Tafsir

Tafsir Al-Fatihah: Bagaimana Membaca Basmalah (1)

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Riwayat dari Imam Ahmad ibn Hanbal. Pendapat beliau: tasmiah (basmalah, bacaan bismillah) adalah ayat dari  Fatihah, hanya saja ia dibaca diam-diam (sirri) di tiap rakaat salat. Adapun pendapat Syafi’i: ia ayat dari Fatihah dan dibaca dengan keras (jahri), yakni pada dua rakaat pertama salat-salat magrib, isya, dan subuh. Sedangkan bagi Abu Hanifah, basmalah bukan ayat dari Fatihah, tapi ia dibaca diam-diam (sirri), di tiap rakaat salat. (Lih. Panjimas 09/I). Fakhruddin ar-Razi, mufasir kita yang menuliskan masalah ini, menyatakan kesimpulannya sendiri: membaca basmalah dengan keras (dalam salat-salat jahri di atas) adalah sunah. Dalil-dalilnya antara lain:

Pertama. Yang bisa dipikirkan dari perintah membaca surah ialah bahwa sebuah surah bisa dibaca seluruhnya dengan diam-diam, bisa pula seluruhnya dengan keras. Membaca sebagian surah dengan lirih dan sebagian yang lain dengan keras itu tidak ada, untuk surah apa pun.

Kedua, bismillahir rahmanir rahim adalah satu bentuk pengagungan Allah, dan karena itu mengumandangkannya (i’lan) disyariatkan, sesuai dengan firman “Maka sebutlah Allah seperti kalian menyebut-nyebut nenek moyang kalian (seperti kebiasaan orang Arab tradisional) atau secara lebih sangat lagi” (Q. 2:200). Diketahui bahwa siapa saja yang membanggakan bapaknya, dan bukannya malu, akan menyebarkan nama bapaknya dan bahkan bisa berlebih-lebihan menyebut-nyebut namanya.

Ketiga, penyebut diam-diam itu tidak cocok kecuali untuk hal-hal yang yang mengandung cacat atau kekurangan, agar aib tidak tersebar (padahal penyebutan lirih atau diam-diam juga dilakukan dalam hal yang  bersifat rahasia atau yang sangat intim, seperti yang menyangkut cinta, bukan?—pen.). Karena sebab itu pulalah dinukilkan riwayat bahwa mazhab ‘Ali r.a. dalam hal bismillah ialah membacanya dengan keras di semua salat.

Keempat, hadis riwayat Syafi’i tentang Muawiah yang ketika datang ke Madinah (dari Syam) dan memimpin salat, diprotes orang-orang karena tidak membaca basmalah dan tidak bertakbir sewaktu rukuk dan sujud. Sampai salat diulangi dengan bacaan basmalah dan takbir yang jelas (lihat Juga Panjimas 09/1). Kata Imam Syafi’i: Mu’awiah adalah sultan yang kuat dan sangat berkuasa. Kalaulah bukan lantaran membaca basmalah dengan keras itu satu hal yang sudah disepakati di kalangan seluruh sahabat, Muhajirin maupun Anshar, tidak mungkin mereka (berani) memperlihatkan penolakan kepadanya disebabkan meninggalkan basmalah itu.”

Kelima. Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra, dari Abu Hurairah r.a. Katanya, “Dahulu Rasulullah s.a.w. mengeraskan bacaan bismillahir rahmanir rahim di dalam salat.” Baihaqi juga meriwayatkan pembacaan keras itu dari ‘Umar ibn Khattab, putranya Ibn ‘Umar, juga Ibn ‘Abbas, dan Ibnusz Zubair. Adapun bahwa ‘Ali ibn Abi Thalib r.a. mengeraskan basmalah itu sudah merupakan berita mutawatir (diriwayatkan semua orang). Maka, barangsiapa dalam perkara agamanya, demikian Razi, mengikuti Ali ibn Abi Thalib (sepanjang riwayat yang sah tentang Ali), ia telah benar-benar berada dalam petunjuk. Dalil yang dibawakan Razi adalah sabda Rasul s.a.w., “Allahumma, tempatkanlah kebenaran pada Ali’.”

Tiga Khalifah vs Ali

Berikutnya, Razi mencatat argumen mereka yang berpendapat sebaliknya. Pertama adalah riwayat Bukhari dari Anas r.a., yang menyatakan: “Aku bersembahyang di belakang Rasulullah s.a.w., dan di belakang Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman. Mereka semua membuka bacaan dengan al-hamdu illahi rabbil ‘alamin.” Ini diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Shahih-nya. Di situ disebutkan  bahwa beliau-beliau itu tidak mengucapkan bismil lahir rahmanir rahim. Dalam riwayat yang lain: “Aku tidak mendengar seorang pun dari mereka mengeraskan bacaan bismil lahir rahmanir rahim.

Alasan kedua adalah riwayat ‘Abdullah ibn al-Mughaffal. Katanya, “Ayahku mendengar aku mengucapkan bismil lahir rahhmanir rahim (ketika membaca Fatihah dalam salat). Maka, katanya, “Anakku, hati-hatilah terhadap segala yang baru (bid’ah) di dalam Islam. Aku sudah sembahyang di belakang Rasulullah s.a.w., di belakang Abu Bakar, di belakang ‘Umar, dan ‘Utsman, dan mereka semuanya memulai bacaan dengan al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin.” Catatan Razi: Anas maupun Ibnu Mughaffal mengkhususkan tiadanya bacaan bismil lahir rahmanir rahim itu pada khalifah yang tiga, dan tidak menyebutkan Ali r.a.  Itu menunjukkan kesepakatan semua bahwa Ali r.a. mengeraskan bacaan bismil lahir rahmanir rahim.

Alasan ketiga, firman Allah Ta’ala: “Serulah tuhanmu dengan berendah diri dan diam-diam” (Q. 7:205), dan “Sebutlah Tuhanmu dalam dirimu dengan berendah diri dan diam-diam” (Q. 7:205).

Adapun jawabannya bisa diberikan dari beberapa segi. Pertama tentang hadis Anas di atas. Berkata Syekh Abu Hamid al-Isfarayini: untuk bab ini, dari Anas r.a. diriwayatkan enam riwayat. Sedangkan golongan mazhab Hanafi meriwayatkan dari dia tiga riwayat. Salah satunya adalah yang memuat kata-kata Anas: “Aku salat di belakang Rasulillah s.a.w., dan di belakang Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Mereka semua membuka bacaan dengan al-hamdu illahi rabbil ‘alamin.” Yang kedua adalah kata-katanya, “Mereka dahulu tidak mengucapkan bismil lahir rahmanir rahim.” Yang ketiga: “Aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca bismil lahir rahmanir rahim.” Riwayat yang tiga ini memperkuat pendapat golongan Hanafi.

Tetapi tiga yang lain melawan pendirian mereka. Yang pertama: Anas, seperti yang telah kita cantumkan, meriwayatkan bahwa Mu’awiah ketika meninggalkan bismil lahir rahmanir rahim dalam salat tidak dibenarkan oleh para sahabat dari Muhajirin maupun Anshar – dan sudah kita jelaskan, ini menunjukkan bahwa bacaan keras untuk lafal ini (basmalah) seperti suatu perkara yang mutawatir (diketahui semuanya) di antara mereka. Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 

Sumber: Majalah Panjimas, 20 Februari-5 Maret 2003.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda