Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi, Salman Al-Farisi (3): Penguasa yang Zuhud

Yang sering pula dilekatkan pada Salman adalah dia bersama ahlus suffah merupakan pelopor (paham) tasawuf. Setelah ia masuk Islam ia tampil sebagai figur yang hidup sederhana dan zuhud serta gemar beribadah.

Cara hidup sederhana itu ia pertahankan saat menjadi gubernur Madain. Pernah ketika Salman sedang berjalan dia didatangi seorang laki-laki dari Syam (Suriah) yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Beban itu cukup berat hingga begitu melihat Salman yang tampak seperti kere alias  orang yang tak punya, orang Suriah itu menyuruhnya membawakan barangnya. Tentu dengan imbalan. Maka dibawanya barang itu oleh Pak Gubernur.

Dalam perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan. Sesuai adab bahwa orang yang sedikit harus mendahului memberikan  salam kepada orang yang lebih banyak, Salman memberi salam. Jawaban dari rombongan itu membuat kaget orang Suriah. “Salam juga untuk Amir.” Masih belum habis rasa heran di hati orang Suriah itu, seorang anggota rombongan meraih beban dari Salman. “Biarlah kami yang membawa,” katanya. Barulah orang yang mengulikan bawaannya tadi ngeh bahwa orang yang memikulkan buah-buahanya itu seorang amir alias kepala daerah, yang dihormati semua orang. Dengan sangat menyesal ia pun minta maaf kepada Gubernur Salman.

Meski suka beribadah, Salman tak berlebihan. Pernah suatu ketika ia menginap di rumah Abu Darda. Ia sudah mendengar bahwa kawan ini suka berlebihan dalam beribadah. Ternyata betul. Abu Darda selalu berpuasa setiap hari dan pada malamnya melakukan salat tanpa henti. Melihat itu, timbul niat di hati Salman untuk membatalkan puasa sunah Abu Darda. Di samping itu, pada malam hari ia paksa Abu Darda tidur, tidak terus-menerus salat. Katanya, “Abu Darda, setiap mata punya hak (untuk tidur), keluarga pun punya hak. Maka, di samping berpuasa, berbukalah, dan di samping salat, tidurlah. “

Peristiwa itu dilaporkan kepada Rasulullah s.a.w. Nabi merespon: “Sungguh Salman telah dipenuhi ilmu.”

Dengan pribadinya seperti itu, Salman menjadi sosok yang dihormati. Ali ibn Abi Thalib memujinya dalam satu syair:

Ia adalah orang yang datang dari kami dan kembali kepada Ahlul Bait

Siapa pula di antara kalian yang dapat menyerupai Lukmanul Hakim

Ia telah beroleh ilmu yang pertama, begitu pula yang terakhir

Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering

Amirul Muminin Umar ibn Al-Khaththab pernah mengajak para sahabat untuk menyambut Salman AlFarisi yang hendak berkunjung ke Madinah. Umar pun memberinya tunjangan 4.000 dirham, semntara anaknya sendiri hanya diberi 3.500. Tunjangan ini disediakan untuk seluruh rakyatnya, dengan jumlah yang bervariasi, tergantung bagaimana kedekatannya dengan Nabi dan Islam (yang masuk Islam pertama mendapat lebih banyak dibanding yang masuk kemudian).

Banyak sahabat, termasuk Gubernur Sa’d, yang menjenguk Salman kala sakit. “Berwasiatlah kepada kami,” kata sekelompok pembezoek. Salman menjawab: “Barangsiapa di antara kalian bisa mati ketika melaksanakan haji, umrah, berperang , atau membaca Quran, maka matilah (dalam keadaan demikian). Dan jangan sekali-kali seorang di antara kalian mati sebagai seorang durhaka  atau pengkhianat.” Bersambung

Penulis: Emat Suhimat. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 12 Agustus 1998. Penulis pernah bekerja di bagian riset dan dokumentasi majalah ini, dan kemudian bermukim di Jepang selama beberapa tahun. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat, menjadi wirausahawan.              

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda