Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi, Salman Al-Farisi (4): Dari Mana Datangnya Parit

Penggambaran penggalian parit saat akan terjadi Perang Khandaq. Ide menggali parit datang dari Salman Al Farisi
Hamid Ahmad
Ditulis oleh Hamid Ahmad

Kali ini kau tak akan lari ke mana pun. Sekali libas, Muhammad, lumatlah kau bersama pengikutmu. Berapa prajuritmu? Tiga ribu orang. Kami datang dengan 10.000 prajurit. Masih ada lagi tentara Bani Ghathfan yang membantu penyerangan. Tamatlah riwayatmu dan agamamu.

Keyakinan tentara musyrikin Quraisy Mekah memang sangat kuat. Sebuah serangan besar-besaran dan menentukan akan mereka lancarkan pada tahun kelima hijriah. Alquran menyebut mereka Al-Ahzab atau tentara gabungan karena pasukan mereka berasal dari berbagai suku: Quraisy dan lain-lain. Ini berkat hasutan Huyai ibn Akhthab bersama tokoh-tokoh Bani Nadhir lainnya yang menaruh dendam setelah pasukan mereka berhasil ditumpas tentara  Nabi.

Salah kamu sendiri, Bani Nadhir. Mengapa kamu hendak menohok kaum muslimin dari belakang dan melanggar perjanjian.

Huyai juga berhasil membujuk Bani Ghafthan dengan iming-iming harta: separo kurma dari kebun Khaibar akan diberikan kepada mereka selama setahun.

Bani Nadhir adalah kelompok Yahudi Madinah yang ikut meneken Piagam Madinah bersama Nabi dan kelompok-kelompok komunitas lainnya. Mereka memiliki kebun-kebun kurma di Khaibar, pinggiran Kota Madinah. Mereka mencederai dan mengkhianati perjanjian yang telah disepakati bersama, dan atas pengkhianatan itu mereka pun diusir dari Madinah.

Sepuluh ribu prajurit, sungguh bukan jumlah yang kecil, apalagi dibanding tentara Nabi yang hanya tiga ribu orang. Kepanikan sempat merambat di hati kaum muslimin, seperti dilukiskan Alquran. “Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu (dari atas dan dari bawah lembah) dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan kepada Allah” (Q.S. 33: 10). Tentara Ahzab datang dari luar kota yang lebih rendah dari Madinah sehingga seakan-akan dari bawah lembah, sementara tentara Bani Ghathfan dari dataran yang lebih tinggi seakan-akan dari atas lembah. Mereka lalu bergabung di Uhud dan merasa heran karena tidak mendapati tentara muslim seperti pada perang Uhud dulu.

Akan halnya Nabi, begitu mendengar rencana penyerangan, segera beliau mengajak musyawarah para sahabat, seperti biasa. Bagaimana menghadapi pasukan sebesar itu dengan pasukan dengan pasukan kecil yang bahkan kurang dari sepertiganya? Menyongsong mereka di Uhud dan atau menggangu mereka di Yatsrib (Madinah)? Berbagai ide bermunculan. Ada satu ide yang sangat berkesan di hati Nabi. Itulah ide Salman Al-Farisi, yang baru saja memerdekakan diri dari tangan majikan Yahudi. “Kami dulu kalau sedang khawatir (kalah) bisa menggali parit,” katanya.

Menggali parit? Para sahabat merasa asing. Bukankah itu bisa jadi pertanda bahwa mereka pengecut, tak berani berhadapan langsung dengan musuh? Memang, strategi perang itu di kalangan bangsa Arab, bangsa pemberani yang bisa berperang secara berhadap-hadapan, tetapi di Persia sudah biasa dipakai.

Nabi tak peduli dengan segala sangkaan orang nanti. Perang adalah (adu) siasat, adu otak, dan tidak hanya adu otot. Seperti dalam Perang Uhud, beliau sudah menerapkan strategi yang tepat, dengan menempatkan pasukan pemanah di atas bukit (dan hanya dengan 50 pemanah itu, pasukan musuh yang besar dibuat kocar-kacir).

Penggalian parit pun segera dilakukan secara maraton. Parit yang kelak berbentuk sedikit melengkung seperti anak panah itu membentang dari  daerah peguungan (harrah) di timur (sekarang di atasnya berdiri Benteng Syaikhan) hingga pegunungan di barat (sekarang dekat dengan Masjid Qiblatain) , sepanjang 2.725 meter, lebar 40 dzira’ (1 dzira atau hasta sekitar  65 cm), dengan kedalaman 10 dzira’. Rasulullah membagi-bagi sahabat: setiap 10 orang menggali 40 hasta dengan kapak, cangkul, dan alat-alat lainnya, yang sebagian dipinjam dipinjam dari Yahudi Bani Quraizhah (sebelum mereka terlibat persekongkolan). Nabi tidak hanya memberi komando, tapi juga ikut mencangkul.  Bersambung

*Ditulis bersama Emat Suhimat. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 12 Agustus 1998.  Suhimat  pernah bekerja di bagian riset dan dokumentasi majalah ini, dan kemudian bermukim di Jepang selama beberapa tahun. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat, menjadi wirasahawan.  

Tentang Penulis

Hamid Ahmad

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda