Cakrawala

Ghifit-14

Rasanya kita sudah teramat sangat letih bicara tentang negeri ini. Hampir soal apa saja. Pembelahan masyarakat, stigmatisasi, perundungan; sudah menjelma menjadi menu sehari-hari, dan menyebabkan orang gampang sesak nafas akut, nyaris seperti pasien Covid-19 pada fase terparahnya. Meski sebenarnya sudah menyebar sejak sekian tahun lampau, sampai sekarang virus penyebabnya belum sepenuhnya bisa dikenali, apalagi dicari vaksinnya.

Bahkan, kalau boleh jujur, virus tersebut justru jauh lebih berbahaya dibanding Covid-19. Ia bukan saja tidak membuat yang terpapar merasa sakit, tapi malah menyebabkan mereka merasa sehat, bahkan acap merasa sangat bugar, plus satu: selalu merasa benar dan siap melabrak siapa saja. Akibatnya, berlawanan dengan Covid-19, justru mereka yang kebal dan tak terserang virus inilah yang terserang sesak nafas, karena selalu menjadi sasaran labrakan dan perundungan.

Demikian pendapat seorang kawan dalam suatu obrolan di rumah saya. Tampaknya banyak hal memang sedang berlangsung dan dipelihara di negeri ini, sehingga tak mengherankan bila banyak yang mengkhawatirkan nasib bangsa di masa depan.

Salah satu penyebab adalah rendahnya literasi, demikian pendapat kawan lain. Secara umum literasi adalah proses belajar dan pembelajaran. Ia merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa.

Tak mengherankan bila rata-rata mereka tak tahan membaca, apalagi mengkritisi apa yang dibacanya. Di satu sisi, mungkin inilah yang menyebabkan maraknya gejala clickbait. Kebanyakan orang tampaknya hanya tahan membaca judul atau sedikit potongan isinya; lantas mengambil kesimpulan sesuai dengan persepsi yang sudah tertanam di pikirannya. Di samping itu, mereka tampaknya juga tak cukup punya kemampuan untuk membedakan tulisan yang dibangun berdasar nalar yang kuat, dengan yang manipulatif atau bahkan asal-asalan. Di sisi lain, ini pulalah yang menyebabkan semakin centang-perenangnya muatan sosial media saat ini.

“Masyarakat yang di tingkat dunia prestasinya cukup buncit dalam hal literasi; secara bersama-sama tiba-tiba punya kesempatan untuk memindah ‘obrolan warung kopi’nya ke medan yang sangat luas, sosial media. Bayangkan sendiri akibatnya,” ujar kawan tersebut.

“Tampaknya literasi bukan satu-satunya faktor,” sanggah kawan yang lain lagi.

“Buktinya, banyak yang mestinya berkategori terdidik; bahkan doktor atau profesor; juga acap berpenampilan yang sama,” demikian sambungnya.

“Itulah sebabnya perintah iqra’ dalam al Qur’an harus bismi rabbika alladzi khalaq; atas nama Rabb-mu yang menciptakan; karena semua yang terbentang ini adalah ciptaanNya. Kalau hubungan dengan penciptanya diputus, pasti luput pula iqra’nya.” sahut kawan yang lama belajar di pesantren.

“Sementara literasi itu sendiri sebenarnya hanyalah bagian paling luar dari iqra’. Jadi, meski pun disusun oleh doktor atau profesor sekali pun, hasilnya akan mengandung bias bila tak disertai bismi rabbika alladzi khalaq.”

“Nah, sekarang saya justru menangkap kesejajaran yang unik antara Covid-19 dengan virus hati dan pikiran yang menyebar di masyarakat, atau supaya agak mirip sebut saja Ghifit-14. Bukankah anjuran paling umum untuk menghindari Covid-19 adalah memakai masker, penjarakkan fisik dan sering cuci tangan?” ujar kawan yang pertama tadi.

“Tampaknya langkah-langkah ini juga bisa dipakai untuk menghindar dari virus Ghifit-14. Pertama, kita harus selalu me-masker-i mulut, sehingga ucapan yang keluar sudah benar-benar tersaring, bukan asal cuap saja. Kecuali itu, kalau ternyata sudah terpapar Ghifit-14, kita tak menularkannya ke orang lain. Kedua, kita harus berani melakukan penjarakkan dengan sosial media, karena di sanalah episentrum virus Ghifit-14. Agar tak tertular, tak usah gunakan sosial media; kecuali anda benar-benar kebal terhadap labrakan dan perundungan yang dihasilkan oleh virus tersebut. Ketiga, sering-sering cuci hati dan pikiran; sehingga kalau tak sengaja tertempel, virus tersebut tak sempat mengeram, beranak-pinak dan merusak unsur penting kemanusiaan anda tersebut.” lanjutnya.

“Ini penting mengingat grafik penyebaran Ghifit-14 belum pernah terlihat menurun, tapi terus menaik tajam. Kalau tak segera dipangkas, kita akan kesulitan untuk normal kembali; bahkan new normal pun kecil kemungkinannya; yang ada hanya keabnormalan yang semakin menjadi-jadi,” pungkasnya.

“Nanti dulu, Ghifit-14? Apa itu?” tanya kawan santri penasaran.

“Ghibah dan fitnah,”

“O, saya kira gimmick marah…”

“Beda. Itu gimar…”

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda