Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi, Salman Alfarisi (1): Perjalanan Mencari Kebenaran

Written by Panji Masyarakat

Salman Al-Farisi, yang sedang sakit, menangis ketika dijenguk Gubernur Madain Sa’d ibn Mas’ud bersama Sa’d ibn malik. “Apa yang membuat Anda menangis,wahai Abu Abdillah,” tanya mereka. “Ada satu pesan Rasulullah s.a.w. yang sekarang tidak lagi dipegang orang. Beliau bersabda, ‘Sebaiknya orang mengambil secukupnya saja dari dunia ini seperti halnya bekal musafir’,“ jawabnya.

Itulah Salman yang memilih cara hidup sederhana, yang kemudian diteguhkan orang sebagai tokoh sufi. Itulah Salman, satu-satunya sahabat Nabi yang berdarah Persia, yang sejak kecil memiliki jiwa keagamaan yang kuat. Ia sangat tekun beribadah menurut agamanya waktu itu, Majusi (Zoroaster), sehingga ia dipercaya menjaga api, sesembahan Majusi, di kampungnya agar tidak padam. Dia anak seorang tokoh penting (dihqan) di Desa Jai atau Jayan, dekat Isfahan (versi lain, lahir di Ramhurmuz, sebuah kota terkenal di Persia, dekat Irak). Seorang anak yang sebenarnya selalu haus akan kebenaran.

Perjalanan Salman mencari kebenaran dimulai ketika ayahnya, yang tak ingin terganggu selama memperbaiki salah satu bagian rumahnya, menyuruh ia ke kebun. Di tengah jalan langkahnya terhenti ketika didapati sebuah gereja. Cara mereka sembahyang sungguh membuat hati anak ini takjub. Cara yang aneh, tetapi mengesankan. “Ini lebih baik dari yang aku anut selama ini,” katanya dalam hati. “Dari mana asal agama mereka?” tanyanya kepada orang-orang Nasrani. “Di Syam (Suriah),” jawab orang-orang itu.

Begitu terkesimanya Salman kecil hingga ia tetap tinggal di situ sampai matahari terbenam, membuat ayahnya panik. Sudah disuruh orang untuk mencari anaknya itu, tetapi tak ditemukan lagi. Eh, tiba-tiba ia nongol sendiri. “Dari mana saja kau?” hardik sang ayah. Dia ceritakan pengalamannya sepanjang siang tadi. “Saya lihat agama mereka lebih baik dari yang kita peluk,” katanya. “Anakku, agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik dari agama mereka.” Si anak, yang bernama asli Mahbeh atau Ruzye, tetap ngeyel. “Tidak, Ayah, demi Tuhan.”

Ini isyarat buruk, pikir sang ayah. Dia rantai kaki anak itu. Namun, hati si bocah tak ikut terantai. Hatinya yang telanjur kepincut kepada agama yang baru dikenalnya tadi, tetap mengembara. Lalu dikirimnya pesan kepada gereja bahwa dia sudah menjadi bagian dari keluarga Nasrani, dan jika datang kafilah dari Syam agar dia diberi tahu. Ia ingin ikut ke tempat asal agama itu agar dapat mendalaminya. Ketika rombongan kafilah dari Syam tiba dan hendak kembali, ia patahkan rantai kakinya dengan besi, lalu ikut mereka.

Di Syam, Salaman menemui uskup Nasrani lalu tinggal bersamanya sebagai pelayan dan murid. Ternyata uskup itu bukan pemuka agama yang baik. Disuruhnya orang-orang menyumbang ke gereja, tetapi dana itu lalu disimpan sendiri. Rahasia ini ia ungkap kepada para jamaah ketika sang uskup meninggal. Setelah itu, ia lalu pindah dari satu uskup ke uskup lain. Setiap kali uskup yang diikutinya mendekati ajal, ia selalu bertanya, kepada siapa ia bisa berguru. Sampai kemudian ia berguru kepada seorang uskup di Romawi, yang saat ajal hendak  menjemput memberi tahu akan datangnya seorang nabi yang menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim yang murni. Ia tinggal di tempat hijrahnya yang ditumbuhi pohon kurma dan diapit dua gunung bebatuan. “Dia tidak menerima sedekah (maksudnya sumbangan wajib untuk dirinya), tetapi bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian,” kata sang uskup.

Dengan penuh semangat Salman mencari keterangan tentang orang dan tempat yang disarankan terebut, sampai akhirnya lewat kafilah dari jazirah Arab. Dengan jaminan sapi dan kambing yang dia miliki, Salman dibolehkan ikut rombongan ke Wadil Qura. Namun ia ditipu mentah-mentah. Ia tidak dibawa ke tempat Nabi, tetapi dijual ke kepada orang Yahudi. Kembali ia berpindah dari satu tangan ke tangan orang lain – bukan sebagai murid lagi tetapi sebagai budak – hingga akhirnya ada seorang Yahudi dari Bani Quraizhah yang membeli dan membawanya ke Madinah. Bersambung

Penulis: Emat Suhimat. Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 12 Agustus 1998. Penulis pernah bekerja di bagian riset dan dokumentasi majalah ini, dan kemudian bermukim di Jepang selama beberapa tahun. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat, menjadi wirausahawan.              

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda