Cakrawala

RUU HIP: Ideologi, Filsafat dan Agama (2)

Pengertian “Ideologi” secara umum dapat dikatakan sebagai kumpulan gagasan-gagasan, ide-ide, keyakinan-keyakinan, kepercayaan-kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut dan mengatur tingkah laku sekelompok manusia tertentu dalam pelbagai bidang kehidupan. Hal ini menyangkut: Bidang politik (termasuk di dalamnya bidang pertahanan dan kemanan), bidang sosial, bidang ke-budayaan, bidang keagamaan (Soemargono: 8).

Masalah ideologi Negara dalam arti cita-cita Negara atau cita-cita yang menjadi basis bagi suatu teori atau sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan Bangsa yang bersangkutan pada hakikatnya merupakan asas kerokhanian yang antara lain memiliki ciri sebagai berikut :

a. Mempunyai derajad yang tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan.

b. Oleh karena itu mewujudkan suatu asas kerokhanian, pandangan dunia, pandangan hidup, pedoman hidup, pegangan hidup yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan kepada generasi berikutnya, diperjuangkan dan diperta-hankan dengan kesediaan berkorban (Notonagoro, tt: 2,3).

Berdasarkan diskripsi di atas dapat dipahami bahwa ideologi memiliki unsur yang paling substansial yaitu suatu ide-ide, gagasan-gagasan serta cita-cita yang merupakan basis dalam segala realisasi dalam kehidupannya baik pada taraf normatif maupun taraf operasional. Oleh karena itu ideologi sebagai suatu sistem selain memiliki unsur nilai yang sifatnya kognitif, namun juga memiliki unsur norma dan juga operasional (praksis). Lebih jauh Alisyahbana (Bachtiar, 1976) menyatakan bahwa ideologi memiliki unsur nilai yang berdasarkan pada suatu Weltanchauung. Demikian juga Sergent mendiskripsikan bahwa ideologi sebagai suatu sistem nilai atau keyakinan yang diterima sebagai fakta atau kebenaran oleh sekelompok masyarakat atau bangsa tertentu. Pandangan tentang unsur normatif dalam suatu ideologi juga dikemukan oleh Van Peursen (1985) dan  Sutrisno (2006: 27), bahwa ideologi adalah merupakan suatu perangkat ide yang bersifat mengarahkan, yaitu mengarahkan pandangan hidup, perilaku serta sikap manusia sebagai pendukung ideologi tersebut dalam mewujutkan tujuannya.

Perspektif lain Ideologi adalah suatu perangkat prinsip pengarahan (guiding principles) yang dijadikan dasar serta memberikan arah dan tujuan untuk dicapai dalam melangsungkan dan mengembangkan hidup dan kehidupan nasional suatu bangsa dan negara. Ideologi memiliki sifat futuristik, artinya mampu memberikan suatu gambaran masa depan yang ideal. Dengan lain perkataan ideologi merupakan suatu konsep yang mendalam mengenai kehidupan yang dicita-citakan serta yang ingin diperjuangkan dalam suatu kehidupan yang nyata.

Selain itu fungsi dasar ideologi juga membentuk identitas suatu kelompok atau bangsa. Ideologi memiliki kecenderungan untuk menentukan karakteristik kelompok manusia. Dengan demikian dalam kehidupan bernegara ideologi menentukan kepribadian nasional, sehingga mampu mempersatukan aspirasi atau cita-cita suatu kehidupan yang diyakini sebagai terbaik, serta mempersatukan perjuangan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Dalam realitas kehidupan manusia dalam kenyataannya sangat kompleks, oleh karena itu ideologi dijabarkan dari suatu sistem nilai (value system). Lazimnya pengembangan ideologi dimulai atau timbul dari pemikiran yang bersifat perenungan dengan berpangkal kepada pandangan hidup dan pandangan dunia atau populer sebagai suatu sistem filsafat tertentu.

Ideologi berbeda dengan filsafat karena filsafat adalah rangkaian pengetahuan ilmiah yang disusun secara sistematis tentang realitas segala sesuatu, kenyataan-kenyataan hidup, termasuk kenyataan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu filsafat adalah bebas dan tidak normatif, artinya bergerak menurut hukum-hukum logika dan ilmiah. Dalam filsafat terungkap pemikiran-pemikiran refleksif yang harus ditanggapi bukan dengan sikap dogmatis, melainkan dengan sikap yang kritis rasional. Dengan demikian filsafat selalu terbuka terhadap kritikan dan tidak bersifat eksklusif. Namun demikian banyak ideologi yang dikembangkan berdasarkan pada suatu pemikiran filsafat, sehingga lebih eksplisit, normatif dan merupakan arahan bagi tingkah laku manusia dalam kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan.

Selain itu ideologi berbeda dengan agama, karena agama adalah bersumber dari wahyu Tuhan, kebenarannya bersifat mutlak yang merupakan pedoman bagi kehidupan manusia demi kesejahteraan dan keselamatan kehidupan di akherat. Oleh karena itu agama bebas dari kritik dan justifikasi ilmiah dan rasional, sedangkan ideologi syarat dengan kritik dan bersifat rasional. Namun demikian terdapat sejumlah ideologi yang mendasarkan pada nilai-nilai agama. Pada taraf ini nilai-nilai agama yang seharusnya suci dan universal, diturunkan pada taraf kehidupan politik, sehingga terjadi suatu kontradiksi epistemologis. Di satu pihak agama bersifat dogmatis, suci dan mutlak, sementara dalam kehidupan ideologi politik bersifat relatif dan syarat dengan kritik. Bahkan banyak nilai-nilai agama yang seharusnya suci dan luhur diturunkan dalam suatu ideologi yang sifatnya pragmatis, sehingga sering menjadi ideologi yang bersifat radikal.

Berdasarkan uraian di atas dapat kita tangkap suatu pengertian bahwa suatu ideologi pada hakikatnya tidak hanya menyangkut domein ide-ide belaka, melainkan juga menyangkut domein normatif bahkan juga operasional. Bahkan suatu ideologi bukan hanya merupakan suatu perangkat ide-ide serta gagasan-gagasan, melainkan juga norma-norma serta realisasi praksis yang bersumber pada suatu way of live, suatu Weltanchauung pada suatu masyarakat, atau bangsa tertentu. Bersambung

Penulis: Prof Dr. H. Kaelan, MS, Guru Besar Fakultas Fislsafat  Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta Sumber: makalah penulis yang disampaikan pada acara Webinar “RUU HIP dalam Berbagai Perspektif, Perlukah UU HIP?” pada 19 Juni 2020, yang diselenggarakan Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI) dan Panjimasyarakat.com

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda