Tasawuf

Ajian Kodok Mlengok

Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Entah siapa yang memulai, malam itu kami asyik ngobrol tentang jimat, ajian, mantra, sihir; dan segala sesuatu yang terkait dengannya. Mungkin saja karena kami sudah letih mendengar pembicaraan tentang carut marut penanganan pandemi Covid-19, BPJS yang naik turun naik kayak roller coaster, tarif listrik yang tidak naik tapi meroket, penganggur yang makin mengular, kemiskinan yang membengkak, ekonomi yang nyungsep, situasi politik yang menggantikan panggung komedi dan seterusnya dan sebagainya.

Atau, mungkin saja karena malam itu kebetulan malam Jum’at. Malam yang dulu dianggap malam keramat, kadang bahkan magis; namun sekarang entah karena apa tiba-tiba diidentikkan dengan ‘sunnah Rasul’, yang arah pemaknaannya membuat mereka yang paham agama geleng-geleng kepala, atau justru terbahak-bahak.

Jimat, ajian, mantra, sihir memang gejala yang gampang ditemui di masyarakat mana saja, baik dahulu mau pun kini; baik di masyarakat yang berbasis kitab mau pun yang berlandas adat. Dua kisah terkenal yang diangkat Al Qur’an terkait dengan sihir adalah yang dihubungkan dengan nabi Sulaiman alaihi salam serta Harut dan Marut sebagaimana diabadikan dalam surat Al Baqarah 102.

Sulaiman alaihi salam adalah nabi sekaligus raja, yang kekuasaannya tidak hanya meliputi manusia tapi juga jin dan setan; dan bisa mengendalikan mereka sesuai perintahnya. Kalangan inilah yang kemudian dianggap sebagai biang sihir. Setelah nabi Sulaiman wafat, ajaran mereka dianggap sebagai induk ilmu sihir yang dipelajari orang. Berdasar kenyataan ini, sebagian bani Israil lantas beranggapan bahwa Sulaiman alaihi salam bukan nabi, tapi tak lebih dari sekedar ahli sihir belaka. Anggapan ini yang disangkal oleh Al Qur’an.

Di ayat yang sama, Al Qur’an juga menjelaskan tentang posisi Harut dan Marut, yang juga sering dianggap sebagai sumber sihir. Sebagian besar ulama menganggap mereka adalah dua malaikat yang diutus turun ke bumi, meski ada juga yang beranggapan bahwa mereka sebenarnya hanyalah dua orang yang sangat soleh.

Salah satu versi tafsir menyebut bahwa dua malaikat ini diutus ke Babilonia yang masyarakatnya sedang kacau balau karena merajalelanya praktik sihir. Konon, sihir mulai tersebar sejak ditawannya orang-orang Yahudi oleh Nebukadnezar; setelah raja Babilonia tersebut menyerang Palestina. Sebagian tawanan tersebut sangat menguasai ilmu sihir dan mahir mempraktikkannya.

Harut dan Marut lantas mengajarkan tentang rahasia-rahasia sihir, dengan tujuan agar masyarakat tak lagi ketakutan menghadapinya. Tapi, meski kedua malaikat tersebut sudah wanti-wanti bahwa kehadiran mereka ‘hanyalah cobaan, sebab itu janganlah kamu kafir’; tetap saja masyarakat memosisikan apa yang diajarkan kedua malaikat tersebut sebagai sumber ilmu sihir baru.

“Aneh juga,” celetuk Lik Cecep.

“Banyak pedagang, entah warung, toko, rumah makan, bahkan juga pengusaha; yang percaya dan merasa harus punya setidaknya jimat atau azimat. Baik untuk melariskan dagangannya, mau pun untuk menolak gangguan pedagang lain,” lanjutnya.

“Apa anehnya?” tanya Giman penasaran.

“Lha, kalau semua menggunakan, posisinya kan jadi seimbang! Artinya pakai atau tidak pakai jimat, sama saja, tidak ada pengaruhnya,” jawab Lik Cecep sambil tertawa.

“Tapi, tidak demikian cara berpikirnya. Pertama, mereka menganggap tidak semua menggunakan cara yang sama. Kedua, mereka berpikir bahwa ajian atau jimat milik mereka jauh lebih efektif dibanding lainnya, karena berasal dari dukun atau kyai yang dianggap lebih sakti,” sahut Lik Jum.

“Itu karena mereka tidak mau berpikir rasional. Coba kalau mereka mau berpikir sedikit ilmiah, lebih saintifik; dengan membuat uji coba di satu pasar misalnya. Satu periode tertentu, semua pakai jimat, sementara periode lain semua tidak pakai. Lantas diperiksa: apakah ada perbedaan hasil yang signifikan di antara keduanya?” ujar Lik Cecep.

“Wah, variablenya pasti tidak sesederhana itu. Lagi pula bukan ajian atau jimat itu sumber masalahnya, tapi takut tak kebagian rezeki atau kehilangan keuntungan. Jadi, meski tanpa ajian atau jimat pun, mereka tetap akan melakukan banyak cara lain untuk tujuan yang sama,” sahut Lik Jum.

Saya teringat kisah yang dialami Mbah Sirra saat muda. Suatu saat, uang yang beliau simpan untuk keperluan pondok, dicuri maling. Dan ini bukan yang pertama.

“Mbok rumahnya diberi pagar,” saran kawannya yang juga seorang kyai. Maksudnya tentu saja azimat tertentu untuk melindungi rumah.

“Lha itu sudah ada pagarnya,” jawab Mbah Sirra sambil menunjuk pagar hidup di depan rumahnya.

“Maksud saya azimat supaya tidak kemalingan lagi,” lanjut kawannya tersebut.

“Yang merasa kehilangan kan hanya mereka yang merasa memiliki.”

Sikap semacam ini selalu ditanamkan Mbah Sirra pada santri-santrinya, termasuk kami. Suatu saat, beliau pernah bercerita tentang akibat tragis yang dialami salah satu warga, gara-gara mengamalkan ilmu mahabbah, alias pengasihan. Ilmu tersebut bersyarat: pengamalnya hanya boleh tidur satu kali dalam sehari semalam.

Suatu saat orang tersebut bertemu dengan perempuan yang sangat cantik di stasiun. Mahabbah yang dimilikinya konon memang luar biasa manjur, cukup dengan menghentakkan kaki ke lantai, dia bisa membuat perempuan tersebut mendatanginya. Kisah berlanjut, sehingga akhirnya mereka menikah.

Masalah mulai muncul ketika mereka punya anak. Kebiasaan bayi yang kerap terbangun dan menangis di malam hari, mulai mengacaukan syarat satu kali tidur yang harus ditaatinya. Pada awalnya, dia mencoba bertahan untuk tidak tidur lagi setelah terbangun oleh tangis anaknya. Meski seringkali tidurnya kurang dari satu jam. Tapi lama kelamaan, karena selalu berulang setiap malam, dia tak tahan lagi. Syarat tersebut mulai ditabrak.

Sejak syaratnya ditabrak, ia mulai sering bertengkar dengan isterinya. Pertengkaran yang makin lama makin sering, dan akhirnya memuncak menjadi perceraian. Tidak hanya itu dampaknya. Anak mereka yang terpaksa diasuh oleh neneknya; mungkin karena kurang terawat, sering sakit; dan akhirnya meninggal dunia.

Biasanya beliau menutup penjelasan tentang masalah-masalah semacam ini dengan mengutip akhir ayat Al Baqarah 102: Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada siapa pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada diri mereka sendiri dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka telah tahu bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

“Di Jawa, ada jimat atau ajian yang namanya kodok mlengok,” ujar Kang Sam menimpali pembicaraan tentang ilmu mahabbah. Mlengok dengan huruf e dibaca seperti membaca pandemi, yang artinya melongo, terhipnotis, terkagum-kagum sehingga kehilangan kesadaran kritisnya. Ada banyak varian dalam ilmu ini, salah satunya bisa dipakai sebagai alat untuk menipu orang.

“Tetangga saya pernah mengalami kasus semacam ini,” lanjut Kang Sam.

Salah satu guru tempat bersekolah anak tetangganya tersebut ternyata memiliki ilmu kodok mlengok, demikian kisah Kang Sam. Banyak murid dan orang tua murid, yang tiba-tiba seperti kerbau dicocok hidungnya, menuruti apa saja yang dimintanya. Kata-katanya memang selalu terdengar manis dan meyakinkan, sehingga sulit orang untuk tidak mempercayainya. Alasan yang dipakai selalu sama: meminjam. Yang dipinjam pun macam-macam; mulai uang sampai beragam barang. Tapi kenyataannya tak pernah ada yang dikembalikan.

Bahkan, bukan hanya pada orang tua murid, pada pihak sekolah pun ia banyak meminjam. Anehnya tak ada yang bisa menagih. Mereka cuma bisa marah, kasak-kusuk atau gerundelan di belakang. Setiap berhadapan dengan yang bersangkutan mereka malah mingkem, kehilangan kata-kata.

Nah, suatu saat guru tersebut meminjam laptop pada anak tetangga Kang Sam. Janjinya cuma sehari, dan akan segera dikembalikan. Tapi setelah lewat sehari, dua hari, tiga hari, tak juga kunjung dikembalikan. Tetangga Kang Sam, yang kebetulan seorang wartawan, mulai marah-marah. Maklum, laptop tersebut adalah alat utamanya untuk bekerja. Selama ini dia sudah cukup bersabar dengan menulis berita di tempat kawan.

Setelah lewat lima hari, dia tak bisa lagi menahan kesabaran dan memerintahkan anaknya untuk segera meminta laptop tersebut. Bukannya langsung mengembalikan, si guru malah berjanji akan datang ke rumah tetangga Kang Sam esoknya. Konon ini memang modus guru tersebut. Selama ini, dia selalu mendatangi mereka yang mulai mempertanyakan nasib uang atau barang yang dipinjamnya. Dan mereka yang sudah didatangi, biasanya kemudian diam, tak mempertanyakan lagi. Nanti, kalau kembali mempertanyakan, akan didatangi dan diam lagi. Begitu seterusnya.

“Kali ini tampaknya dia kena batunya,” sambung Kang Sam sambil tersenyum.

“Tetangga saya yang sudah mendengar rumor tentang ajian kodok mlengok, dan  modus yang dipakainya; segera mendamprat dan mengancam guru tersebut saat datang ke rumahnya. Si guru yang ketakutan kasus-kasusnya diberitakan, esok harinya langsung mengembalikan laptop ke anak tetangga saya.”

“Lho, jadi saat ke rumah tetangga sampeyan, laptopnya tidak dibawa?” tanya Giman.

“Tidak. Mungkin karena dia yakin bisa mempengaruhi tetangga saya dengan ajian kodok mlengoknya. Tapi, karena langsung didamprat, mungkin dia ketakutan dan tak bisa mempraktikkannya,” jelas Kang Sam.

Kami tertawa.

“Itu baru di tingkat sekolah lho…” gumam Kang Sam.

“Kok tertawa?” tanya Giman yang merasa penasaran.

Melihat ulah Giman, kami malah terbahak-bahak.

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda