Tafsir

Tafsir Tematik: Keadilan atau Kehancuran (2)

Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan  serta pemberian bantuan kepada karib kerabat, dan mencegah perbuatan keji kemungkaran dan tindak agresif. Ia mewejang kamu agar kamu mengingat-ingat. (Q. 16:90)

Muhammad Abduh, dalam pada itu, menunjukkan isi lain dari pengertian pertama itu. “Engkau boleh berkata,” katanya, “keadilan adalah ungkapan untuk penyampaian hak kepada yang empunya lewat jalan-jalan yang lebih dekat.” Sampainya hak itu berarti sesuainya  keadaan dengan yang semestinya itu. Seorang hakim, misalnya, bisa memperlambat penimbangan keputusan semata karena mengikuti formalitas atau kebiasaan yang sebenarnya tidak ada hubunganya dengan penegakan keadilan. Atau tidak menerima kesaksian yang tidak dilakukan dengan lafal-lafal tertentu, walaupun dengan kata-kata yang lain sebetulnya sudah jelas kebenaran yang dicari. Atau menunda-nunda keputusan sampai sesudah berakhirnya masa peradilan – dan menyebabkan pengajuan perkara (kalau peraturannya sama dengan di Indonesia), “batal demi hukum”. ‘Apakah hakim yang seperti itu penegak keadilan?” tanya Abduh, dalam pengajian tafsirnya. Maka menggeremanglah para hadirin: “Tidak. Tidak.”

“Kalau kita sudah mengetahui hal ini, lalu kita amati peradilan yang berlaku dewasa ini,di sekeliling kita, apakah kita lihat semuanya itu berjalan di atas landasan keadilan?”

“Tidak. Tidak.”

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Bila urusan diserahkan kepada yang bukan orangnya, tunggulah saat.” Yakni saat kiamat umat, karena setiap umat mempunyai waktu kehancurannya.”

Kita lihat, demikian Rasyid Ridha, mahkamah-mahkamah syariah kita (di Mesir, di perempat pertama abadke-20) mensyaratkan, dalam pengajuan tuntutan dan persaksian, syarat-syarat dan lafal-lafal tertentu – seperti pemkaian kata “ini” atau “yang sudah tersebut”, atau menyebut uang tunai dan negeri tempat berlakunya uang itu, walaupun semua itu sudah dipahami dari pembicaraan, tanpa perbedaan penangkapan pada si hakim maupun lawan. Inilah istilah-istilah yang justru banyak sekali menghadang keadilan: tiba-tiba saja tuntutan ditolak sejak dari pangkalnya, juga persaksian, karena hanya tidak persis dalam hal bunyi kata-kata. Demikianlah semua yang mendindingi orang dari pemahaman syariah menjadi sebab hilangnya keadilan itu. “Kalau saja kita menegakkan keadilan, tidak akan kita berada dalam keadaan lemah dan ihwal buruk seperti sekarang ini.”

Dalam pelajaran yang lain, Abduh menyatakan bahwa kitab As-Siyasatusy Syar’iyah (Politik Syariah), dalam penelaahannya, keseluruhannya berdiri di atas ayat ini. (Karya Plato, Republik, juga ditegakkan di atas ide keadilan; baca: ”Keadilan di Benak Plato”). Karya Ibn Taymiah itu berluas-luas dalam pembicaraan bermacam amanat yang diserahkan Allah ke tangan para hakim. Di antaranya agar jangan jabatan diserahkan kecuali kepada orang-orang yang saleh. Dari banyak hadis yang dibawakan, terdapt sebuah yang populer, dalam riwayat Bukhari: “Bila urusan diserahkan kepada yang bukan orangya, tunggulah saat.” Yakni saat kiamat umat, karena setiap umat mempunyai waktu kehancurannya. (Q. 734; 10:49; 15:5; 23:43). (Rasyid Ridha, op.cit., 172-173).

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Panji Masyarakat, 16 September 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda