Tafsir

Tafsir Al-Fatihah: Bagaimana Membaca Basmalah (2)

Ilustrasi foto (sumber :society6.com)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Ketika Razi  menulis kitab tafsirnya di dunia Timur,  di waktu yang sama Filosof Ibn Rusyd menulis kitab fikihnya, Bidayatul Mujtahid, di Spanyol. Mereka membahas subjek yang sama dan mengasilkan kesimpulan yang sama.

Guncang dan Bertentangan

Yang kedua adalah riwayat Anas yang disampaikan Abu Qilabah, bahwa Rasulullah s.a.w., Abu Bakr, dan Umar semunaya mengeraskan bacaan bismil lahir rahmanir rahim. Yang ketiga, diriwayatkan bahwa Anas ditanya mengenai mengeraskan atau melembutkan bacaan bismil lahir rahmanir rahim itu, dan jawabnya: “Aku tidak tahu masalah itu.” Kesimpulannya, riwayat dari Anas dalam masalah ini guncang dan mengandung pertentagan (mudhtharib). (lih. Al-Fakhrur Razi, At-Tafsirul Kabir wa Mafatihul Ghaib, I: 208:211, passim).

Demikian rupa kadar keguncangan (idhtirab) itu, sehingga “sebuah argumen tidak bisa didirikan berdasarkan itu,” seperti yang disampaikan Ibn Rusyd  dari penilaian Abu Umar ibn ‘Abdil Barr, yang juga mengutip para ahli hadis. Demikianlah, sementara Al-Fakhrur Razi (w. 604 H.), di dunia Timur (ia lahir di Raiy, Persia, 544 H.), menuliskan ulasannya atas hadis-hadis riwayat Anas di atas, di Barat dan di waktu yang bersama Ibn Rusyd sang filosof (520-595 H., Cordoba, Spanyol) menuliskan kitab fikihnya, Bidayatul Mujtahid, yang juga membahas subjek yang sama dan mengasilkan kesimpulan yang sama.

Keguncangan yang disebutkan itu, seperti yang disampaikan Ibn Rusyd, disebabkan: sekali diriwayatkan dari Anas berita yang marfu’ (sampai, bersambung) kepada Nabi, dan sekali tidak marfu’. Ada yang menyebut Utsman r.a., ada yang tidak. Sebagian mengatakan “mereka membaca bismil lahir rahmanir rahim, sebagian mengatakan “mereka tidak membaca bismil lahir rahmanir rahim”, dan sebagian lagi “mereka tidak mengeraskan bacaan bismil lahir rahmanir rahim.” Adapun tentang hadis Ibn Mughaffal di atas, yang mengaku membaca basmalah dalam sembahyang lalu ditegur ayahandanya, Ibn Rusyd mengutip komentar Abu Umar: “Ibn Mughaffal orang yang tidak dikenal (majhul)” – dan itu  penilaian yang menjathukan, dalam Ilmu Hadis. (Abu Walid ibn Ruysd al-Qurthubi, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, I:124).

Dari riwayat Anas, jadinya, bisa ada yang mengangkut pendapat yang bertentangan dengan pendapat Ali seperti yang dipegangi Razi, dan bisa ada yang sejalan. Tetapi kita, demikian Razi, walaupun di dalam suatu hal, tidak akan pernah ragu bahwa, kalau terjadi pertentangan antara kata-kata Anas dan Ibnul Mughaffal di satu pihak dan pendirian Ali ibn Abi Thalib  yang menetap pada dirinya seumur hidupnya, di pihak lain, maka yang lebih utama adalah mengambil pendirian Ali. Lagi pula, kenyataannya para perawi hadis dari mazhab sirri (bacaan lirih, diam-diam) adalah Anas r.a. dan Ibnul Mughaffal, sementara perawi mazhab jahri (bacaan keras) adalah Ali ibn Abi Thalib, Ibn ‘Abbas, Ibn Umar, dan Abu Hurairah r.a. “Beliau-beliau itu lebih banyak ilmu dan kedekatannya dengan Rasulullah s.a.w. dibanding Anas dan Ibnul Mughaffal,” kata Razi akhirnya.

Adapun firman Allah “Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam dirimu dengan berendah hati dan diam-diam” , yang juga dijadikan alasan penguat mazhab sirri, itu mengenai zikir pada umumnya. Sedangkan masalah bismil lahir rahmanir rahim adalah masalah pembacaan kalam Allah di dalam suatu bentuk ibadah. Itu berbeda. Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Majalah Panjimas, 20 Februari-5 Maret 2003.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda