Relung

Mendadak Ustad

A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Otodidak. Saya membeli buku dan majalah bekas, sekarang lihat Youtube, membeli kaset ceramah, kemudian saya banding-bandingkan.” Ini jawaban Evie Effendi, ketika ditanya apakah dia mendalami Islam dengan berguru kepada seseorang. Evie yang dijuluki ustad “gapleh” (akronim gaul tapi soleh) ini menegaskan, “Saya tidak belajar dari satu guru. Guru saya mah Rasulullah s.a.w. dan para sahabat . Kalau berguru sekarang mah raririwueh (serba repot), pada sombong dengan ilmunya. Guru saya siapa saja yang memberi ilmu. Kalau ikan itu memberi ilmu, ya dia guru saya,”

Evie Efendi, anak muda asal Bandung,  yang ke mana-mana mengenakan kemeja flanel dan celana jins ini, kegiatan hari-harinya diisi dengan dakwah, dan nyaris tidak punya waktu untuk kehidupan keluarganya. Dalam wawancara dengan Beritagar,id, Evie yang sempat menghuni rumah tahanan ini menyatakan, “Saya ini bolak-balik Bandung-Jakarta. Keluarga jatahnya hanya dua jam, itu pun terpotong waktu.” Seperti dikemukakan peneliti LIPI Dr. Ahmad Burhani Najib, cerita yang dikemukakan Evie Effendi merupakan bagian yang dia sebut conversion narratives. Yakni kisah orang-orang yang dulunya bukan siapa-siapa dalam hal agama, atau bahkan masuk kategori bad boy seperti pernah masuk penjara, terlibat narkoba, lantas tiba-tiba menjadi “dai selebritis”. Pertanyaannya adalah, transformasi seperti apa yang menjadikan mereka mampu mengubah diri mereka menjadi “ahli agama”? Legitimasi seperti apa yang mereka pakai untuk meyakinkan umat bahwa mereka memiliki otoritas dalam bidang agama? Pada umumnya ustad-ustad semacam ini,menurut Burhani, pada umumnya belajar Islam secara otodidak, bermimpi bertemu Rasulullah, mendapat pencerahan atau ilham, sebagai justifikasi otoritas keagamaannya, Tidak terkecuali dengan Ustad Evie yang pernah coba-coba narkoba, dan melakukan aneka kenakalan remaja lainnya

Sejatinya banyak yang keberatan dengan isi ceramah Ustad Evie, termasuk yang ditayangkan di kanal Youtube. Termasuk dengan penampilannya. Misalnya, KH Ma’ruf Khozin meminta agar Evie tidak membahas soal khilafiyah dalam ceramahnya karena tidak memiliki sumber rujukan yang kuat. “Ustad Evie Effendi lagi. Saran saya Ustad Evie fokus saja dakwah kepada pemuda hijrah, tidak perlu membahas tema-tema khilafiyah di antara umat Islam. Terlebih lagi ketika mengutip dari sumber rujukannya tidak akurat,” kata Ma’ruf. Anggota Dewan Pakar Aswaja Center Jawa Timur ini  menambahkan, “Saya tidak akan berdebat dengan beliau soal hadis, karena saya melihat nyaris tidak ada yang ilmiah dari penjelasan beliau.” Bahkan Ustad Dr. Moch Syarif Hidayatullah alias Syarif Hade. Dosen UIN Syarif Hidayatullah menyarankan agar Evie pensiun jadi ustad. “Dakwah boleh, jadi ustad jangan,” kata Syarief yang juga menyoroti gaya penampilan Evie. “Sok-sokan mempersoalkan dalil amaliah nisfu Sya’ban. Perbaiki saja dulu “qala rasulillah”-mu. Tambah soal wawasan hadis agar tak asal bunyi “dhaif- nakir”,” kata Syarif.

Kita akui, banyak narasi keagamaan yang dibangun  oleh “ustad selebritis” tidak punya landasan yang kuat, dan hanya sepintas enak didengar. Coba simak ungkapan Ustad Evie di salah satu stasiun televisi: “kenapa perempuan kalau selfie itu miring-miring? Karena perempuan itu butuh sandaran. Kalau tidak ada bahu untuk bersandar, lebih baik bersujud saja kepada bumi, maka langit akan mendengar.”   

Dalam ayat 24 surah Ibrahim,  Allah berfirman: “Kalimah  yang baik adalah bagaikan pohon yang baik, akarnya kukuh menghunjam dan cabangnya berkembang di langit.”  Kata “kalimah” dalam kalimat Kitab Suci itu, seperti dikatakan Nurcholish Madjid (2003) mengandung pengertian yang luas, sejak dari ungkapan sehari-hari sampai kepada ideologi, pemikiran, dan pandangan hidup yang lebih mendalam. Pesan penting yang  bisa kita tangkap dari ayat tersebut adalah bahwa setiap ide yang baik atau narasi yang kita bangun harus mempunyai pijakan pemikiran yang bersumber dari pokok ajaran, alias tidak hanya asal njeplak. Namun, itu saja tidak cukup. Sebab, kita tidak hanya dituntut untuk memahami dan menggunakan sumber-sumber suci itu, tapi juga diharuskan  untuk memiliki kecakapan dalam menangkap pesan-pesan sejarah. Dan kita pun akan lebih mampu menangkap pesan masa kini dan masa yang akan datang karena kita telah dibekali oleh  wawasan yang kaya.

Untuk menjadi ustad, atau ahli agama, memang tidak bisa instan.  

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda