Tafsir

Tafsir Tematik: Kebajikan Mengiring Keadilan (1)

Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan  serta pemberian bantuan kepada karib kerabat, dan mencegah perbuatan keji kemungkran dan tindak agresif. Ia mewejang kamu agar kamu mengingat-ingat. (Q. 16:90).

Abu Thalib, ayah Ali r.a. dan paman yang begitu mencintai Nabi s.a.w., tetap menolak menjadi muslim demi “tenggang rasa” dengan rekan-rekannya pemimpin Quraisy. Tetapi ketika ia diberi kabar: “Kemenakan Anda mengira Allah sudah menurunkan kepadanya: ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan…’,” ia menyahut: “Ikutilah kemenakanku. Demi Allah dia tidak menyuruh kecuali kepada akhlak yang indah.”

Juga, dalam riwayat Ikrimah r.a., Nabi s.a.w. membacakan ayat ayat tersebut kepada Al-Walid ibn Al-Mughirah. Reaksi Al-Walid: “Kemenakanku, coba ulangi.” Maka Nabi mengulanginya. Dan inilah komentar tokoh musyrik Mekah itu: “Demi Allah, ada kemanisan itu. Ada sepuhan. Akarnya kaya, atasnya penuh buah. Itu memang bukan kata-kata manusia.” Al-Walid juga tidak bersedia masuk Islam. (Menurut Al-Ghaznawi, yang membacakan ayat adalah Utsman ibn Mazh’un r.a. – yang juga membacakannya kepada Ali ibn Abi Thalib; baca: “Apa yang Disebut Adil”). (Qurthubi, A-Jami’ li-Ahkamil Quran, X:165).

Profesionalisme

Sesudah keadilan, ayat di atas menyebut kebajikan. Istilah aslinya pada teks, ihsan, sebenarnya memberikan kepada kebajikan itu suatu pengertian tertentu yang khas Islam. Al-Qurthubi (Cordova, abad ke-7 H) membaginya berdasarkan arti kata ke dalam dua jenis. Pertama, ihsan yang terbentuk dari ahsana-yuhsinu sebagai kata kerja transitif-sendirinya (muta’addin binafsih), dan kedua kalau kata kerja itu trasitif dengan kata hubung (muta’addin biharfi jarr. Kata hubung itu ialah kepada. Pemahaman ayat lalu menjadi Allah mencintai kebajikan makhluk yang satu kepada makhluk yang lain. “Bahkan burung dalam sangkar milikmu,’ katanya, “juga kucing di rumahmu, jangan sampai tidak menerima kebajikanmu.” Itu ihsan dalam pengertian kedua.

Tetapi Allah untuk Diri-Nya, tidak membutuhkan kebaikan kita. Sehingga hadis Nabi s.a.w. yang memberi definisi ihsan, yakni “Engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, dan kalau engkau tidak melihat-Nya maka (resapkanlah bahwa) Ia melihat engkau’, tidak mengandung arti kebajikan kita kepada Alah. Itu ihsan jenis pertama, (Qurhubi, ibid.:166-167).

Tetapi ihsan bisa pula diterangkan dengan cara lain – dari segi-segi kuantitas dan  kualitas. Untuk kuantitas, misalnya memperbanyak ibadah sunah, pribadi maupun sosial. Sedangkan dari segi kualitas, selain hadis tentang salat tersebut, ada ungkapan dari pengalaman kehidupan tasawuf: meneggelamkan diri dalam penyaksian maqam-maqam ketuhanan” (Nawawi Al-Jawi, Al-Munir, I:463). Hamka menyebut contoh yang seperti itu sebagai menunjuk kepada “mutu amalan” (Hamka, Al-Azhar, XIV:283).Dan dengan mengorientasikan pengertian ihsan pada mutu, tiba-tiba kita dihadapkan dengan pokok yang lain tetapi sangat relevan: profesonalisme. Ayat Q. 32:7, “(Dia) yang membuat sebagus-bagusnya ya Ia ciptakan”, teks asliya berbunyi “Alladzi ahsana kulla syai-in khalaqah.” Ahsana itu berarti membuat secara, dalam ukuran manusia, profesional – bukan amatiran dan bukan serampangan, yakni  profesionlisme yang menjadi salah satu pokok pendidikan SDM. Bukankah salat yang “seakan engkau melihat Allah” adalah juga salat yang “profesional”? memang, Thabathaba’i misalnya menganggap ihsan yang dimaksudkan ayat di atas adalah “kebajikan kepada orang lain”. Yakni “membalas kebaikan dengan yang lebih baik dan keburukan dengan yang kurang buruk (dalam tafsir-tafsir lain memaafkan) serta berinisiatif dalam jasa kebaikan”. Jadi, “bukan ihsan dalam makna mengerjakan secara bagus” (Thabathaba’i, Al-Mizan, XII:354). Tetapi bukankah ihsan jenis kedua ini pun layak membutuhkan mutu, dan padatingkat tertentu profesionalisme? Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Panji Masyarakat, 16 September 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda