Tafsir

Tafsir Al-Fatihah: Bagaimana Membaca Basmalah (3)

Written by Panji Masyarakat

Kalangan Nahdlatul Ulama (seluruhnya) dan Muhammadiyah membaca bismillah dengan keras pada salat jahri. Orang Mekah (Saudi), yang bermazhab Hanbali, membaca basmalah diam-diam. Begitu juga di kalangan di Indonesia yang biasanya dianggap dekat dengan Saudi, seperti Partai Keadilan. Tapi juga sebagian golongan muda Muhammadiyah.

Menjadi Alat Politik

Razi masih punya segi lain lagi, dalam meneropong riwayat-riwayat Anas di atas. Katanya, Ali a.s. dahulu  serius benar dalam masalah membaca basmalah dengan keras itu. Lalu, pemerintahan berpindah ke tangan bani Umaiyah (musuh politik Ali), mereka pun serius benar dalam melawan pembacaan secara keras, sebagai usaha menghapuskan semua jejak Ali. Barangkali saja Anas r.a. takut kepada mereka, dan oleh sebab itu penuturannya menjadi saling bertentangan. (Razi, I:211, 212).

Paling tidak, kalau dilihat dari pandangan kalangan Syiah, yang mengklaim diri mereka sebagai pengikut paling setia ‘Ali r.a., komentar-komentar yang tajam terhadap penolakan untuk membaca basmalah secara keras (apalagi penolakan untuk mengakui basmalah sebagai bagian dari Fatihah) bisa mencerminkan reaksi yang menggambarkan bagaimana sebuah butir diskusi agama telah dipaksakan berubah menjadi alat politik. Ja’far ash-Shadiq, misalnya, yang dijadikan imam ke-6 Syiah, dalam Al-Khisal diriwayatkan berseru: “Ngapain mereka itu? Dikutuk Allah mereka! Yang mereka tuju itu ayat yang paling agung dalam Kitab Allah mereka bilang bid’ah kalau orang-orang membacanya dengan keras!”

Al-Baqir, ayahandanya, sudah bereaksi senada: “Mereka mencuri ayat yang paling mulia dalam Kitab Allah — Bismil lahir rahmanir rahim­—padahal diseyogyiakan membacanya pada setiap memulai satu hal, yang besar maupun yang kecil, agar diberkahi.” Allamah Husain Thabathaba’i, mufasir Syiah abad ke-20, menyatakan bahwa riwayat yang semakna dengan itu di kalangan mereka banyak, dan semuanya menunjukkan bahwa basmalah adalah “bagian dari semua surah kecuali surah Al-Bar’ah” (dan ini juga pendapat Imam Syafi’i), “dan di dalam riwayat Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah juga ada yang menunjukkan hal itu.” Lalu ia menyebut contohnya dari himpunan-himpunan Muslim dan Abu Dawud. (Thabathba’i, Al-Mizan fi Tafsiril Quran, I:20-21).

Tetapi tentang Imam Syafi’i, sebetulnya pendapat beliau boleh dikatakan mendua. Paling tidak kerena terdapat dua riwayat. Pertama, yang memberitakan bahwa Syafi’i menganggap basmalah ayat dari semua surah (jadi termasuk Al-Fatihah) kecuali surah Al-Bara’ah (At-Taubah). Kedua, yang meriwayatkan bahwa basmalah bagi Syafi’i hanya ayat dari surah Fatihah dan surah An-Naml (Q. 27:30) (Ibn Rusyd, I:124). Tentu saja Syafi’i tidak menyertai pendapat ketiga, yang menganggap basmalah sebuah ayat mandiri yang diturunkan untuk sarana pengambilan keutamaan dan untuk pembatas di antara surah-surah.

Penulis Tafsir Ruhul Bayan (w. 1137 H.), dari mazhab Hanafi, menyatakan bahwa yang tersebut terakhit di atas sebenarnya pendapat “para ulama mutakhir mazhab Hanafi” (Isma’il Haqqi Al-Burusawi, I:6). Menurut Saiyid Sabiq, mazhab itu membolehkan, bahkan menganjurkan, membaca basmalah yang statusnya seperti itu dalam Al-Fatihah, tetapi tidak menyunatkan menyuarakannya dengan keras. Untuk alasannya, Sabiq kembali menukilkan hadis Anas yang kontroversial itu dari versi yang memuat pengakuanya bahwa ia salat di belakang Nabi s.a.w., Abu Bakar, Umar, Utsman, dan mereka tidak mengeraskan suara basmalah.

Baiklah. Di Indonesia, baik kalangan seperti Nahdlatul Ulama (seluruhnya) maupun Muhammadiyah membaca bismillah dengan keras pada salat jahri. Orang Mekah (Saudi), yang bermazhab Hanbali, membaca basmalah diam-diam. Begitu juga di kalangan di Indonesia yang biasanya dianggap dekat dengan Saudi, seperti Partai Keadilan. Tapi juga sebagian golongan muda Muhammadiyah.

Ibnul Qaiyim (yang berlatar belakang mazhab Hanbali) membikin semacam penyelesaian. Menurut kesimpulannya, Nabi s.a.w., dahulu, kadang-kadang membaca bismil lahir rahmanir rahim dengan keras, tetapi lebih sering Nabi membacanya diam-diam. Hanbali, tak disangsikan lagi, Nabi tidak pernah menyuarakan basmalah secara keras terus-menerus, lima kali sehari semalam. (Tentu saja, bukan? Sebab salat zuhur dan asar bukan salat  jahri, melainkan salat sirri) (lih. Saiyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, I:115). Wallahul Muaffiq.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Sumber: Majalah Panjimas, 20 Februari-5 Maret 2003.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda