Mutiara

Sultan Banten yang Durhaka

A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Pengkhianatan Sultan Haji yang berperang melawan ayahnya sendiri, rupanya menimbulkan perasaan tidak enak di kalangan masyarakat Banten, khususnya keluarga kerajaan. Apalagi kisah ini pernah diangkat dalam sebuah kisah drama oleh seorang penulis Belanda.  Untuk itu sebuah cerita fiksi pun dibuat, yang sampai sekarang oleh sebagian masyarakat Banten dipercaya sebagai kisah nyata.

Sejarah mencatat, puncak kejayaan Kesultanan Banten berlangsung pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Pada masa ini pelayaran dan perdagangan maju pesat melebihi masa-masa sebelumnya. Kapal-kapal yang berlabuh dan berlayar di Banten adalah kapal-kapal dari Persia, India, Filipina dan bangsa-bangsa Asia Tenggara lainnya,  Jepang, Inggris, Prancis, dan lain-lain. Sultan juga membangun saluran irigasi dan mencetak sawah di daerah Pontang dan Tanara. Selain berhasil memajukan pertanian dengan sistem irigasi, Sultan Ageng  berhasil menyusun kekuatan angkatan perangnya, memperluas hubungan diplomatik, dan meningkatkan volume perdagangan Banten, sehingga Banten menempatkan diri secara aktif dalam perdagangan internasional di Asia Tenggara. .   

Pada masa pemerintahannya ini, Syekh Yusuf Al-Maqassari, seorang ulama besar asal Makassar, bukan saja tertarik mendatangi Banten, tapi bisa merasakan sebagai tanah sendiri. Selain menikah dengan salah satu putri Sultan, Syekh Yusuf menjadi qadhi Kesultanan,  dan bersama mertuanya  kemudian bahu membahu melawan kompeni. Di bawah Sultan yang bijaksana inilah Banten mencapai kegemilangan yang tinggi. Dia mengirim utusan diplomatik ke negeri-negeri Islam dan menyuruh anaknya naik haji sambil mengunjungi Turki.

Sementara itu, VOC (Vereenigde Oostindsce Compagnie),  atau Kongsi Dagang Hindia Timur,  yang berpusat di Batavia sedang gencar-gencarnya memperkenalkan serta memaksakan sistem monopoli,  sebuah sistem yang sama sekali tidak dikenal dalam tradisi Nusantara yang bertolak dari pemikiran laut bebas (mare liberum). Tidak terelakkan lagi, Banten pun berbenturan dengan kompeni yang memiliki teknologi persenjataan yang lebih canggih dan tentara yang berpengalaman. Perang pun berkobar, dan sebagaimana tercatat dalam sejarah: Banten kalah. Yang menyedihkan, kekalahan itu bermula dari pengkhianatan putra mahkota yaitu Sultan Haji.

Pada tahun 1681, Sultan Haji, dibantu oleh pasukan VOC, melakukan kudeta terhadap ayahnya dan berhasil menguasai Istana Surosowan. Perang  antara ayah dan anak pun tak terhindarkan. Pada 27 Febuari 1682, pasukan Sultan Ageng menyerang Belanda untuk mengepung Sultan Haji. Sang anak tidak kuasa melawan tentara ayahnya yang dalam waktu singkat berhasil menguasai kembali Istana. Tapi, Sultan Haji selamat dan dibawa ke loji milik VOC yang dijaga tentara Belanda. Kemudian dia meminta bantuan Batavia sehingga Gubernur Jenderal mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan Issac Martin.

Ringkas cerita, Sultan Ageng menjadi terjepit. Ia ditangkap dan dipenjarakan di Batavia hingga wafat pada 1692. Atas permintaan keluarganya, jenazah Sultan Ageng Tirtayasa dipulangkan ke Banten dan dimakamkan di kompleks Mesjid Agung Banten. Perjuangannya diteruskan oleh putranya, Pangeran Purbaya, dan menantunya, Syekh Yusuf. Tetapi, mereka pun berhasil dilumpuhkan. Syekh Yusuf diasingkan ke Srilangka dan kemudian ke Afrika Selatan, sedangkan Pangeran Purbaya dipenjarakan di Batavia sampai meninggal. Sebagai tanda terima kasih kepada Kompeni, Sultan Haji memberi hak monopoli dagang pada tahun 1684.

Masa pemerintahan Sultan Haji dipenuhi dengan berbagai pemberontakan. Keadaan ini dirasakan sangat menekan. Ditambah perasaan berdosa terhadap ayah, saudara, sahabat, dan para prajurit Banten, dan keharusan untuk selalu menuruti keinginan Belanda, Sultan Haji hidup dalam kegelisahan yang terus-menerus. Tapi, apa daya semuanya sudah terlanjur terjadi. Akhirnya ia jatuh sakit dan meninggal pada tahun 1687.

Setelah Sultan Ageng Tirtayasa dikalahkan, independensi Banten tahap demi tahap digerogoti. Sultan Haji, yang kemudian hidup dalam penyesalan, memang masih memerintah, tapi hegemoni sudah di tangan VOC. Hegemoni ini, seperti dikatakan sejarawan Taufik Abdullah,  kemudian berubah menjadi dominasi, mulai dari zaman Daendels sampai pada akhirnya Banten diperintah langsung di bawah Hindia Belanda. Dari sebuah kerajaan yang besar Banten pun menjadi sebuah residentie atau karesidenan. Jika pada masa Kesultanan Banten pusat pemerintahan berpusat di kota yang sekarang disebut Banten Lama, pada era kolonial ibu kota Karesidenan Banten di pindahkan ke Serang, yang sekarang menjadi ibu kota Provinsi Banten.

Akan tetapi pengkhianatan Sultan Haji yang berperang melawan ayahnya sendiri, rupanya menimbulkan perasaan tidak enak di kalangan masyarakat Banten, khususnya keluarga kerajaan. Apalagi kisah ini pernah diangkat dalam sebuah kisah drama oleh seorang penulis Belanda, Onno Zwiervan Haren menulis sebuah drama mencekam berjudul “Agon Sulthan van Bantam”, yang berkisah tentang bantuan militer Belanda kepada anak Sultan Ageng yang durhaka itu.  Untuk itu sebuah cerita fiksi pun dibuat, yang sampai sekarang oleh sebagian masyarakat Banten dipercaya sebagai kisah nyata, sebagaimana termuat dalam  Wawacan Syekh Mangsur.

Cerita itu   mengungkapkan bahwa Sultan Haji sewaktu kecil dikenal sebagai anak yang alim, berakhlak mulia, dan amat berbakti kepada orangtua.  Sewaktu akan menunaikan ibadah haji, ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, berpesan kepada putranya itu agar sekembalinya dari Tanah Suci, ia harus langsung pulang ke Banten. Tidak boleh singgah di mana-mana. Rupanya dia  tidak memenuhi nasihat orangtuanya itu. Sepulangnya dari Mekah, ia ternyata singgah di Pulau Putri atau Pulau Majeti. Di sana, Sultan Haji bertemu dengan seorang perempuan yang cantik, keturunan Raja Jin. Dia jatuh cinta, lalu menikahinya. Atas permintaan sang putri, seluruh pakaian dan perhiasan ini kemudian diberikan kepada kakak sang putri yang yang kebetulan berwajah mirip dengan Sultan Haji. Si Abang itulah yang kemudian berlayar ke Batavia dan mengaku bernama Sultan Haji. Karena pakaian dan wajahnya memang mirip, rakyat pun mengakuinya. Dialah yang kemudian memerintah Banten dan berperang melawan Sultan Ageng  Tirtayasa

Menyadari kesalahannya, Sultan Haji lalu kembali ke Mekah. Bertobat, sambil memperdalam ilmu. Begitulah, setelah selang beberapa tahun, Sultan Haji yang asli ini pulang ke Banten, dan melihat keadaan negerinya yang sudah berubah. Untuk menjaga jangan terjadi keributan, ia menyingkir ke Cimanuk, Cikadueun, Pandeglang. Di sana, ia aktif menyebarkan agama Islam hingga meninggal dunia. Dialah yang kemudian dikenal dengan nama Haji Mansyur atau Syekh Mansyur Cikadueun, yang makamnya di keramatkan dan ramai diziarahi itu. Begitulah cerita yang telah melegenda tentang Sultan Haji yang berbeda dengan catatan sejarah.

Pengkhianatan Sultan Haji terhadap ayahnya sendiri,  merupakan lembaran hitam dalam sejarah Banten yang terasa pahit untuk dikenang. Maka, bisa dimaklumi  jika kemudian dimunculkan kisah untuk mengubur, atau setidaknya menandingi, ingatan koletif yang terasa getir itu. Setidaknya, kisah yang sudah melegenda di kalangan masyarakat Banten itu dikarang untuk menutupi kesalahan Sultan Haji dan kelemahan keluarga keraton.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda