Cakrawala

Pesantren yang Dirindukan

Saeful Bahri
Ditulis oleh Saeful Bahri

Di dinding Facebook, seorang ibu yang anaknya bersekolah di pesantren, berkeluh kesah tentang anaknya selama berada di rumah. Sang ibu ingin anaknya segera kembali di pesantren. Pasalnya, rutinitas yang baik selama di pesantren memudar. Kualitas ibadah amaliah seperti salat dan baca Alquran merosot.

Di pesantren anaknya biasa salat berjamaah, ditambah ibadah-ibadah nafilah seperti tahajud dan dhuha. Tapi ketika pesantren merumahkan santri-santrinya, terjadi penurunan produktifitas belajar dan beribadah itu. Apalagi sebabnya, kalau bukan karena situasi lingkungan di rumah dan kegandrungan bermain telepon genggam. Keluh kesah ibu ini diamini oleh oleh banyaknya komentar yang senada di kolom statusnya. Kebiasaan baik itu ternyata kalah dengan perangkat teknologi yang menggoda.

Memang berat ujian pagebluk ini bagi orang tua yang punya anak usia sekolah. Jika SKB Tiga Menteri yang memutuskan belajar dari rumah berlangsung sampai akhir tahun 2020, itu artinya jika dimulai dari Maret sampai Desember, nyaris 10 bulan anak-anak berada di rumah. Sepanjang waktu itu, sedikit banyak akan memengaruhi fisik dan psikologis anak-anak. Sebab, sekolah tidak hanya tempat menambah pengetahuan. Tapi juga mengasah mental dan psikomotorik mereka. Sementara belajar daring hanya menyentuh pada aspek kognitif belaka.

Dari sekian banyak lembaga pendidikan yang ada di tanah air, hanya pesantren yang membuka kembali aktifitas belajar untuk santri-santrinya. Pesantren dipandang menjadi tempat yang tepat untuk belajar dan mengisolasi diri selama pandemi. Tentunya selama pesantren berdisiplin mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan. Sebab, santri tidak ke mana-mana. Mereka berada di lingkungan pesantren selama 24 jam.

Bagi orang tua, saat pandemi ini pesantren menjadi hal yang dirindukan. Sebab di pesantren, santri belajar, beribadah, dan membangun pergaulan dengan sesama santri. Di dalamnya, santri belajar tentang kemandirian, keberanian, rasa percaya diri, dan tuntutan untuk mengaktifkan otak, memecahkan masalahnya sendiri. Dan tentunya pembinaan akhlak mulia yang menjadi tujuan utama.

Intinya pesantren bukan pendidikan yang cuma menekankan aspek kognitif atau akademik semata. Tapi Pendidikan nonkognitif yang penting untuk masa depan anak-anak. Inilah barangkali yang menjadi kerinduan dan keinginan orang tua agar anak-anak mereka segera kembali ke pesantren. Barangkali ini juga yang tidak menyurutkan lebih dari 7000 orang calon santri ikut seleksi masuk Pondok Modern Gontor, meski pandemi belum berhenti.

Menarik untuk membuat korelasi kultur pendidikan pesantren di atas dengan teori seorang peraih nobel ekonomi tahun 2000, James Heckman. Ia mengkritik lembaga pendidikan yang menjadikan nilai kognitif sebagai indikator kesuksesan.

Mari kita amati pandangan Heckman tentang variabel pendidikan nonkognitif, setelah itu Anda akan saya ajak menghubungkan teori-teori itu dengan pendidikan di pesantren. Tapi sebelumnya saya ingin sampaikan bahwa pandangan Heckman di bawah ini, saya temukan dari sumber sekunder yaitu tulisan-tulisan Rhenald Kasali. Dari sana saya korelasikan dengan pengamatan dan pengalaman saya berkecimpung dalam dunia pesantren.

Pendidikan di sekolah-sekolah menurut Heckman terlalu kognitif, akademik, membebani, dan mekanistik. Tidak bisa membuat perubahan terutama memutus mata rantai kemisikinan. Bahkan melahirkan pengangguran, sedangkan yang sudah bekerja kurang efektif dan produktifitasnya rendah.

Lalu apa nilai-nilai non-kognitif itu? Berikut ini adalah tujuh variabel pendidikan nonkognitif ala Heckman yang ia percaya dapat menjadi penentu perubahan dan senjata yang dapat memutus mata rantai kemiskinan yaitu:

  1. Keterampilan meregulasi diri
  2. Mengendalikan perhatian dan perbuatan
  3. Kemampuan mengelola daya tahan (persistensi)
  4. Menunda kenikmatan
  5. Ketekunan menghadapi kejenuhan
  6. Menghadapi tekanan
  7. Kemampuan menjalankan rencana

Saya mencoba menghubungkan tujuh variabel di atas dengan pendidikan di pesantren -kebetulan saya mengalaminya- dan ternyata sangat kental  dengan dunia pesantren. Benarkah demikian? Mari kita jelajahi.

Pertama, keterampilan meregulasi diri. Santri di pesantren ditempa dengan disiplin yang ketat. Disiplin waktu, disiplin hidup bersama, diajarkan kemandirian, dan tanggung jawab.  Tujuan itu semua adalah agar mereka memiliki kemampuan meregulasi diri sendiri dan itu lebih nyaman daripada didisiplinkan orang lain. Santri ditempa untuk menghargai waktu dengan baik dan benar, kapan waktu makan, tidur, belajar, bermain, dan lain sebagainya. Proses penanaman disiplin itu berlangsung selama 24 jam.

Kedua, mengendalikan perhatian dan perbuatan. Santri harus fokus dengan segala hal yang ada dalam dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Santri tidak boleh tergiur dengan keinginan-keinginan sesaat yang ia tidak mampu memenuhinya. Santri harus berpikir tentang sesuatu yang mereka butuhkan bukan yang mereka inginkan.

Ketiga, kemampuan mengelola daya tahan (persistensi). Pesantren seakan-akan membangun kebiasaan (habit) kepada santri untuk siap hidup dalam tekanan dan waktu yang ketat. Dengan segala keterbatasan dan keprihatinan, tidak ada opsi menu makanan, dan lain sebagainya. Kapan tidur, makan, mandi, olahraga, belajar dan lain-lain diatur sedemikian ketat. Jika ada kegiatan yang dilakukan bukan pada waktunya, praktis kegiatan lain akan terbengkalai.

Santri diajarkan untuk siap hidup susah bukan hidup senang. Kelak mereka menemukan kesusahan mereka terbiasa dan siap. Antri misalnya, yang menjadi pemandangan sehari-hari santri mengandung banyak nilai pendidikan. Bagaimana mereka menjadi pengantri yang baik, harus diajarkan dan dilatih karena ada pendidikan kesabaran, kecekatan, tenggang rasa, juga menghormati orang lain.

Keempat, kemauan menunda kenikmatan. Untuk variabel ini pesantren adalah tempatnya. Sebab itu pesantren kadang disebut sebagai penjara suci. Anda dapat bayangkan di saat teman-teman sebaya para santri di luar pesantren asyik dengan gadget, berselancar di dunia maya, nonton TV, film dan lain-lain. Di pesantren tidak ada semua itu. Menunda kenikmatan sesaat untuk tujuan-tujuan jangka panjang penting untuk diajarkan sejak dini. Sehingga santri tahu prioritas-priotas yang harus didahulukan.

Kelima, ketekunan menghadapi kejenuhan. Variabel ini sangat kental dengan santri. Selama enam tahun mereka hidup dalam siklus dan irama pesantren yang membosankan, dari bangun tidur sampai tidur lagi.  Santri harus membuat variasi sendiri agar kejenuhan dan rutinitas menjadi berwarna. Dengan demikian nalar dan otak mereka akan melahirkan kreatifitas.

Keenam, kemampuan menghadapi tekanan. Santri hidup bersama dengan aneka ragam watak dan karakter dalam lingkungan yang dibatasi tembok pesantren. Godaan teman yang menjengkelkan, senioritas yang menyebalkan, aturan dan disiplin yang mengikat, pelajaran dan kegiatan-kegiatan pesantren yang semua berjalan di atas tekanan baik manusia maupun waktu.  

Ketujuh, kemampuan menjalankan rencana. Karena disiplin waktu yang ketat, santri dituntut untuk membuat perencanaan dari jangka pendek atau jangka panjang. Baik itu mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Jika tidak ada perencanaan mereka akan terjebak ke dalam multi tasking.

Inilah nilai-nilai pendidikan non-kognitif Heckman yang menurut saya diterapkan dalam pendidikan di pesantren. Dengan kata lain pesantren membentuk mental belajar, mental hidup, dan lain sebagainya. Ditambah dengan pendidikan spiritualitas untuk menaklukan ego akan mewujudkan generasi yang tangguh. Dan inilah barangkali yang dirindukan orang tua untuk anak-anak mereka. Sebab, gigih akan membuat mereka gagah.

Tentang Penulis

Saeful Bahri

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

1 Komentar

Tinggalkan Komentar Anda