Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi, Ali ibn Abi Thalib (4): Mufti dan Negarawan

Ali terbunuh oleh Abdur Rahman ibn Maljam, tidak lain adalah seorang Khawarij yang dulu memujanya

Kata Ali, keadilan sangat luas. Dan barangsiapa merasa sesak karena keadilan ini, sadarlah sesungguhnya kecurangan lebih sempit. Menurutnya pula, tujuan tertinggi penyelenggara Negara adalah memenuhi kepentingan rakyat dan orang-orang yang berhak.

Terobosan Hukum

Sebagai seorang mufti, Ali banyak mengeluarkan fatwa yang bisa dibilang kontroversial tapi juga penuh kehati-hatian. Pertama, pada zaman Khalifah Umar pernah ada seorang perempuan mengandung akibat zina. Perbuatan itu, menurut Ali, sangat diragukan karena tidak ada saksi dan bukti yang cukup untuk menuntutnya. Ia menyarankan agar Umar menangguhkan hukuman kepadanya sampai anaknya lahir. “Anda berhak menghukum atas dirinya akan tetapi tidak berhak menghukum apa yang dikandungnya,” katanya kepada Umar. Lalu ia bilang, perempuan itu orang gila. Mungkin dia dirayu dan diperkosa. Padahal orang gila kesalahannya dihapuskan. Atas keterangan itu, dibatalkanlah eksekusi terhadap perempuan tadi.

Di lain waktu, datang seorang perempuan ke hadapan Umar ibn Khattab untuk melapor tentang perzinaannya. Ali kebetulan ada di situ. Perempuan itu bercerita bahwa pada suatu hari ia sangat kehausan. Dalam keadaan bingung ia tidak tahu harus ke mana mencari air. Lalu ia bertemu penggembala yang mau memberikan air  apabila diberi imbalan tubuhnya. Karena tidak ada cara lain, akhirnya perempuan itu menyerahkan tubuhnya demi setetes air. Mendengar ini Umar meminta pendapat kepada orang-orang yang hadir. Ali menjawab, “Dia terpaksa melakukan itu maka bebaskanlah”. Dua contoh itu merupakan terobosan hukum dan tafsiran syariah mengenai qisas yang cukup berani dari Ali.

Selain peristiwa itu, masih ada keputusan hukum Ali yang dinilai kalangan sahabat ahli fikih sangat kontroversial, yaitu tentang pembakaran kaum Syi’ah Rafidhi, yang memuja dan menyifati Ali seperti Tuhan. Mereka ini sudah sudah sering diingatkan Ali bahkan diancam hukum bakar. Namun mereka salah sangka. Hukum bakar itu justru mereka pahami sebagai  pertanda bahwa dia adalah Tuhan. Kata mereka, Allah kan juga menyiksa umatnya dengan api.

Keputusan menimbulkan bahaya, bagi tegaknya syariat dan undang-undang yang ada. Namun Ali berkukuh bahwa mereka harus dihukum bakar. Ali tidak bersikap lunak sebab yang menjadi sasaran kultus adalah dirinya. Kelunakan malah akan menyebabkan terjadinya kesalahan persepsi bahwa ia tidak bisa  berlaku adil terhadap pemujanya.

Pemutihan

Di bidang pemerintahan Ali juga melakukan terobosan, berupa pemutihan terhadap tanah-tanah dan aset berharga negara yang tadinya dibagi-bagikan kepada keluarga dan sanak kerabat terdekat khalifah terdahulu. Dalam suatu kesempatan Ali mengatakan “Demi Allah, sekiranya aku temukan harta yang tidak menjadi haknya, pasti akan aku ambil. Walaupun itu sudah dipergunakan sebagai mas kawin, atau bentuk membeli budak. Keadilan sangat luas. Dan barangsiapa merasa sesak karena keadilan ini, sadarlah sesungguhnya kecurangan lebih sempit.”

Ali juga menyerukan kepada wali-wali atau para gubernurnya agar menjunjung tinggi makna kebijaksanaan. Ia tidak membenarkan wali atau keluarganya menggunakan uang negara untuk kepentingan sendiri. Bagi Ali, tujuan tertinggi penyelenggara negara adalah memenuhi kepentingan rakyat dan orang-orang yang berhak.

Dalam hal penarikan pajak negara, Ali juga tidak memperbolehkan adanya unsur pemaksaan, seperti yang biasa dilakukan para wali (gubernur). Bahkan ia melarang petugas pajak masuk ke rumah wajib pajak kalau tidak diizinkan terlebih dahulu. Untuk itu, pada masa Ali telah dirancang undang-undang perpajakan yang bertujuan untuk memakmurkan dan menyetarakan rakyat.

Pendek kata, pemerintahan Ali adalah sosok yang peduli pada kepentingan rakyat. Sebuah pemerintahan yang mengerti kepentingan rakyatnya. Namun memang tidak mudah merangkul semua kepentingan yang berbeda. Dan, seperti dua pendahulunya, ia akhirnya harus menemui ajal di tangan rakyatnya. Dan sang pembunuh itu, Abdur Rahman ibn Maljam, tidak lain adalah seorang Khawarij yang dulu memujanya

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 2 Maret 1998.   

Tentang Penulis

Dr Phil Syafiq Hasyim MA

Dr Phil Syafiq Hasyim MA

Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP), dan direktur Perpustakaan dan Kebudayaan Universitas Islam Internasional Indonesia. (UII). Pernah menjadi staf peneliti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)

Tinggalkan Komentar Anda