Cakrawala

Membangun Kepemimpinan Islam Masa Depan

Muchlis Patahna SH MKn

Tipe kepemimpinan umat Islam Indonesia  memiliki corak atau model yang beragam. Mulai yang terbentuk secara kultural, pendidikan dan yang muncul dari organisasi. Belakangan ini model kepemimpinan  umat juga  dilahirkan berkat memanfaatkan internet atau  dunia digital. Mereka tampil dan dikenal luas berkat teknologi komunikasi yang memiliki audiens yang massif dan berdaya jangkau luas ini.

Dalam konteks tulisan ini kepemimpinan diartikan secara luas yaitu bukan saja dalam arti ada pemimpin dan yang dipimpin, namun juga terkait dengan mereka yang memiliki segmen atau basis massa karena pengaruh ide ide atau pemikiran yang disampaikan.

Merumuskan model kepemimpinan umat Islam Indonesia bisa ditelusuri dari berbagai aspek. Yang melihat dari aspek politik dan ideologi menyebutkan ada pemimpin fundamentalis (garis keras) dan ada yang moderat (garis lunak). Sedangkan yang menyigi dari sudut budaya mengungkap adanya kepemimpnan tradisional dan pemimpin modernis. Dua kategori ini  biasanya dikaitkan dengan ormas Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Di samping yang disebutkan di atas tentu ada juga yang disebut pemimpin yang berasal dari  partai politik Islam. Dan, ini pun juga ada yang berkategori pemimpin partai Islam tradisionalis dan partai politik Islam modernis.

Masih ada corak pemimpin Islam lain yang bersumber dari lembaga pendidikan, pertama dari dunia pesantren yang banyak hadir di pedesaan, dan pemimpin dari lembaga pendidikan Islam yang ada di perkotaan, yang besar di antaranya milik ormas Muhammadiyah.

Namun, ada lagi pengkategorian lain dengan melihat pemimpin formal dan informal. Yang formal secara sederhana bisa dikaitkan yang berasal dari institusi pemerintah seperti Departemen Agama melalui pengangkatan, dan informal adalah mereka yang  mendapat pengakuan dan legitimasi dari masyarakat karena ketokohannya. Dan untuk yang terakhir ini mereka bisa juga disebut” intelektual bebas atau pemimpin bebas”.

Yang juga dikenal luas di masyarakat adalah pemimpin Islam semi formal,artinya mereka awalnya ulama bebas tapi kemudian diangkat oleh pemerintah untuk mengisi institusi keagamaan yang dibentuk pemerintah. Contohnya adalah pemimpin Islam yang duduk di MUI atau Majelis Ulama Indonesia.Demikian juga organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) merupakan juga salah satu sumber kepemimpinan Islam yang dibentuk dari latarbelakang para cendekiawan muslim.

Satu lagi pemimpin Islam yang mungkin jarang terdengar dan unik adalah yang disebut” pemimpin Islam dan tokoh nasional”. Walaupun jarang yang mendapat dua gelar ini sekaligus, karena kualifikasinya memang berat. Mendiang wakil.presiden Muhammad Hatta, rasanya figur yang mendapat sebutan langka ini.

Terakhir kita melihat akhir-akhir ini  bermunculan pemimpin Islam yang populer dan dikenal luas berkat teknologi digital. Mereka memiliki audiens atau jamaah yang besar dan luas tersebar di seluruh Indonesia,bahkan sampai negara lain. Sebut saja antara lain Ustadz Abdus Samad,Ustadz Das’ad Latif, Ustadz Adi Hidayat dan lainnya. Kemunculan mereka makin memperkaya khasanah kepemimpinan umat Islam Indonesia dan makin memperkaya pula corak metode dakwahnya.
     
Pemandu Ummat dan opinion leader
       
Para pemimpin umat ini dengan corak dan lingkungannya masing-masing  berperan sebagai pemandu umat. Baik di pedesaan maupun di perkotaan kita menemukan mubaligh bebas yang menyampaikan dakwah dan penerangan agama Islam di tengah masyarakat.Mereka menjelaskan berbagai hal ajaran agama terkait ibadah, muamalah, hukum, kehidupan rumah tangga, dan lainnya, termasuk  menyangkut  perkembangan aktual yang terjadi di masyarakat ditinjau dari sudut Islam. Dalam.kasus wabah virus corona atau Covid 19 nampak peran ulama cukup menonjol memberikan pedoman ibadah  ke masyarakat dihubungkan  dengan larangan berkumpul atau social distancing. Sebab, ritus ibadah Islam memang sarat dengan ibadah corak massal seperti salat id, salat tarawih , salat jamaah dan lainnya.

Satu hal yang diyakini bahwa pemuka Islam di Indonesia memiliki kekuatan untuk mempengaruhi opini masyarakat. Ulama dan para pemuka agama  Islam karena akses dan tingkat kedekatan serta keterlibatannya yang tinggi di tengah masyarakat berperan kuat sebagai opinion leader atau pemimpin yang bisa mempengaruhi pendapat di tengah masyarakat.

Dengan demikian baik para ulama atau pemuka agama yang berdakwah secara face to face (tatap muka) maupun dengan memanfaatkan teknologi elektronika, televisi maupun digital/internet akan makin kuat peranan dan pengaruhnya di masa depan. Sebab, tingkat problema dan permasalahan bangsa akan semakin bertambah dan makin komplek di masa depan. Negara kita sejak 20 tahun terakhir ,terutama diawali memasuki era reformasi, ditandai dengan kebebasan yang luar biasa di semua sektor baik politik, ekonomi, budaya dan lainnya, makin komulatif atau menumpuk permasalahan yang dihadapi, dan kian berkembang pula pendapat dan pandangan yang muncul. Dalam konteks inilah suatu pasar idea atau bursa idea makin dicari banyak orang.

Contoh yang kongkrit adalah sejak diberlakukannya pemilihan umum secara langsung baik pemilu legislatif maupun pilpres maka berbagai argumentasi muncul untuk mempengaruhi opini publik dalam masalah politik. Dalam hal ini maka para pemuka Islam seharusnya  tidak ketinggalan turut ambil bagian dalam mempengaruhi opini publik untuk memberikan pedoman dan arahan bagi masyarakat politik kaum muslimin untuk menentukan pilihannya.
       
Kombinasi kepemimpinan
Sebuah perubahan yang luar biasa terjadi sekarang ini sejak munculnya telekomunikasi canggih yaitu dunia internet ,hp atau gawai. Masyarakat dengan mudah menyerap informasi dengan cepat, bukan lagi per-hari tapi per-jam, bahkan per sekian menit. Dengan terbukanya informasi dan kemudahan untuk mengaksesnya maka kalangan pemuka Islam juga wajib memanfaatkan untuk mengembangkan dakwah dan menjalin komunikasi dengan umat.

Sebuah relasi dan komunikasi antara pemuka Islam dengan jamaah juga menuntut pembaruan. Jika sebelumnya yang dominan secara  tatap.muka, saat ini dakwah juga dilakukan melalui media online atau media sosial  secara tidak langsung.

Baik komunikasi secara langsung dan tidak langsung memiliki kelemahan dan keunggulannya masing-masing. Komunikasi secara langsung memberikan efek psikologis yang lebih kuat, hubungan terasa akrab ,intim dan dekat, namun komunikasi model ini jangkauannya terbatas dengan jumlah audiens juga terbatas. Sedangkan komunikasi melalui media online atau menggunakan internet sekarang ini lebih cepat tersebar,  jumlah pemirsa yang tidak terbatas serta jangkauan yang luas.

Kepemimpinan umat Islam ke depan harus tetap memperhatikan dua model komunikasi ini. Sebab, keduanya masih tetap strategis dan penting. Yang perlu disempurnakan ke depan adalah makin dituntut keaktifan seluruh komponen kepemimpinan  umat Islam untuk aktif menyebarkan informasi ajaran Islam, merespon  berbagai opini dalam masyarakat, menyikapi perkembangan sosial ,budaya, agama, politik, hukum, ekonomi dan berbagai.masalah penting lainnya yang sangat dinamis dan cepat berubah. Sebuah contoh sekarang ini adalah lahirnya kontroversi beberapa undang-undang yang menimbulkan polemik di masyarakat seperti RUU HIP, UU Revisi KPK, UU Minerba, RUU Omnibus law dan lainnya. Belum.lagi munculnya isu-isu politik yang berkembang setiap hari maupun menjelang pemilu legislatif, pilpres dan pilkada, yang terakhir ini  tiap tahun telah menjadi agenda rutin yang harus diikuti masyarakat.

Pentingnya kepemimpinan umat Islam membangun media informasi dan komunikasi  mengingat pula maraknya berita bohong atau hoaxs yang sekarang sulit diberantas dengan munculnya para buzzer yang tampaknya sudah   menjadi ” industri” tersendiri , dan juga media mainstream yang dinilai tidak netral dan berpihak.

Jika kepemimpinan Islam tidak memperhatikan pentingnya media informasi dan komunikasi ini maka umat Islam akan mengalami nasib yang terus terpinggirkan dan termarjinalkan. Allahu ‘alam. (*)

Tentang Penulis

Muchlis Patahna SH MKn

Muchlis Patahna SH MKn

Ketua Umum BPP KKSS, notaris di Jakarta, magister notariat UI, Penasehat PP IPPAT, Sekjen Majelis Nasional KAHMI (2006-2009), menulis beberapa buku tentang hukum, demokrasi, pesantren dan peran notaris.

Tinggalkan Komentar Anda