Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi, Salman Al-Farisi (5): Perang yang Membosankan

Hamid Ahmad
Ditulis oleh Hamid Ahmad

Melapor kepada Rasulullah

Kita tahu, tanah Madinah penuh bebatuan sehingga mereka tak cuma mencangkul tanah, tetapi juga tak jarang harus mengampak batu. Ada batu besar yang menonjol dan sulit dijinakkan. Salman pun,  yang memiliki perawakan tinggi-besar dan tenaga kuat, tak sanggup menghancurkannya. Tembilang para sahabat malah menjadi korban, rusak sendiri. Akhirnya Rasulullah turun tangan setelah dilapori Salman. “Mana tembilangnya,” kata beliau. Dihantamkannya tembilang itu dan membubunglah percikan api menerangi sekitarnya. “Allahu Akbar!” pekik beliau, disambut para sahabat. Api kembali memercik pada hantaman kedua, tetapi batu belum hancur. “Allahu Akbar!” Baru pada hantaman ketiga batu itu hancur. “Allahu Akbar!” Lantas kata beliau, percikan api yang membubung ke ufuk itu merupakan tanda bahwa umat Islam akan menguasai Persi dan Romawi serta menerangi Syam (wilayah-wilayah yang kini meliputi Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah)  dan Shanna’ (Yaman). Begitulah, pekerjaan membuat parit dapat dirampungkan dalam waktu enam hari.

Akan halnya tentara Ahzab dan Ghathfan, begitu mereka tidak mendapati pasukan muslim di Uhud, segera bergerak ke selatan. Alangkah kagetnya mereka ketika langkahnya terhalang “jurang”. Begitu dalam dan lebar sehingga tak mungkin mereka menyebrangi tanpa lebih dulu disambut pasukan pemanah yang yang siaga di seberang. Sebuah taktik yang sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiran mereka. “Pengecut!” mereka mengumpat. “Dari mana Muhammad mendapat siasat seperti ini? Sungguh ini siasat yang yang tidak dikenal bangsa Arab sebelumnya,”  kata mereka.

Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melepas anak panah yang kemudian dibalas dengan serangan serupa oleh tentara Islam. Memang ada beberapa tentara Islam yang terluka oleh panah, tetapi serangan itu tidak cukup efektif. Sesekali ada satu oarang yang nekad, berhasil melompati parit, yang kebetulan lepas dari pengawasan tentara muslim. Dialah Amr ibn Abdi Wudd Al-Amiri. Namun akhirnya lelaki tinggi besar yang yang dikenal tangkas ini dirobohkan oleh Ali ibn Abi Thalib, yang kecil dan belasan tahun, dalam satu duel yang “tak seimbang”.

Huyai tentu saja sangat gemas dengan keadaan itu. Bagaimana tidak, kehancuran umat Islam yang sudah di ambang mata tiba-tiba lepas — meski untuk sementara. Ia khawatir, bila keadaan terus berlangsung, tentara Quraisy akan merasa bosan dan tak jadi menyerang. Ia dan kawan-kawan terus membujuk Bani Quraizhah, suku Yahudi Madinah lainnya yang masih berpegang teguh pada perjanjian dengan Rasulullah. Cukup sulit pada awalnya, tetapi mempan pada akhirnya. Maka diaturlah siasat. Tentara Quraisy dan Ghathfan, di bawah komando Abu Sufyan, menyerang Madinah dari luar, yakni posisi mereka sekarang, sedangkan Bani Quraizhah dari dalam kota.

Keadaan tegang itu terus berlangsung hingga sebulan, yang ditingkahi dengan teror sesekali oleh orang-orang Bani Quraizhah. Ini masih diperparah lagi dengan embargo pangan oleh suku Yahudi itu sehingga keadaan kaum muslimin sangat mengenaskan: kekurangan bahan makanan. Sebaliknya, di kalangan tentara Mekah sebenarnya mulai muncul kebosanan. Dipersiapkan secara mental dan perbekalan untuk penyerangan kilat sehari (seperti pada Perang Badar dan perang Uhud), kini mereka harus berkemah demikian lama ditengah cuaca yang menusuk. Maklum, serangan dilakukan pada musim dingin.  Bersambung

*Ditulis bersama Emat Suhimat. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 12 Agustus 1998.  Suhimat pernah bekerja di bagian riset dan dokumentasi majalah ini, dan kemudian bermukim di Jepang selama beberapa tahun. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat, menjadi wirasahawan.   

Tentang Penulis

Hamid Ahmad

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda