Cakrawala

New Normal : Ketidaknormalan atau Abnormal ?

Written by Musa Maliki

Sebenarnya saya sudah begitu lelah menulis tentang Covid-19, tapi saya tak mampu menahan diri untuk berkomentar tentang new normal di Indonesia. Ada semacam budaya baru, yakni merayakan new normal ditengah banyak kematian. Bisa jadi pengamatan saya salah, tapi tulisan ini hanya refleksi saya atas apa yang saya lihat.

Mungkin banyak tulisan saya tidak menarik sebab selalu mengajak pembaca ikut berefleksi tentang sesuatu, bukan menyodorkan tulisan yang siap saji dan dikonsumsi mentah-mentah. Namun saya tak lelah mengajak pembaca untuk ikut berefleksi agar kita membuahkan solusinya masing-masing. Saya tidak pernah percaya suatu solusi bagi semuanya, sebab manusia yang berbeda-beda dan konteks masalah yang berbeda-beda tentunya mempunyai solusinya masing masing. Problem besar sekarang di alam modernitas adalah solusi yang generalis justru membuahkan masalah baru. Solusi adalah masalah baru.

Apa New Normal?

Dalam menghadapi Covid-19, ada momen dimana orang-orang di dunia menjalani new normal atau kenormalan baru. New itu sesuatu yang baru atau kebaruan bagi seseorang atau dikonstruksi oleh suatu rezim sebagai suatu yang baru. Sedangkan normal bersumber dari bahasa latin norma, yakni aturan, pola, teori, dan kejelasan. New normal (Normal baru) akan lahir ketika ada gap atau patahan dari yang biasa kita lakukan menjadi yang tak biasa kita lakukan. Normalisasi sesuatu yang baru bisa dipahami sebagai jalan menuju ketidaknormalan baru.

Misalnya, biasanya kita bekerja tanpa masker dan face shield, kini dibiasakan untuk pakai semua perlengkapan itu. Biasanya kita ngobrol bebas menjadi tidak ngobrol bebas secara fisik. Biasanya kita hidup tanpa makhluk amat sangat kecil, SARS-CoV-2, kini kita hidup berdampingan dengannya. Jadi kenormalan baru adalah ketidaknormalan bagi masa lalu. Kenormalan adalah ketidaknormalan yang dibiasakan.

Secara substansial, sejak kapan kita hidup normal? Setiap orang mempunyai standarnya sendiri-sendiri dalam menghadapi hidup. Bagi orang kaya yang tiba-tiba jatuh miskin, hal itu tidaklah normal. Bagi pejabat yang tertangkap karena korupsi, hidupnya berubah menjadi tidak normal, dipenjara. Rezim baru berubah demikian pula hidup masyarakat dan para elit politik berubah. Perubahan adalah proses menuju ketidaknormalan yang dinormalkan.

Dalam konteks sejarah, kita ambil saja klaim orang-orang Barat yang percaya akan abad pencerahan (abad modern). Faktanya, awal modernitas, di Eropa terjadi perang 30 tahun antara agama dengan melibatkan para raja, apakah kehidupan penuh peperangan adalah normal? Setelah masih banyak terjadi peperangan, lalu perbudakan masih terus saja berjalan, khususnya perbudakan kulit hitam yang diperjualbelikan, lalu kolonialisasi negara-negara Eropa yang mana perbudakan masih saja terjadi, lalu perang ideologi yang diciptakan oleh peradaban modern: Liberalism, Marxisme, Fasisme, totalitarianisme, dan sejenisnya. Apakah dunia modern semacam itu disebut kenormalan? Apakah solusi demokrasi liberal adalah solusi bagi semua negeri di dunia? Apakah demokrasi liberal normal bagi semua negara di dunia? Dan seterusnya.

New Normal adalah Perubahan Ekonomi Dunia

Jika kita melakukan research di buku-buku yang agak serius dan lebih serius lagi, maka terminologi new normal sudah ada sejak Engels teman Karl Marx hidup. Engels (1844) bercerita bahwa new normal saat itu ditandai aktivitas sosial dan ekonomi: urbanisasi, yakni pengumpulan manusia di kota besar; tradisi hidup dari rural menuju urban; kebijakan pemerintah banyak berjangka pendek sehingga pertimbangan serius tentang masa depan dan keberlangsungan umat manusia tak pernah terpikirkan. Jadi seruan kenormalan baru faktanya adalah ekonomi harus berjalan.

Kenyataannya, tulisan tahun 2000-an tentang istilah kenormalan baru hanya bercerita tentang tantangan ekonomi, yakni pertumbuhan ekonomi yang melemah, pengangguran yang semakin bertambah, jual beli yang selalu terikat utang, pajak yang terus naik, negativisme globalisasi, imigrasi yang membuat konflik sosial, dan regionalisme ekonomi.

Jadi kebijakan new normal adalah kebijakan pemerintah tentang ekonomi, khususnya demi pertumbuhan ekonomi sedangkan kebijakan protokol Covid-19, khususnya di Indonesia, hanyalah politik pengguguran kewajiban negara terhadap warganya. Pemerintah tidak mempunyai kapasitas sosial untuk terus membantu rakyatnya. Oleh sebab itu biarlah rakyat yang menanggung semuanya dengan bekerja kembali. Biarlah mekanisme pasar tetap berjalan agar negara tetap survive.

Kenormalan/New Normal/Ketidaknormalan adalah abnormal

Menuju new normal adalah suatu normalisasi ketidaknormalan. Namun ketidaknormalan di Indonesia justru kondisi abnormal: Pertama, merayakan dibukanya ekonomi di 9 sektor, khususnya yang lagi gencar-gencarnya, pariwisata, di tengah pandemik dengan dalih protokol kesehatan. Kita tak mampu hidup tanpa aktivitas ekonomi, karena roda ekonomi harus tetap berputar. Pilihannya adalah meninggal karena ekonomi terhenti atau melakukan aktivitas ekonomi terkena Covid-19 lalu meninggal.

Kedua, pilihan kebijakan di Indonesia jelas, yakni ekonomi lebih utama. Hal itu ditandai dengan awal Juni 2020, dibukanya kelonggaran PSBB bertemu dengan ledakan rekor tertinggi korban Covid-19 Indonesia (1.043 orang), khususnya kota besar yang menjadi sarang SARS-CoV-2 seperti Surabaya dan Jakarta. Jadi korban sekarang grafiknya terus meningkat akibat PSBB 2 minggu yang lalu.

Ketiga, awal Juni ini pun terjadi kerumunan manusia yang luar biasa. Mungkin hal ini adalah bentuk luapan kemeriahan menyambut new normal. Di daerah sepanjang arah Puncak Bogor, terjadi kemacetan yang luar biasa, bahkan motor pun sulit bergerak di jalan. Arah puncak terjadi lautan manusia. Ada pula demonstrasi tentang PKI di Solo yang diunduh di Facebook milik akun Ismail Fahmi (Saya unduh dari FB sebab tidak ada satu media pun yang memberitakan hal ini). Gelora Bung Karno, Senayan pun begitu ramai dipadati lautan penggila olah raga. Awal Juni car free day dibuka lalu sekarang ditutup kembali, karena beritanya ada yang terkena Covid.

Keempat, kini sudah dua minggu berlalu dari sejak awal Juni, peningkatan Covid-19 tetap signifikan. Grafik di Jawa tetap naik demikian pula rata-rata di Indonesia; di daerah seperti Surabaya setiap harinya masih ada ratusan kasus dan rata-rata di Indonesia setiap harinya naiknya masih saja ribuan.

Bagi seseorang yang masih kuat secara ekonomi dan tinggal di luar negeri atau bagi suatu negara yang masih mampu secara ekonomi melihat Indonesia dari luar Indonesia, mereka akan mengatakan kepada Indonesia sebagai negara abnormal, suatu kegilaan yang dilegitimasi sebagai kenormalan. Menurut penulis Asia Times, James P. Bean (8 Juni 2020) kebijakan new normal Indonesia adalah malapetaka: “Indonesia’s ‘new normal’ a disaster in the making”.

Singkatnya, bukankah start-nya Indonesia dalam terkena pandemi berbeda dengan negara lain yang sudah mengimplementasikan kenormalan baru? Mengapa kebijakan kenormalan baru Indonesia ingin memulai pada garis start yang sama negara lain? Hal ini seperti masbuk sholat jamaah yang datangnya telat, tapi selesainya ingin bersamaan, tanpa tambahan rakaat sebab takut jualannya di pasar disabet oleh pesaingnya.

Kebijakan new normal tidak lagi kebijakan ketidaknormalan, tapi abnormal. Walaupun dikatakan abnormal bagi seseorang atau suatu negara yang secara ekonomi masih kuat hidup. Namun Indonesia sudah tak mampu hidup tanpa roda ekonomi. Siapa yang harus disalahkan? Apakah memang mental bangsa ini kacau? Atau rezimnya yang lemah? Atau bangsa Indonesia memang bangsa pemberani dan merdeka memilih hidupnya: Milih meninggal karena Corona atau meninggal karena ekonomi atau yang lainnya. Ada yang bilang, lebih baik mempunyai kemerdekaan daripada terisolasi oleh Corona. Apakah manusia merdeka adalah esensi hidup? Entahlah…

About the author

Musa Maliki

Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta dan Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan; Karyanya (bersama Asrudin Aswar) "Oksidentalisme: Pandangan Hassan Hanafi terhadap Tradisi Ilmu Hubungan Internasional Barat" (2019)

Tinggalkan Komentar Anda