Hamka

Buya Hamka : Kembali kepada Pancasila yang Murni

Written by Panji Masyarakat

Pancasila wajib diamalkan dan diamankan. Bila umat muslim mengamalkan ketaatan terhadap agamanya maka dengan sendirinya Pancasila akan terjamin keselamatannya. Dan orang yang tidak mengamalkan agamanya berarti dia tidak mengamalkan dan mengamankan Pancasila.

Pancasila adalah pangkal pokok dalam kehidupan. Sila ke satu: Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi pangkal dari keempat sila lainnya. Ajaran Islam yang berpangkal pada tauhid ini merupakan pokok isi kandungan dari Ketuhanan Yang Maha Esa. Tauhid diartikan dalam bahasa Indonesia ialah Esa, untuk mempertahankan kuatkan dengan iman adan agama. Sehingga kalau orang anti-Pancasila, menolak Pancasila, berarti dia kafir. Sebab tidak percaya  pada Tuhan, menurut agama adalah kafir dan kafir masuk neraka. Pancasila menjadi pandangan hidup dunia dan akhirat. Pancasila wajib diamalkan dan diamankan. Bila umat muslim mengamalkan ketaatan terhadap agamanya maka dengan sendirinya Pancasila akan terjamin keselamatannya. Dan orang yang tidak mengamalkan agamanya berarti dia tidak mengamalkan dan mengamankan Pancasila.

Pancasila menjadikan negara Indonesia berdasarkan Ketuhanan, sehingga tercipta cita-cita bersama yaitu baldatun thayyibatu wa rabbun ghafur. Sila Ketuhanan  menumbuhkan kelapangan dada  (tasammuh) dari rasa hormat kepada pemeluk agama lainnya. Tapi pedoman hidup berasal dari Alquran, maka Alquran yang mewajibkan untuk berlapang dada.

Pancasila sebagai falsafah negara Indonesia akan hidup dengan subur dan dapat terjamin jika kaum muslimin sungguh-sungguh memahamkan agamanya, sehingga agama menjadi pandangan dan memengaruhi seluruh langkah hidupnya. Tidak ada sutu agama dan paham atau ideologi yang dapat menjamin kesuburan Pancasila di Indonesia melebihi Islam. Pertama karena dijamin oleh esatuan ajaran Islam itu sendiri. Kedua, karena pemeluk Islamlah yang terbesar di Indonesia. Oleh karena itu percobaan mencuri jalan air buat menjamin suburnya Pancasila di Indonesia, laksana raba-rabaan orang buta di malam gulita. Yang dikandung berceceran, yang dikejar tidak dapat.

Maka untuk menjamin Pancasila marilah kita bangsa Indonesia yang mengakui Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai rasul (kaum muslimin) bersama-sama menghidupkan agama Islam dalam masyarakat kita. Anjuran kita ini sesuai dengan apa yang pernah diucapkan Bung Karno dalam pertemuan pegawai-pegawai Kementerian Penerangan pada tanggal 28 Maret 1952.

(Bung Karno menyatakan, red) Pancasila itu telah lama dimiliki bangsa Indonesia, sejak lahirnya Sarekat Islam yang dipelopori oleh Almarhum H.O.S. Tjoroaminoto. Dan kita (Hamka, red) Pancasila telah lama dimiliki oleh bangsa Indonesia, yaitu sejak seruan Islam sampai ke Indonesia dan diterima oleh bangsa Indoesia. Kita tak usaha khawatir falsafah Pancasila akan terganggu, selamat urat tunggangnya masih kita pupuk:Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berpegang teguh kepada UUD 1945, terutama dasar negra Pancasila. Janganlah dicoba sekali lagi, hendak membuat Pancasila kosong melompong, dengan menjadikan negara kita sekuler. Pengakuan negara bahwa percaya kepada Tuhan Yang maha Esa,  menghambat negara kita ini akan meluncur ke dalam alam sekulerisme. Sebab itu saya tegaskan lagi pendirian saya, bahwa modernisasi bukanlah sekulerisme.

Banyak bisik-bisik kaum muslimin anti-Pancasila, banyak dari para ulama dan pemimpin Islam adalah anti-Pancasila. Dikatakan pula bahwa golongan terbesar umat Islam itu menerima Pancasila setengah hati. Kita harus kembali kepada Pancasila yang murni: bahwasanya pokok pangkal segala sila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.     

Suatu bangsa yang memperjuangkan Ketuhanan Yang Maha Esa akan mencapai derajat yang setinggi-tingginya , selama mereka berpegang kepada tiga hal pokok dari kemerdekaan. Pertama, merdeka iradah alis kemauan. Yakni selama mereka masih berani menyuruh, menyarankan, menganjurkan dan menciptakan yang makruf, yaitu yang dikenal baik dan diterima masyarakat. Kedua, merdeka pikiran atau bebas menyatakan pikiran. Yakni melarang, menahan, memprotes, mengoposisi yang mungkar. Dalam menyatakan kebebasan pikiran itu tidak peduli dari siapa datangnya. Karena kebenaran di atas dari segala orang. Sebagai semboyan, “keadilan di atas dari segala kekuatan, kebenaran di atas dari segala kedudukan.”  Ketiga, kemerdekaan jiwa atau bebas dari ketakutan. Itulah kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa saja, dan berjuang untuk Ketuhanan Yang Maha Esa saja, sehingga jiwa menjadi kuat menentang segala pancaroba dan kesulitan. Sehingga mencintai sesama manusia adalah karena kehendak Tuhan. Mencapai keadilan sosial adalah karena kehendak Tuhan, dan kedaulatan rakyat adalah karena amanat Tuhan dan karena memikul tanggung jawab jadi khalifah Tuhan.

Sumber: Ensiklopedia Buya Hamka (2019)     

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda