Cakrawala

I Can’t Breathe

Ada kesamaan antara Covid-19 yang mencengkeram dunia dan kasus kematian George Flyod yang mengguncang Amerika, dan juga dunia: keduanya terkait dengan nafas. Pada tahap yang parah, penderita Covid-19 akan merasa seperti tercekik sehingga kesulitan bernafas. Sementara kalimat terakhir yang berulang diucapkan George Flyod: i can’t breathe, saya tidak bisa bernafas; karena lehernya benar-benar sedang dicekik oleh tindihan lutut polisi.

Ada banyak perspektif pemaknaan yang bisa digali dan dikembangkan dari peristiwa ini, mulai yang berbasis keagamaan, sains sampai yang sepenuhnya mistik. Secara umum pemaknaan semacam ini selalu didorong oleh tujuan untuk membangun pemahaman terhadap kenyataan. Sementara di sisi lain, pemahaman ini bisa menghasilkan setidaknya dua akibat: penerimaan terhadap kenyataan sebagaimana dipahami, atau kemampuan untuk mengelola kenyataan yang ada untuk menciptakan kenyataan baru yang dianggap yang lebih baik; atau kombinasi keduanya.

Kalau dua peristiwa, pandemi Covid-19 dan kematian George Flyod, yang terpisah ini kita satukan, mungkin kita bisa memperoleh perspektif pemaknaan baru yang bisa kita pakai untuk lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam peradaban kita saat ini.

Di satu sisi, kehadiran Covid-19 ini terbukti telah membuat peradaban yang kita anggap kokoh dan gagah perkasa ini sesak nafasnya, bahkan tersengal-sengal. Sektor ekonomi, yang menjadi nadi utama modernitas, terkontraksi antara minus 5 sampai 7,6; yang otomatis melahirkan resesi.

Berbeda dengan serangan Covid-19 pada manusia, yang secara umum hanya menyebabkan 10 sampai 20 persen di antara yang terpapar harus mengalami kondisi serius atau parah, dan kurang lebih 10 persen diantaranya harus diberi alat bantu berupa ventilator; sementara kurang lebih 80 persen dari yang terpapar hanya akan mengalami gejala ringan, bahkan mungkin tanpa gejala; serangan Covid-19 bagi kehidupan ekonomi ternyata menghasilkan kerusakan yang jauh lebih serius. Hampir semua negara di dunia saat ini, artinya hampir 100 persen yang terserang Covid-19 atau bahkan yang hanya terdampak; mau tak mau terpaksa harus memasang ventilator, berupa paket-paket penyelamatan, agar kehidupan ekonominya tak kehabisan nafas atau kolaps akibat Covid-19.

Di sisi lain, kondisi mayoritas masyarakat dunia justru mirip dengan kondisi George Flyod; tak bisa bernafas karena selama ini ditekan oleh peradaban tidak sepenuhnya ikut mereka bangun, namun mau tak mau mereka harus ada di dalamnya. Di Amerika Serikat misalnya, juga di banyak bagian dunia lainnya, ungkapan i can’t breathe, disamping Black Lives Matter, langsung populer dan menjadi salah satu kata kunci untuk melawan apa saja yang selama ini dianggap sebagai sumber kesumpekan hidup. Maraknya gelombang solidaritas ini membuktikan bahwa banyak orang, kalau tidak boleh dikatakan mayoritas, berada pada atmosfer yang sama; atmosfer sesak nafas karena ditindih nilai-sistem-struktur yang menjadi arus utama peradaban modern.

Mari kita lihat sedikit saja fakta, diantara tumpukan fakta yang dengan mudah bisa kita kumpulkan. Berdasar studi Oxfam International yang dipublikasikan tahun 2017 misalnya, diketahui bahwa sebesar 82 persen kekayaan dunia ternyata hanya dimiliki oleh 1 persen penduduk dunia. Kalau di balik, artinya 99 persen penduduk dunia hanya menguasai 18 persen kekayaan dunia. Jurang penguasaan yang luar biasa lebar.

Sementara menurut rilis PBB, di tahun 2018 saja tercatat lebih dari 820 juta mengalami kelaparan, atau hampir 11 persen dari keseluruhan penduduk dunia di tahun yang sama. Setiap hari ada 16 ribu anak meninggal karena kelaparan. Setiap 4 detik ada 1 orang meninggal karena kelaparan.

Kenyataan ini, sekali lagi mengingatkan kita pada ucapan Mahatma Gandhi: dunia cukup besar untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, namun terlalu kecil untuk bisa memenuhi kerakusan manusia.

Fakta ini sudah cukup memberi gambaran tentang ketidak-adilan ekonomi yang selama ini dilahirkan oleh peradaban modern; ketidak-adilan yang lantas menyangkut penguasaan sumber daya, penguasaan jalur distribusi, penguasaan alat tukar dan seterusnya. Ketidak-adilan yang pada gilirannya merambah ke wilayah kemanusiaan lainnya: sosial, politik, budaya, agama. Semua ini terkumpul dalam satu paket peradaban yang terbukti membuat mayoritas orang merasa sesak nafas, tersengal-sengal hidupnya; karena hak-haknya sebagai sesama penduduk dunia dikebiri atau malah dieliminasi hanya untuk kepentingan kelompok tertentu.

Kalau kita melihatnya dari perspektif ini, bukankah saat ini kita semua justru sedang diberi kesempatan menyaksikan drama satire raksasa: struktur-infrastruktur peradaban modern, yang selama ini telah membuat mayoritas penduduk dunia sesak nafas, kini sedang mendapat giliran dibuat sesak nafasnya, bahkan dengan akut, oleh kehadiran Covid-19. Ventilator yang dipasang pun tidak sepenuhnya bisa menjamin kepulihannya.

Pertanyaannya: apakah perspektif pemaknaan yang dengan telanjang sedang digelar oleh semesta, atau dengan kata lain yang lebih tepat: oleh Allah, ini akan mendorong mereka yang selama ini disesakkan nafasnya untuk bergerak melakukan perubahan atau membiarkan para pembuat sesak nafas dengan caranya sendiri kembali membangun kekuasaannya? Kalau pilihan kedua yang dipilih, tampaknya kita harus dengan cermat memeriksa kondisi kejiwaan kita; jangan-jangan kita memang mengidap Stockholm Syndrome, setia dan bahkan jatuh cinta pada para penyandera yang selama ini membuat sesak nafas kita.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda