Tafsir

Tafsir Tematik : Keadilan Atau Kehancuran

Sesungguhnya Allah memerinthkan sikap adil dan kebajikan  serta pemberian bantuan kepada karib kerabat, dan mencegah perbuatan keji kemungkran dan tindak agresif. Ia mewejang kamu agar kamu mengingat-ingat. (Q. 16:90)

Aktsam ibn Shaifi dikenal sebagai orang yang bijak dan pemimpin kaum. Dalam hadis riwayat Al-Hafizh Abu Ya’la, ia dituturkan mendengar berita keluarnya berita Nabi Muhammad s.a.w. Ia ingin bertemu dengan beliau. Tapi kaumnya enggan mengundang Nabi, sementara mereka juga berkata, “Engkau tetua kami. Tidak selayaknya engkau tergopoh-gopoh menemuinya.”

“Kalau begitu”, katanya, “mestinya ada yang datang kepadanya, menyampaikan kata-katanya kepadaku.” Lalu majulah dua orang.

Mereka datang kepada Nabi s.a.w., dan berkata: “Kami utusan Akstsan ibn Shaifi. Ia menanyakan, siapakah Anda, dan apakah Anda.”

Jawab Nabi: “Tentang siapakah aku, aku ini Muhammad anak Abdullah. Adapun apakah aku, aku ini ‘abdullah (hamba Allah) dan rasul-Nya.” Lalu beliau membacakan, “Sesungguhnya Allah memerinthakan sikap adil dan kebajikan…” dan seterusnya.

“Tolong diulangi lagi kata-kata itu, untuk kami,” pinta mereka. Maka Nabi mengulang-ulanginya sampai merek hafal

Mereka kemudian melapor kepada Akstsam: “Dia tidak memperkenalkan garis ketuunannya (hanya menyebut anak Abdullah’, dan tidak meneruskannya ke pangkal kabilah; pen). Lalu kami menanyakannya, dan mendapatinya sebagai nasab yang paling murni dan teras dalam trah Mudhar (leluhur Nabi Muhammad s.a.w. maupun Aktsam; moyang ketujuh Quraisy dan moyang ke-18 Muhammad; pen.). Dia melontarkan kepada kami kalimat-kalimat yang sudah kami dengar.” Ketika kemudian Aktsam juga mendengar ayat itu, katanya: “Menurut aku, dia itu berpropaganda untuk budi yang mulia dan mencegah dari semua yang rendah. Mari, dalam pekara itu hendaklah kita menjadi para pemuka, dan jangan hanya menjadi buntut!” (Ibn Katsir, Tafsirul Quranil ‘ Azim, II:582-583).

Keadilan Sosial

Keadilan, dalam ayat di atas, adalah lafal mutlak. Tidak diikat apa pun. (Husain Thabathaba’i, Al-Mizan, XII:354). Sebagai lafal mutlak, diingatkan Muhammad Abduh bahwa Allah tidak menyebut batasannya, diingatkan Muhammad Abduh bahwa Allah tidak menyebutkan batasannya; tidak pula tafsirnya. Tapi bisa juga disebut sebagai keberimbangan, seperti dalam prosedur peradlan (baca: “Apa yang Disebut Adil”). “Tetapi konteks kalimat menunjukkan bahwa yang dimaksudkan dalam ayat adalah keadilan sosial,” kata Thabathaba’i. Yakni bahwa setiap pribadi dalam masyarakat diperlakukan menurut hak-haknya dan diletakkan di tempat yang seharusnya. (Thabathaba’i, loc.cit).

Itu berarti keadilan sosial dari segi kepentingan orang per orang. Dari sudut pandangan keseluruhan, keadilan sosial menyata seperti dalam pemberian kesempatan yang sama kepada setiap warga negara (demokrasi politik, demokrasi ekonomi), dan sikap berimbang sehubungan dengan golongan-golongan. Apakah berimbang  selalu harus berarti sama rata? Dalam contoh perlakuan orangtua kepada anaknya yang normal dan anak yang cacat, misalnya, biaya biaya yang dikeluarkan orangtua tak harus sama. Juga dalam contoh hibah kepada anak yang kaya dan dan anak miskin yang masih harus dibantu. Di sini keadilan pulang lagi kepada pengertiannya yang pertama: ‘kesesuaian dengan yang semestinya’ – dan justru di situlah letak keberimbangan. Bersambung       

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Panji Masyarakat, 16 September 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda