Tasawuf

Nasionalisme Itu Nomor Tiga …

“Kalau memang mau mengaplikasikan Pancasila secara murni dan konsekuen, maka kita harus menempatkan nasionalisme di urutan ketiga…” jelas Pak Amal suatu ketika.

“Lho? Bagaimana maksudnya? Bukankah selama ini kita dibiasakan berpikir bahwa apa pun boleh dilakukan demi menjaga kepentingan nasional?” sahut Kang Sam.

“Nah, yang demikian itu justru bertentangan dengan Pancasila,” jawab Pak Amal, “mari kita runut pelan-pelan. Dalam rumusan Pancasila, nasionalisme diwakili oleh sila ketiga: persatuan Indonesia.”

  “Kalau kita membaca Pancasila sebagai sebuah kesatuan rumusan yang masing-masing silanya tidak berdiri sendiri-sendiri tapi terhubung satu dengan yang lain, maka penafsirannya pun harus dilakukan dalam kerangka ini pula. Salah satu contoh adalah: kita tidak bisa begitu saja bicara tentang sila ketiga, persatuan Indonesia, yang dianggap mewakili nasionalisme; tanpa lebih dahulu bicara tentang sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa; dan sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab.”

“Artinya penerapan sila ketiga, harus dianggap tidak sah bila ia menabrak sila pertama dan kedua. Atau dengan kata lain, persatuan Indonesia atau nasionalisme di Indonesia adalah nasionalisme yang berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Menurut rumusan Pancasila sendiri, kita tidak boleh mengatasnamakan nasionalisme untuk menabrak prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Menurut saya, ini adalah pilihan sadar dan mendasar dari para bapak bangsa yang menerima, mengolah dan merumuskan ulang Pancasila pada 18 Agustus 1945, berdasar rumusan awal yang disusun dan diusulkan pertama kali oleh Ir. Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) pada 1 Juni 1945.”

“Kenapa demikian? Menurut saya, karena para bapak bangsa menyadari berlimpahnya fakta sejarah yang menunjukkan betapa nasionalisme bisa melahirkan dampak negatif bila tidak didasari oleh prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab yang selalu bersifat universal. Dari sudut pandang ini, rumusan Pancasila sebenarnya bisa dipandang sebagai bentuk ijtihad yang cemerlang, karena wacana yang ditawarkannya bisa meredam paradoks dalam nasionalisme yang selama ini berkembang.”

“Yang tak kalah menarik untuk ditelisik, adalah pilihan kata yang dipakai oleh para bapak bangsa dalam sila ketiga. Kita tahu, dalam empat sila lainnya kata kunci yang dipakai selalu menggunakan imbuhan ke-an; Ketuhanan, kemanusiaan, kerakyatan, keadilan. Tapi khusus untuk sila ketiga imbuhan yang dipilih adalah per-an; persatuan, bukan kesatuan. Tentu ini bukan pilihan yang dibuat tanpa landasan dan pertimbangan yang kuat.”

“Untuk sekadar ilustrasi, pertama-tama mari kita pinjam terminologi yang dipakai Islam untuk memahami perbedaannya. Dalam Islam ada terminologi Al-Ahad atau Ahadiyah dan Al-Wahid atau Wahidiyah. Al-Ahad atau Ahadiyah adalah ketunggalan mutlak, yang utuh dan tak terpecah; sementara Al-Wahid atau Wahidiyah adalah keunikan yang termanifestasikan dalam beragam ciptaanNya.”

“Kalau memakai terminologi ini, maka kesatuan bisa dianggap mewakili konsep Ahadiyah, sementara persatuan mewakili konsep Wahidiyah. Kesatuan itu sifatnya eksklusif dan sentralistik, sementara persatuan sifatnya inklusif dan tersebar. Kesatuan itu cenderung ke penyeragaman, sementara persatuan itu cenderung ke pengakuan keunikan tiap entitas. Bila pendekatan ini diterima, maka boleh dikatakan bahwa kata persatuan dalam sila ketiga memang sengaja dipilih untuk menunjukkan hubungan tak terpisahnya dengan sila pertama dan kedua. Persatuan adalah gabungan beberapa atau banyak entitas yang masing-masing memiliki keunikan sendiri; dan keunikan atau wahidiyah hanya mungkin ada kalau kita mengakui sumber asalnya yaitu Keesaan Tuhan atau ahadiyah. Dan dengan demikian, standar penyikapan yang harus dipakai untuk mewujudkan persatuan adalah kemanusiaan yang adil dan beradab.”

“Penjelasannya begini: dengan merujuk ke Ahadiyah Allah, orang otomatis akan mengikuti kehendakNya; dan dengan mengikuti kehendakNya ia mampu menjadi khalifah untuk memancarkan sifat kasih sayang (rahmah) yang merupakan sifat utama Allah. Pancaran kasih sayang pertama tertuang di sila kedua: kemanusiaan yang adil dan beradab. Ini adalah norma kasih sayang yang universal, tidak tersekat oleh apa pun. Orang harus memperlakukan manusia sebagai manusia, bukan sekedar obyek atau sekedar statistik; secara adil, yang artinya pada tempatnya atau proposional; dan beradab, yang artinya sesuai dengan norma penghormatan yang layak. Lawan kata adil adalah dzolim, artinya aniaya. Sementara lawan kata adab adalah biadab yang muatannya memperhinakan.”

“Kalau pembicaaan tentang ini masih mau dilanjutkan, maka bisa juga dikatakan bahwa bentuk atau metode penerapan sila ketiga, persatuan Indonesia, menurut Pancasila sendiri adalah lewat sila keempat: kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Sementara tujuannya ada di sila kelima, yakni mencapai: keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.”

“Menurut saya, Pancasila memang satu kesatuan wacana yang tak terpisah satu dengan yang lain. Memecahnya sila per sila, justru berkemungkinan menggerus semangat dasarnya.”

Kami cuma menggangguk-angguk mendengar penjelasan panjang lebar dari pak Amal ini.

“Yang tak kalah menarik, Pancasila yang sekarang kita kenal itu sebenarnya sudah dirumuskan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan pada tanggal 22 Juni 1945, dan diberi nama Piagam Jakarta. Pada tanggal 18 Agustus 1945, seluruh isi Piagam Jakarta ini, dengan menghapus tujuh kata, yaitu: dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, yang tercantum di belakang kata Ketuhanan di sila pertama; dan menggantinya dengan kata Yang Maha Esa; lantas dimasukkan sebagai pembukaan UUD 1945. Nah, penggunaan kata Piagam Jakarta ini sangat menarik untuk digaris-bawahi, karena mengingatkan kita pada Piagam Madinah yang disusun di masa Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa salam. Dan bukan kebetulan bahwa semangatnya pun hampir sama.”

“Jadi jelas ya, nasionalisme atau kalau pakai bahasa Arab hubbul wathon, itu nomor tiga; bukan nomor satu. Dan bukan minal iman, bagian dari iman; tapi yang lebih bisa diterima seharusnya bil iman, dengan iman; hubbul wathon bil iman. Dan iman jelas terkait dengan sila pertama dan dimanifestasikan lewat sila kedua,” jelas pak Amal.

Semua anak yang di gotha’an saling bertukar pandang, kemudian saling tuding, saling tertawa kecut, dan akhirnya kami semua tak bisa menahan diri untuk tidak terbahak-bahak.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda