Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi, Salman Al-Farisi (2): Setelah Bertemu Rasulullah

Written by Panji Masyarakat

Di atas Pohon Kurma

Meski kedatangan seorang nabi dengan agama barunya sudah membuat heboh Mekah dan jadi perbincangan kalangan terbatas di Madinah, Salman belum mendengar apa-apa. Maklum ia hanya seorang budak yang kerjanya mengurus kebun kurma Bani Quraizhah, setiap hari dibantu seorang teman Yahudinya. Suatu hari, ketika ia sedang berada di atas pohon kurma, datang seorang lelaki Yahudi. “Celakalah Bani Qailah. Mereka kini berkumpul hendak menyambut seorang lelaki di Quba yang datang dari Mekah, yang mereka kira nabi,” katanya kepada teman Salman yang sedang duduk di bawah pohon. Salman nyaris saja jatuh saking kagetnya. Pas benar dengan yang dikatakan uskupku, pikirnya. Lalu ia turun. “Apa Anda bilang tadi?” tanyanya. “He, ngapain kamu? Bekarja sana!” kata tuannya membentak sambil menampar.

Salman memang kembali bekerja, tetapi diam-diam dikumpulkannya beberapa butir kurma dan sore harinya dia bawa ke Quba untuk dihadiahkan kepada Nabi. Kegiatan ini dia teruskan setelah Nabi tinggal di Madinah. Kalau malam tiba, diam-diam ia datang membawa kurma. “Ini bukan sedekah, tetapi hadiah sebagai penghormatan kepada Baginda,” katanya. Kurma itu beliau makan bersama sahabat. Setelah bertemu berkali-kali dengan Rasulullah, Salman makin yakin, inilah yang diramalkan uskupnya. Lebih-lebih setelah dia lihat cap kenabian di punggung beliau. Cintanya kian hari kian menebal. Ia pun makin yakin dengan kebenaran ajaran yang dibawanya. Lalu ia mengucap syahadat di depan beliau. Meski begitu ia harus pandai-pandai menyembunyikan keislamannya hingga ia tidak bisa ikut Perang Badar dan Perang Uhud.

“He Salman, mengangsurlah untuk kemerdekaanmu!” kata Nabi suatu ketika. Beliau lalu minta para sahabat untuk mengumpulkan dana untuk pembebasannya, yatu 300 pohon kurma dan 40 uqiyah emas. Dan, merdekalah Salman.   

Diaku Ahlu Bait

Menurut Dairatul Ma’rifil Islamiyah, sosok Salman penuh dengan sisi gelap. Cerita tentang dirinya pun, seperti ditturkan di atas, hanya berasal dari satu sumber, yaitu Ibnu Ishak. Terlalu banyak legenda dan mitos yang dilekatkan padanya. Buku ensiklopedia itu sendiri meagukan cerita masa lalunya sebagai budak. Hanya saja Shahihul Bukhari mengutip satu penggalan dari cerita panjang hikayat hidupnya, yang diriwayatkan Ibnu Ishak, meski mengutip begitu saja sebagai subjudul, dan tanpa sanad yaitu pada bagian sabda Nabi, “Mengangsurlah untuk kemerdekaanmu.”

Tak banyak yang diketahui, kecuali ketika Nabi wafat, Salman berada di barisan oang-orang yang menjagokan Ali sebagai penggantinya (bukan Abu Bakr). Salman juga pernah diangkat sebagai gubernur Madain oleh Umar dan meninggal di kota itu. Tak diketahui berapa umurnya saat  meninggal, tetapi dipastikan sudah sangat tua. Tahun kematiannya pun diperselisihkan. Perkiraan yang paling mendekati adalah tahun pertama kepemimpinan Ustman ibn Affan.

Yang pasti pula, gara-gara sikapnya dalam soal penerus Rasul dan mungkin pula karena kepersiaannya (Al-Farisi berarti orang Persia), Salman menjadi tokoh yang dibanggakan kalangan Syiah. Kuburannya yang di Madain menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi. Setelah mengunjungi Karbala, orang Syiah selalu menziarahi kuburannya. Maka beredarlah banyak mitos. Di kalangan Syiah ekstrem dia digambarkan sebagai sosok yang mewakili Tuhan dalam proses emanasi di bumi untuk waktu tertentu. Lalu, sebagai bagian dari trintitas ketuhanan, dia disebut sebagai sin (singkatan dari Salman), yang lainnya adalah Ain (Ali), dan mim (Muhammad). Ain adalah elemen yang dinamis, dan sin merupakan elemen penghubung antar keduanya.

Alasan lain mengapa ia sangat dibanggakan Syiah adalah sebutan Nabi kepada dirinya sebagai ahlul bait. Sebutan ini muncul, konon, ketika selama penggalian parit (khandaq) dia sangat kuat dan menjadi rebutan orang Anshar dan Muhajirin. “Dia adalah golongan ahul bait,” kata Nabi memengahi. Bersambung

Penulis: Emat Suhimat. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 12 Agustus 1998. Penulis pernah bekerja di bagian riset dan dokumentasi majalah ini, dan kemudian bermukim di Jepang selama beberapa tahun. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat, menjadi wirausahawan.              

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda