Tasawuf

Hikayat Penggonggong dan Pagar yang Memakan Rumah

Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Santri adalah salah satu gudang hikayat paling kaya. Banyak sumber hikayat yang tersedia. Mulai dari kitab-kitab kuning sampai dengan cerita lisan turun temurun yang diceritakan oleh para kyai. Banyak nilai dan teladan yang bisa ditarik dari hikayat-hikayat semacam ini. Dan, menceritakan hikayat bukan saja menjadi salah satu cara kyai menyampaikan pelajaran; tapi sering juga menjadi cara santri mengisi waktu senggang.

Seperti malam itu, saat kami kehabisan bahan guyon, Kang Sam tiba-tiba berinisiatif menceritakan sebuah hikayat.

“Dahulu kala,” demikian Kang Sam memulai ceritanya dengan bergaya pendongeng ulung, “konon ada hikayat. Ini hikayat yang hampir tak pernah berhenti didongengkan di sebuah negeri yang sejatinya kaya raya. Tanahnya, hutannya, lautnya, tambangnya; alhasil hampir semuanya bisa menjadi sumber kesejahteraan luar biasa, tapi…”

“Tapi apa?” sergah Lik Jum tak sabar mendengar Kang Sam seperti sengaja menggantung cerita dengan tidak segera menyelesaikan kalimatnya.

“Tapi.., ah sudahlah! Bagian yang itu sebaiknya dilompati saja; baik karena sebagiannya ternyata sudah di hapus bentuknya, mau pun karena sebagian lainnya sudah diubah isinya.”

“Lho, sampeyan ini mau cerita hikayat atau bikin teka-teki? Hikayat kok pakai dilompati, dihapus dan diubah segala…” protes Lik Cecep.

“Jangan tergesa memotong cerita,” sahut Kang Sam, “ini hikayat tidak biasa. Untuk menceritakan saja, berderet syarat harus ketat dijaga. Bila satu saja tersenggol; bayangkan, cuma tersenggol lho ya; bahaya di depan mata…”

“O Allah, Kang! Hikayat kok pakai syarat segala!” sergah Lik Jum.

“Jelas, karena ini hikayat khusus. Punya keramat. Semua harus hati-hati. Tak boleh seenaknya menyusun alur. Jangan juga lupa, dengan ajaib konon hikayat ini dahulu kala pernah sukses membuktikan kesaktiannya: menyulap cerdik-cendekia jadi anak TK, orang-orang bijaksana jadi pemain drama, orang-orang mulia jadi pembantu rumah tangga.”

“Kok malah jadi ngeri begitu,” celetuk Giman.

“Harap diketahui, hikayat ini punya penjaga. Baik ghaib mau pun nyata. Pasukan yang hatinya sudah dioperasi. Konon dipindah ke kaki. Tugasnya hanya dua: menjilat dan menggonggong setiap hari.”

“Ini kok malah menggiring imaji…” sela Lik Cecep.

“Salahmu sendiri, gampang diprovokasi. Ketahuilah, hikayat ini butuh kebersihan hati, agar selamat dari penyesatan imaji.”

“Wah, ini angkatan pujangga baru yang lahir kembali,” sahut Lik Jum tergelak.

“Kalau ribut terus, hikayat saya akhiri sampai disini…” sambar Kang Sam berlagak merajuk.

“Mbok jangan gampang tersinggung. Kami serius menyimak kok!” ujar Giman.

“Soalnya memotong-motong sudah menjadi kegemaran kalian. Memotong apa saja. Celakanya, yang kalian potong-potong itu sudah potongan. Bahkan potongan kecil. Jadi semua semakin terpotong-potong, tak lagi bisa dikenali wujud aslinya. Ini cara paling murah mengacaukan pikiran, menghilangkan jejak dan menyembunyikan kebenaran. Fiksi yang kalian bangun dari potongan kecil yang dipotong-potong itu hanya akan mengantar kalian pada kenyataan semu. Yang pada gilirannya, akan mengantar pada pertengkaran antar kenyataan semu; ironisnya yang akan langsung terluka justru wujud nyata kalian sendiri…”

“Hikayat kan juga fiksi, juga kenyataan semu…” potong Lik Cecep.

“Tepat. Itu sebabnya dikisahkan bahwa ia butuh penjaga, juga mantra. Mantra yang harus diwiridkan setidaknya 1.000 kali setiap hari. Konon, kalau ada yang berani mempertanyakan kesahihan sanad mantra ini, apalagi membid’ahkannya; tak perlu menunggu sehari, pasti dirundung soal pribadi.”

“Percayalah, kalau mencari pembandingnya di masa kini, keajaiban hikayat ini mungkin nyaris mirip keajaiban kalung Covid. Bedanya, konon ia tidak dikalungkan di leher, tapi di kepala. Tujuannya: agar otak tak lepas dari tempatnya, apalagi tamasya keliling negeri membaca yang sebenarnya terjadi. Itu tabu yang sejak dini harus dihindari.”

“Kehadiran kalung ini menjadi sangat penting, karena konon fungsinya memberi bingkai baru bagi fakta yang jelas tak semua bisa dikubur di kedalaman bumi. Dengan bingkai ini, bangkai bisa ditampilkan sebagai daging segar sumber gizi. Perampok bisa tampak seperti dermawan yang harus dihormati di tempat paling tinggi. Penipu muncul bak pelindung sejati yang harus dibela sampai mati. Penindas tampil persis pahlawan yang harus disunggi-sunggi. Kebodohan bisa tampak seperti kecerdasan adi kodrati yang harus diyakini setara iman sejati. Dan sebagainya, dan seterusnya. Kalau ini masih juga dipersoalkan, konon cukup satu yang harus segera dikerjakan: baca mantranya. Dijamin siapa pun penyoalnya akan terkencing-kencing melarikan diri.”

“Alhasil, lantas dikisahkan munculnya ungkapan baru: jumbuhing hikayat lan negeri;  menyaingi jumbuhing kawula lan gusti. Hikayat jumbuh dengan negeri. Hikayat sama dengan negeri. Negeri sama dengan hikayat. Mengutak-atik yang satu, sama dengan mengutak-atik yang lain. Menyoal yang satu sama dengan menyerang yang lain. Dan, begitu ada yang menyoal, serentak orkestra mantra bergema di seantero negeri, seperti ada konduktor atau dirijen yang mengomandoi.”

“Kok malah kayak sihir begitu…” gumam Giman.

“Wah, mestinya rakyat negeri tersebut langsung mencari cara meminjam tongkat Nabi Musa alaihi salam…” ujar Lik Jum.

“Atau sekalian meminjam kapak Nabi Ibrahim alaihi salam, agar bingkai-bingkai berhala bisa diruntuhkan…” sambung Lik Cecep.

“Atau langsung saja minta tolong kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Pasti beres semuanya,” celetuk Giman.

“Nanti dulu. Jangan tergesa. Cerita belum selesai,” sahut Kang Sam.

“Jadi, saudara-saudara,” lanjut Kang Sam sambil kembali bergaya seperti pendongeng ulung, “menurut sohibul hikayat, pada saatnya keajaiban hikayat ini kemudian mulai memasuki eranya yang paling ajaib.”

“Konon suatu saat, di musim tak tentu, ada badai dari utara yang memporak-porandakan bumi. Tepat di musim itu, negeri tersebut mulai benar-benar tergantung sepenuhnya pada transfusi darah agar tak mati. Selama ini, kekurangan darah sudah terjadi dan sejatinya sudah pula pada stadium yang bisa memingsankan negeri. Ini selalu coba diatasi secara periodik dengan tranfusi demi transfusi. Banyak rakyat negeri yang tak menyadari, bahwa saat itu, tanpa transfusi, hanya Allah yang tahu bagaimana akhirnya nanti. Celakanya, pasokan darah juga semakin sulit dicari.”

“Wah, ceritanya kok ya yang ngeri-ngeri terus tho…” sela Giman.

“Konon,  musim itu telah pula menyebabkan jubah hikayat sobek di sana-sini. Apa yang selama ini rapat tersembunyi, mulai bisa diintip dari banyak sisi. Para empu mulai saling mengatur ulang kuda-kuda tempat berdiri, bahkan kadang berkelahi mengamankan posisi. Di dalam dan di luar rumah hikayat, mereka berlomba membangun pagar-pagar tinggi. Bersiaga kalau sesuatu terjadi. Untuk mengimbangi, pagar hikayat pun di bangun semakin lebih tinggi. Pagar di dalam pagar di dalam pagar di dalam pagar. Pagar berpagar-pagar yang jumlah dan tingginya semakin lama semakin tak terperi. Pagar-pagar yang selalu dalam kewaspadaan tertinggi. Mengintai. Bukan ke luar, tapi ke rumah itu sendiri.”

Kami menarik napas dalam-dalam. Kali ini Kang Sam benar-benar membuat kami tegang.

“Sementara para penjaga mulai saling gonggong-menggonggong sendiri, sesuai arahan para empu yang tak mau kehilangan kendali, dan mencoba mengukur kekuatan masing-masing posisi. Sebagian malah mulai tampak letih dan kehilangan kepercayaan diri. Sebagian dari mereka mulai berani menyoal kesejatian isi hikayat selama ini. Sebagian yang lain mulai berpikir, jangan-jangan kemarahan dan kebenciannya kepada saudara sendirilah yang selama ini dipelihara dan kemudian dimanfaatkan hikayat untuk kepentingannya sendiri. Kebencian dan kemarahan yang akhirnya membuat mereka tak bisa mengontrol hikayat, tapi malah dikontrol hikayat.”

“Situasi ini mendorong empu yang nyaris putus asa bersepakat untuk mengokohkan hikayat kembali, menjadi satu-satunya pengikat agar tak ambyar digerogoti mereka yang patah hati. Itu artinya koor mantra harus mulai digemakan lagi. Tentu saja peristiwa dibutuhkan sebagai pijakan memulai. Itu bukan soal sulit, dan dosisnya bisa diukur dengan presisi. Persis obat, ia bisa diracik sehari tiga kali; diminumkan bila yang pusing sudah menumpuk, dan kepala dengan kepala siap dibenturkan kembali. Ini keajaiban paling ajaib di negeri ajaib. Tapi…”

Bukannya melanjutkan cerita, Kang Sam malah langsung menata bantal dan bersiap tidur. Kami saling pandang satu dengan yang lain.

“Kok, tapi lagi?” protes Lik Jum.

“Lho, apa ini maksudnya?” tanya Lik Cecep.

“Jangan tanya saya. Saya sendiri tidak tahu. Saya sekadar menceritakan ulang apa yang pernah diceritakan kawan. Itu saja!” jawab Kang Sam dengan malas-malasan.

“Cuma segitu?” cecar Lik Jum.

“Cuma segitu! Tepat di bagian itu ada telpon masuk. Tampaknya soal mendesak. Dia berjanji hikayatnya akan dilanjutkan bila bertemu lagi. Setelah itu, dia buru-buru menghilang. Sampai hari ini belum bertemu lagi. Biasanya sih dia nongol paling lambat dua atau tiga bulan sekali.”

“Nanti dulu, saya malah jadi bingung, ini sebenarnya hikayat apa?” tanya Giman kebingungan.

Kami ikut-ikutan Kang Sam, menata bantal dan langsung tidur.

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda