Tasawuf

Menghadirkan Hati dalam Salat

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Syahdan, seorang ulama salaf, Hatim Al-Asham, pernah ditanya bagaimana cara dia menunaikan salat. Hatim pun menjawab: “Saya bertakbir dengan merenungkan hakikatnya,  saya membaca ayat Alquran dengan sungguh-sungguh dan tartil, saya rukuk dengan khusyuk, saya sujud dengan merasa rendah, saya merasa surga ada disebelah kanan saya dan neraka di kiri saya, titian berada dibawah  kaki saya, Ka’bah berada di kedua kening saya, Malaikat Maut berada di atas kepala saya, dosa-dosa saya sedang meliputi saya, pandangan Allah sedang mengarah kepada saya, saya anggap salat saya ini sebagai salat yang terakhir dalam hidup saya, dan saya sertai dengan keikhlasan semampu saya, kemudian saya megucapkan salam. Saya tidak tahu apakah Allah menerima salat saya ataukah  Dia justru berkata, ‘Lemparkanlah salat itu ke wajah orang yang melakukannya itu.’”

Itulah gambaran bagaimana orang bersembahyang secara khusyuk. Bukan perkara yang mudah. Sebab, ketika sedang melaksanakan salat hati dan pikiran kita terkadang, bahkan sering, melayang ke mana-mana, ke hal-hal selain urusan salat. Hal ini karena menjelang takbiratul ihram, pikiran kita sudah disibukkan dengan hasrat, cita-cita  dan urusan keduniawian, sementara hati kita pun dipenuhi hal-hal yang melupakan kesadaran bahwa kita sedang akan menghadapkan wajah, memasrahkan hidup dan mati kita kepada Sang Mahapencipta.  

Tidak syak lagi, suasana hati dan pikiran semcam itulah yang membuat salat  menjadi tidak khusyuk. Padahal, khusyuk merupakan ruh dari salat, yang jika hal itu dicapai, maka beruntunglah  mukmin yang mengerjakannya.  (Q.S. 23: 1-2). Memang hati dan pikiran yang menerawang itu tidak sendirinya membatalkan salat.               

Khusyuk adalah menghadirkan hati sepenuhnya di dalam salat. Kita merasa bahwa Allah sedang mengawasi kita. Sejak mulai dengan membaca takbir, kita sudah merasakan akan keagungan-Nya. Ketika kita sedang membaca atau mendengar ayat-ayat Alquran, kita perhatikan dan kita resapi makna-makna ayat-ayat itu. Kita juga renungkan zikir dan doa  yang kita ucapkan. Makna dzikir dan ayat-ayat yang kita baca itu dihadirkan dan direnungkan di dalam hati. Dengan begitu kita merasa sedang berada di hadapan Allah, atau menghadap Allah. Khusyuk juga tercermin dalam gerakan. Jika dalam salat kita banyak melakukan gerakan tertentu, seakan kita tidak sedang melakukan salat, seperti menggaruk-garuk badan, melihat jam tangan, menengok ke kanan atau ke kiri, membetulkan sorban atau ikat kepalanya, dan sebagainya.

Tidak mudah untuk melaksanakan salat secara khusyuk, memang. Oleh karena itu, sebagai langkah awal, kita harus melakukan salat di tempat yang mudah menimbulkan suasana kekhusyukan, di mana kita bisa merenungkan makna ayat-ayat dan lafal-lafal yang kita ucapkannya, serta mengkonsentrasikan pikiran kita seoptimal  mungkin hanya kepada salat. Hal lain yang perlu menjadi catatan adalah, bahwa salat kita akan menjadi fungsional atau bermakna jika ibadah yang kita jalankan itu mampu mencegah diri kita dari perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman,  “Innash-salata tanha ‘anil fakhsyaa’i wal-munkar (sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.”(Q.S. 29:45). Inilah tujuan salat yang sesungguhnya.

Jadi, salat yang berhasil bukan hanya jika dilaksanakan secara khusyuk, namun juga harus dilihat pada perilaku sehari-hari orang yang melaksanakan kewajiban yang lima waktu itu. Salat kita menjadi muspra jika dalam mengerjakan urusan dunia kita berdusta, berlaku tidak jujur, merampas hak orang lain, menyogok dan menerima sogok, merugikan dan menyakiti orang, melakukan perbuatan-perbuatan tidak senonoh, dan seterusnya

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda