Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi, Ali ibn Abi Thalib (3): Menghadapi Musuh dari Berbagai Penjuru

Penggambaran perang Jamal (perang Unta) sumber : wikipedia

Pada masa pemerintahannya, Ali menghadapi persoalan berat sebagai buntut terbunuhnya Khalifah Utsman oleh sekelompok pemberontak. Ia sempat berhadapan dengan Aisyah, janda Nabi,  dalam Perang Jamal. Setelah itu Muawiyah, yang sempat terdesak dan kemudian menang melalui proses tahkim. Lalu ia berhadapan dengan kelompok Khawarij, bekas pendukung fanatiknya.  

Peristiwa Tahkim

Ali dibaiat sebagai amirul mukminin setelah terjadi tragedi yang memilukan dalam sejarah Islam, yaitu terbunuhnya Utsman ibn Affan. Tragedi ini dalam literatur sejarah Islam disebut dengan istilah al-fitnatul kubra (musibah besar). Yang sangat menyedihkan adalah tidak adanya orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.

Dalam membicarakan terbunuhnya Utsman banyak penulis sejarah yang jatuh ke jurang ekstrem, baik dalam membela maupun menyalahkan kebijakan Utsman dan Ali. Terlepas dari itu semua, kedudukan Ali saat itu memang dilematis. Pertama, Utsman sendiri tidak pernah menerima setiap masukan dari Ali. Kedua, pada sisi lain, Utsman terlalu banyak mendengarkan Muawiyah. Sedangkan Muawiyah sendiri sering mendiskreditkan Ali. Suasana yang tidak menguntungkan ini semakin mempersulit posisi Ali di depan Utsman. Akhirnya sampai terbunuhnya Utsman, Ali tidak berbuat apa-apa. Ini bukan karena ketidakmauan Ali meredam para demonstran, akan tetapi setiap niat baik Ali selalu ditolak oleh Utsman.

Sepeninggal Utsman, meskipun dalam suasana masih kacau karena pembunuh khalifah ke-3 itu  belum ditemukan, Ali dilantik menjadi khalifah. Ibn Sa’d, seorang penulis sejarah Islam genarasi awal, menyatakan bahwa Ali dibaiat menjadi khalifah sehari setelah kematian Utsman. Hampir semua sahabat terkemuka melantik Ali, kecuali mereka yang pro-Utsman. Dari kalangan sahabat  senior ada dua sahabat yang tidak begitu respek terhadap Ali, tapi tetap mengakuinya sebagai khalifah, seperti Thalhah dan Zubair ibn Awam.

Ketika dilantik menjadi khalifah  ia mengikuti langkah Abu Bakar dan Umar, yaitu menjauhkan para sahabat utama dan ambisi kekuasaan serta godaan fitnah dari orang-orang yang fanatik serta kaum Syi’ah. Namun berkaitan dengan langkah strategisnya, pertama kali yang dilakukan Ali adalah membentuk pasukan Hijaz.

Seperti yang telah diduga bahwa pemerintahan Ali menapak pada masa-masa yang sangat berat dan penuh ujian. Hal ini disebabkan terutama kasus pembunuhan Utsman belum terusut tuntas dan ambisi beberapa sahabat terkemuka yang tidak menyutujui Ali menjabat khalifah.

Ujian berat pertama yang harus dhadapi Ali adalah terjadinya Perang Jamal. Meskipun Aisyah mendukung perlawanan terhadap praktek nepotisme Utsman, ternyata ia juga tidak langsung menyetujui kepemimpinan Ali. Mungkin Aisyah masih teringat peristiwa ifk (gosip) yang menerpanya. Waktu itu Ali mengusulkan kepada Rasulullah agar Aisyah diceraikan. Tapi, rasanya bukan itu latar belakang utamanya, melainkan lebih merupakan sikap Aisyah terhadap belum tuntasnya kasus pembunuhan Utsman. Untuk itu, ia takut keluar rumah menuntut darah kematian Utsman ke Basrah. Di sini ia bertemu dengan orang yang memiliki tujuan sama, yaitu Thalhah dan Zubair. Ketiganya menyatukan kekuatan untuk meminta pertanggungjawaban Ali.

Terjadi apa yang sering disebut Perang Jamal karena dalam perang itu Aisyah mengendarai unta. Ali akhirnya behasil memenangkan pertempuran sedang dua sahabat besar tadi terbunuh.

Selesainya Perang Jamal bukan berarti masalah tuntas. Di Syam (Suriah sekarang) masih ada ancaman, yaitu dari pasukan Muawiyah yang tidak mengakui kepemimpinan Ali. Sang khalifah lalu melakukan pendekatan-pendekatan perdamaian kepada Muawiyah. Dalam salah satu suratnya, ia menyatakan bahwa baiat terhadap dirinya sah adanya karena dilakukan oleh orang-orang yang juga membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Karena itu, Syam juga harus masuk ke dalam kekuasaannya. Dikatakannya pula bahwa ia ingin menata pemerintahannya dengan menegakkan kebenaran dan mengajak Muawiyah untuk kembali kepada ke jalan yang benar.

Ajakan Ali tidak ditanggapi. Dalam jawaban suratnya yang lebih singkat, Muawiyah tetap menuntut darah pembunuh Utsman dan agar diusut tuntas. Bahkan ia menuduh Ali terlibat dalam konspirasi ini. Jawaban ini jelas menunjukkan ketidakmauan Muawiyah untuk menjalin perdamaian.

Karena persoalannya tidak selesai, pecahlah perang di antara mereka. Perang itu dikenal dengan nama Perang Shiffin karena terjadi di sekitar daerah tersebut. Pihak Muawiyah terdesak dan menyerah dengan mengangkat Al-Quran diatas tombak sebagai tanda keinginan damai atas nama Kitab Allah. Kedua kelompok sepakat untuk mengadakan arbitrase (tahkim).

Peristiwa ini merupakan kisah penting bagi munculnya faksi teologi politik dalam Islam. Tahkim dilaksanakan di Daumatul Jandal, suatu tempat antara Irak dan Syam. Pihak Ali mengambil Abu Musa Al-Asy’ari sebagai delegasinya, sedangkan pihak Muawiyah diwakili Amr ibn Ash. Sebenarnya Ali menghendaki Ibn Abbas sebagai delegrasinya sebab Abu Musa Al-Asy’ari pernah mendorong orang-orang menuntut Ali. Namun tim tahkim tetap menghendaki Abu Musa. Akhirnya Ali merasa terjepit dan menyerahkan semuanya kepada tim tahkim.

Dalam tahkim tersebut, kubu Ali berhasil diperdayai Amr bin Ash. Dalam perundingan itu disepakati bahwa masing-masing pemimpin mereka mengundurkan diri, untuk nanti dipilih yang baru. Abu Musa “mendapat” kesempatan pertama untuk menyampaikan hasil kesepakatan itu, yakni pengunduran diri pemimpinnya, Ali. Namun, ketika giliran Amr ibn Ash tiba, ia justru menegaskan bahwa kekhalifahan kini berada di tangan Muawiyah, dengan pengunduran diri Ali tadi. Karena penyelesaian yang tidak tuntas inilah lalu muncul sekelompok orang yang tidak puas atas keputusan tersebut. Kelompok ini muncul dan menyampaikan dari kubu Ali sehingga disebut khawarij, mereka yang telah keluar (menyempal). Menurut kelompok ini baik Ali maupun Muawiyah sama-sama tidak menggunakan hukum Allah. Semboyan mereka laa hukma illa lillah, ‘tidak ada hukum kecuali untuk Allah’. Kaum Khawarij ini merupakan prototipe gerakan oposisi dalam Islam. Bagi mereka, setiap yang melanggar hukum Allah harus diperangi. Dari semula jadi pendukung fanatik Ali, mereka kemudian berbalik memusuhinya. Menghadapi serbuan mereka, tadinya Ali berusaha menahan diri. Namun begitu kesabaran habis, ia melakukan penumpasan dan akhirnya perlawanan mereka berhasil dipatahkan. Bersambung

Tentang Penulis

Dr Phil Syafiq Hasyim MA

Dr Phil Syafiq Hasyim MA

Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP), dan direktur Perpustakaan dan Kebudayaan Universitas Islam Internasional Indonesia. (UII). Pernah menjadi staf peneliti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)

Tinggalkan Komentar Anda