri senior, bila dari arah kamar Mbah Sirra tak terdengar tawa meledak-ledak, itu artinya ada sesuatu yang sangat serius sedang atau akan terjadi. Apalagi sudah beberapa waktu, hampir tiap malam mereka berdua diam-diam sowan ke Kyai Sepuh. Seorang Kyai yang sangat alim dan disegani. Namanya dikenal dimana-mana, tapi anehnya hanya sedikit orang yang bisa langsung bertemu dengannya.

“Bahkan, kalau orang sedikit teliti dan waspada; sebelum sampai ke stadium serius, sinyal-sinyal sebenarnya sudah juga dikirim oleh organ-organ tubuh berupa gejala gangguan kesehatan ringan. Tapi, karena sifatnya ringan, orang cenderung mengabaikannya; meski gejalanya acap berulang misalnya. Yang sering terjadi, orang baru mau menyadari tingkat keseriusan ancaman tersebut setelah kondisinya benar-benar kronis; yang acap sekaligus akut pula,” sambung Pak Amal.

“Yang ingin saya katakan: secara umum pada dasarnya manusia bukan tak punya pengetahuan tentang itu semua; hanya saja pengetahuan memang tidak pernah menjadi satu-satunya pemandu tindakannya. Pengetahuan baru mungkin terkristalisasi dan terinternalisasi menjadi pemandu, setelah ia melewati tahapan-tahapan tertentu; salah satunya adalah tahapan pengalaman. Meski tetap ada masalah di sini: pertama, tidak semua orang punya kemungkinan mengalami apa yang diketahuinya. Muskil orang mengalami semua yang diketahui. Yang kedua, tidak semua pengalaman secara otomatis menjadikan pengetahuan efektif sebagai pemandu. Bahkan, ada kecenderungan orang mengulang-ulang apa yang sebenarnya sudah pernah dialami akibat buruknya,” papar Pak Amal lebih jauh.

Kami hanya mendengarkan saja. Belum bisa menduga arah pembicaraan Pak Amal kali ini.

“Ini persis seperti dosa, yang cenderung dilakukan berulang hanya karena orang tak langsung merasakan dampak kerusakannya pada jiwa. Seperti mengonsumsi racun sedikit demi sedikit, dampak kerusakan yang diciptakan dosa pada jiwa pun baru kuat menggejala setelah akumulasinya sampai pada kadar tertentu. Bahkan, kalau boleh dikatakan, dampak merusaknya bisa berlipat kali lebih kuat dan lebih rumit dibanding dampak racun pada tubuh. Salah satu sebabnya, berbeda dengan penggejalaan kerusakan pada fisik yang bisa langsung dirasakan; penggejalaan kerusakan pada jiwa seringkali tak disadari bahkan tak dirasakan oleh penderitanya; sehingga justru punya potensi lebih besar untuk menciptakan kerusakan permanen, bahkan kematian jiwa itu sendiri, di saat secara lahiriah dia masih hidup” jelas Pak Amal.

“Memang benar, manusia masih punya kesempatan memperbaikinya dengan taubatan nasuha; taubat sebenar-benar taubat. Penerapannya: meninggalkan dosa di masa sekarang, menyesali dosa di masa lampau dan tak mengulangnya di masa yang akan datang.  Hanya saja kita sering lupa bahwa taubatan nasuha itu bisa hanya terkait dengan apa yang oleh ulama disebut sebagai hak Allah, bisa juga terkait dengan hak adami alias hak sesama manusia; atau yang paling banyak adalah kombinasi keduanya.”

“Bagi saya pribadi, sebenarnya malah ada hak ketiga yang selama ini tidak pernah disebut, yakni: hak alami, yang mencakup alam, tumbuhan dan binatang. Tindakan tidak bertanggung-jawab, apalagi eksploitasi, terhadap alam jelas masuk kategori dosa. Banyak ayat Al Qur’an dan hadits Rasulullah yang, bukan hanya mengindikasikan, bahkan secara jelas mengkategorikannya demikian. Dalam batas tertentu, hak alami ini memang berimpitan dengan hak adami atau hak Allah, sehingga sering disatukan atau menjadi bagian hak-hak tersebut.”

“Sudah banyak dibahas, bahwa taubat nasuha paling gampang dilakukan ketika yang dilanggar adalah hak-hak Allah, yang secara teknis sering dikaitkan dengan hubungan vertikal ke atas, antara manusia sebagai hamba dengan Allah. Taubat nasuha paling berat dikerjakan ketika yang dilanggar hak-hak adami, yang bersifat horisontal antara sesama manusia. Sementara ketika yang dilanggar hak alami, yang hubungannya bersifat vertikal ke bawah, berat ringannya taubat nasuha kecuali diukur dari kerusakan di alam itu sendiri, juga akan sangat dipengaruhi oleh dampaknya pada manusia, pada terlanggarnya hak adami karenanya.”

“Dari semua ini, jelas terlihat bahwa melanggar hak adami, hak-hak sesama manusia, adalah masalah yang sangat berat dalam pandangan Allah; karena ia menyangkut otonomi atau kedaulatan yang telah diberikanNya kepada masing-masing manusia. Ketika anda melanggar hak orang lain, Allah ‘tidak akan ikut campur’ sampai yang bersangkutan dengan sukarela memaafkan anda.”

“Tentang ini, ada kisah menarik dari khasanah lama. Yakni kisah tentang seorang perampok yang menghabiskan empat puluh tahun usianya untuk bertaubat. Kisahnya, ketika dia mulai bertaubat, dia keliling negeri, menemui orang-orang yang pernah dirampok atau disakitinya. Ada yang dengan mudah langsung memaafkan, tapi tidak sedikit yang baru mau memaafkan dengan berbagai syarat, termasuk misalnya meminta si mantan perampok menggarap ladangnya tanpa bayaran selama sepuluh tahun.”

“Bayangkan untuk kejahatan melanggar hak adami yang dilakukannya selama 5 tahun, ia mulai merampok di usia 25 tahun dan bertaubat di usia 30 tahun; dia harus menebusnya selama 40 tahun. Baru setelah itu, di usianya yang sudah menginjak 70 tahun, dia baru berangkat Makkah untuk berhaji dan menghabiskan sisa hidupnya dengan mulia di sana.”

“Ini menjelaskan bahwa pelanggaran hak-hak adami tidak bisa ditebus dengan apa saja, kecuali oleh keikhlasan pihak yang telah terlanggar haknya. Ia tak bisa ditebus dengan sholat seribu kali sehari semalam, dengan puasa seumur-umur, dengan haji setiap tahun, umroh setiap bulan; sebelum hak yang dilanggar dikembalikan dan pihak yang terlanggar memaafkan!”

“Kalau itu tak juga dilakukan?” tanya Lik Cecep.

“Baik karena yang melanggar tidak menyadari, mau pun karena dia merasa cukup menebusnya dengan haji dan umroh berkali-kali misalnya; apa akibat yang mungkin diterimanya?” sambung Lik Jum.

“Sama seperti yang di awal kita bahas, racun itu akan menumpuk  dan pelahan tapi pasti akan menggerogoti dan merusak dirinya; karena kita tidak menawarkannya dengan taubat nasuha. Itu baru dampak dunianya, belum dampak akhiratnya.”

“Masalah yang sebenarnya ingin saya sampaikan adalah: bagaimana kalau pelanggaran hak adami itu dilakukan secara massif dan sistematis? Bukan hanya oleh perorangan, tapi juga oleh lembaga misalnya. Bisa lembaga apa saja, mulai dari yang paling kecil: keluarga, hingga yang besar seperti pemerintahan dan negara.”

Kami saling berpandangan. Ada rasa ngeri yang tiba-tiba menyelinap diantara kami.

“Tadi, sebelum masuk menemui Mbah Sirra, sepanjang perjalanan Kyai Anom sempat bicara tentang masalah ini. Ada akumulasi racun di negeri ini yang tarafnya sudah sangat mengkhawatirkan, racun yang muncul dari pelanggaran hak adami yang dilakukan secara massif dan sistematis. Hanya tinggal dua kemungkinannya: taubat atau ditaubatkan. Yang kedua bisa sangat menyakitkan, bahkan mematikan. Itu yang sangat ditakutkan oleh Kyai Anom.” ujar Pak Amal memungkasi pembicaraan.

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda