Tafsir

Tafsir Tematik: Apa Yang Disebut Adil (1)

Written by Panji Masyarakat

Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan serta pemberian bantuan kepada karib kerabat, dan mencegah perbuatan keji, kemungkaran, dan tindak agresif. Ia mewejang kamu agar kamu mengingat-ingat. (Q. 16:90)

Ketika ayat ini diturunkan, “ demikian Utsman ibn Mazh’un r.a., “aku membacakannya kepada Ali ibn Abi Thalib. Ia takjub. Lalu berkata, ‘Wahai keluarga Ghalib. Kalian ikuti beliau (Nabi s.a.w.), kalian beruntung. Demi Allah, Dia mengirimkan beliau untuk memerintahkan kita mewujudkan kemuliaan akhlak.” (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li-Ahkamil Quran, X:165). Tetapi, mengapa Utsman ibn Mazh’un lebih tahu tentang ayat itu dibanding Ali r.a.?

Dalam riwayat Ahmad dan Ibn Abi Hatim, ada satu penuturan dari Ibn Abbas r.a. Ketika Nabi s.a.w., katanya, suatu kali duduk di halaman rumah beliau, lewatlah Utsman ibn Mazh’un. Ia menyeringai ke arah beliau. Nabi malah menyapa: “Tidak mau duduk?”

“Baik,” jawabnya. Lalu Rasulullah sendiri duduk di hadapannya. Di tengah-tengah bicara, tiba-tiba Nabi mengangkat mata ke langit, menatap ke sana sejenak. Lalu menjatuhkan pandangan ke bawah, sampai ke sisi kanan beliau. Kemudian melengoskan badan dari teman duduk beliau, Utsman, ke tempat beliau menjatuhkan pandangan. Lalu mulai menggerakkan kepala seperti sedang ingin memahami sesuatu yang dikatakan. Sementara itu Ibn Mazh’un memerhatikan.

Setelah selesai, kembali beliau menaikkan pandangan ke langit, seperti kali pertama, mengikuti sesuatu yang kemudian lenyap di sana. Lalu kembali menghadapi Utsman di posisi duduk yang pertama. Tamu ini berkata: “Ya Muhammad. Di tempat saya duduk menemanimu ini, belum pernah saya lihat engkau berbuat seperti yang kauperbuat pagi ini.”

“Apa yang kaulihat aku perbuat?” tanya Nabi.

“Aku lihat pandanganmu terangkat ke langit, kemudian kauturunkan dan kautaruh di sebelah kananmu, lalu kalu berpaling ke situ, kautinggalkan aku, lalu kau mulai menggerakkan kepala seperti sedang berusaha mengerti sesuatu yang sedang diucapkan.”

“Dan kamu menangkap hal itu?”

“Ya.”

Maka kata Rasulullah s.a.w., “Aku didatangi utusan Allah, tadi sementara kamu duduk.”

“Utusan Allah?”  

“Ya.”

“Lalu apa yang dikatakannya kepadamu?”

Maka Rasulullah membaca: “Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan…” dan seterusnya.

Kata Utsman, belakangan: “Itulah saat ketika imam menetap dalam hatiku dan aku mencintai Muhammad s.a.w.”

Itulah sebabnya ketika Utsman ibn Mazh’um kemudian membacakan ayat tersebut kepada Saidina Ali, yang terakhir itu menasehatinya untuk mengikuti Nabi  agar ia dan keluarganya beruntung. Bahkan Abu Thalib, ayah Ali, ketika diberi kabar: “Kemenakan Anda mengira Allah sudah menurunkan kepadanya: ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan sikap adil dan kebajikan…” menyahut: “Ikutilah kemenakanku. Demi Allah dia tidak menyuruh kecuali kepada akhlak yang indah.”

Yang seperti itu juga diucapkan oleh Aktsam ibn Shaifi, dalam riwayat Abu Ya’la (Kitab Ma’rifatish Shahabah). Aktsam, ketika sampai kepadanya berita keluarnya Nabi s.a.w., berniat menemui beliau. Tapi kaumnya menolak. Kata mereka, “Engkau pemimpin kami, tidak layak engkau datang  kepada dia.”

Maka dua orang maju. Ketika kemudian mereka bertemu Nabi, mereka berkata: “Kami utusan Aktsam ibn Shaifi. Dia bertanya, siapakah Anda, dan apakah  Anda ini sebenarnya.” Jawab Nabi:
“Kalau soal siapa aku, aku ini Muhammad ibn Abdillah. Adapun kalau apa aku ini, aku hamba Allah dan rasul-Nya.” Lalu beliau membacakan ayat di atas.

“Ulangi. Tolong ulangi ucapan tadi, untuk kami,” kata mereka. Maka beliau mengulang-ulanginya, sampai mereka hafal.

Begitu balik ke tengah kaum, mereka melapor kepada Aktsam: “Ia tidak menyebut garis keturunannya (dalam perkenalan; pen.). Ketika kami tanyakan, ternyata ia dari nasab unggul dan teras dalam trah Udhar (nenek moyang Quraisy; pen.). Ia melontarkan kepada kami kalimat-kalimat yang sudah kami dengar.” Lalu, sesudah Akstam juga mendengar ayat itu, katanya:

“Menurut aku, dia itu berpropaganda untuk akhlak yang mulia dan mencegah semua yang rendah. Ayo! Mari kita menjadi para pemuka untuk perkara itu. jangan hanya menjadi ekor! (Ibn Katsir, Tafsirul Quranil ‘Azhim, II: 582-583). Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Panji Masyarakat, 8 September 1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda