Cakrawala

Membangun Kebahagiaan untuk Bersama

Lahir dan hidup di dunia ini pasti menghadapi masalah. Tidak ada kehidupan di alam manusia yang tidak ada problem. Kemelut hidup bukan saja mengelayuti orang-orang yang secara ekonomi menderita kemiskinan, tetapi juga oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi. Dahulu ada anggapan bahwa jika seseorang hidup dalam berkecukupan secara ekonomi maka ialah yang akan menikmati kebahagiaan hidup. Ternyata pandangan ini tidak selamanya benar, kenyataannya banyak juga orang-orang berduit yang hidup merana bahkan mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri.

Saat ini kebahagiaan umat manusia merasa terganggu dan terusik dengan wabah virus corona (Covid 19). Semua lapisan masyarakat terkena tanpa pandang bulu. Masyarakat dan negara di seluruh dunia  sekarang diuji kemampuan dan kepiawaiannya mengatasi virus yang mematikan ini.    

Dalam hidup ini manusia ternyata memiliki beragam cara dan kiat menghadapi kesulitan hidup sekaligus meraih kebahagiaan yang didambakan.

Pertama, ada orang yang memang telah terlatih dan kuat menghadapi masalah, tidak kenal menyerah. Kesulitan hidup baginya merupakan tantangan yang dihadapi dengan penuh gairah. Kebahagiaan justeru ia rasakan ketika mampu mengalahkan kesulitan.Puncak-puncak kebahagiaan ia rasakan ketika mengalahkan yang namanya rintangan yang membentang. Manusia tipe ini adalah pribadi yang tidak suka mengeluh atau menyalahkan keadaan.

Kedua, adalah orang yang juga berjuang melawan kesulitan, mungkin ia jatuh bangun namun tidak pernah merasa putus asa dan selalu mencoba untuk bangkit. Ia menyadari bahwa kehidupan tidak selamanya mulus dan berjalan dengan lancar. Kesulitan dan kemudahan selalu silih berganti.

Terakhir adalah kelompok yang menghadapi hidup ini dengan sikap pasrah dan putus asa. Kesulitan dianggap sebuah takdir yang harus diterima dan tidak mungkin dilawan untuk melakukan perubahan nasib. Bagi seorang pesimistis  hidup ini adalah sebuah penderitaan dan merupakan ketentuan dari Tuhan.

Dari ketiga tipe cara manusia melawan kesulitan menghadapi kehidupan ini tentunya melahirkan pula kenikmatan atau hasil yang saling berbeda. Manusia tipe pertama dengan energi dan ambisinya tidak jarang meraih sukses dan menikmati kehidupan yang lebih baik secara lahiriah. Bahkan, harta atau asset yang dimilikinya bisa jauh melebihi dari kebutuhan yang seharusnya dipenuhi. Kekayaannya mungkin dalam bentuk uang, dollar, emas, perak, properti dan lainnya. Bisa juga dilihat dalam bentuk gaya hidup, berlibur, kepemilikan barang elektronik, fasilitas pendidikan anak, peralatan rumah, kendaraan dan lainnya.

Sedangkan manusia tipe kedua mungkin kekayaannya tidak berlimpah, namun untuk kebutuhannya bisa mencukupi. Ia tidak miskin atau mengalami kekurangan hidup, meski juga tidak melebihi secara mencolok. Bisa dikatakan kehidupannya normal, dapat memenuhi kebutuhan hidup untuk standar masyarakat menengah. Paling tidak kehidupannya bisa berjalan secara rutin dari hari ke hari tidak dirongrong oleh kebutuhan pokok baik sandang, pangan maupun pendidikan anak.

Yang memprihatinkan tentulah golongan ketiga. Karena tidak ada vitalitas untuk usaha kehidupannya, akibatnya menderita karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pokok yang menjadi kelangsungan hidup manusia. Jangankan untuk kebutuhan sekunder, bagi kebutuhan primer yang menyangkut makan dan minum saja sulit untuk.memenuhi karena ketiadaan spirit untuk melawan kesulitan hidup. Padahal, doktrin perubahan nasib dengan tegas dikatakan dalam al-Qur’an,” Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS ar-Ra’ad ayat 11).


Di dunia yang tidak ramah ini tidak mungkin kita mendapatkan sesuatu secara gratis atau cuma-cuma. Adagium yang populer mengatakan  there is no free lunch (tidak ada makan siang yang gratis) menunjukkan semua harus dibayar atau ada imbalannya. Baik itu  harus dibayar dengan pengorbanan, usaha dan kerja. Hanya dengan berikhtiar dan menggerakkan anggota tubuh, akal dan dan fikiran manusia bisa mendapatkan sesuatu bagi kontinuitas kehidupannya. Sikap kepasrahan dan berserah diri pada takdir, tanpa ikhtiar hanya menyebabkan manusia hidup dalam kesulitan yang panjang.

Sebagai konsekuensi dari cara hidup dikemukakan di atas masyarakat sekarang terbagi dalam kelompok kaum super kaya, golongan menengah, dan mereka yang miskin atau papa. Dari jumlah ini jelas kelompok miskin cukup besar dan hidup dalam serba kekurangan dan ketidaknyamanan. Ada bahkan yang digusur dan dikejar-kejar dalam mencari nafkah. Sebagian makan apa adanya dan tinggal.di pemukiman dan rumah yang tidak layak.
 

Membangun Kebersamaan

Yang harus dibangun dalam kehidupan ini adalah bagaimana mensinergikan ketiga golongan ini dalam sebuah kehidupan dimana terjadi saling isi mengisi, bantu membantu dalam sebuah semangat solidaritas atau tolong menolong berdasarkan kasih sayang.

Kehidupan yang nyaman adalah jika dalam masyarakat tidak ada rasa takut, orang menjalani kehidupan tidak ada rasa curiga, kecemasan dan tekanan. Dan ini bisa terjadi jika ketiga golongan ini bekerjasama saling menjaga yang didasari pada sebuah semangat kebersamaan. Si kaya menolong si miskin dan menghargainya sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat, tidak diremehkan atau dihinakan karena ketidakberdayaan kehidupan ekonominya, tetapi dianggap sebagai manusia dan sebagai saudara yang disantuni, dipergauli dengan hati layaknya manusia ,tidak dibedakan karena status ekonominya maupun status sosialnya yang rendah.

Demikian juga kaum miskin melihat orang kaya sebagai saudara, tidak boleh dicemburui, merasa iri atau dengki, sebaliknya dianggap sebagai bagian dari dirinya dimana harta, kekayaan dan materi yang dimiliki orang kaya ikut dijaga dan dipelihara layaknya milik sendiri. Orang miskin harus memiliki kewajiban bahwa harta dari saudaranya orang kaya tersebut tidak boleh diganggu.

Sebuah relasi yang mampu memberikan ikatan batin antara orang kaya dan orang miskin sebenarnya inilah kunci dalam mengatasi kesulitan hidup dan mencegah terjadinya ketegangan dalam masyarakat. Dengan begitu segala kesulitan hidup bisa diatasi, masyarakat bisa saling bekerjasama menghadapi tantangan kehidupan bagaimanapun sulitnya. Pendekatan saling isi mengisi di antara berbagai kelompok sosial-ekonomi masyarakat ini bila mampu direalisasikan merupakan cara yang ampuh mengatasi kecemburuan sosial dan kemungkinan cara yang ampuh pula mengatasi keterbatasan dalam lapangan kerja ,kesulitan hidup dan perekonomian.

Dengan demikian pendekatan dalam kehidupan ekonomi sekarang ini yang cenderung didasarkan pada semangat kompetisi, persaingan, saling tekan dan semangat dominasi atau penguasaan dapat dihindarkan. Semangat seperti  ini hanya didasarkan pada keunggulan  Saya menang kamu kalah. Saya yang berkuasa kamu harus tunduk pada saya. Semangat seperti inilah yang akhirnya berakibat munculnya perilaku kekerasan, kriminalitas dan berkembangnya kejahatan dalam masyarakat yang mengakibatkan hidup ini tidak nyaman dan menimbulkan kecemasan yang dirasakan seluruh kelompok ekonomi masyarakat.

Bahagia Bersama Orang Lain            
Sebuah kebahagiaan dan kenyamanan dalam.masyarakat hanya bisa dibangun atas dasar terbentuknya kebersamaan, solidaritas dan saling mengasihi di antara masyarakat yang berinteraksi. Kebahagiaan yang ingin diwujudkan adalah dimana hati manusia merasa tentram dan damai dimanapun dia hidup. Kebahagiaan bukan didasarkan pada banyaknya harta yang dimiliki. Sebab, jika kuantitas dan komulatif harta yang dijadikan tujuan hidup maka selamanya hal ini tidak akan menentramkan hidup manusia.

Kebahagiaan terletak pada hati yang tidak merasa resah dan gelisah. Untuk itu manusia harus membangun kebahagiaan dengan cara membangun juga kebahagiaan orang lain. Suatu kebahagiaan yang diciptakan untuk bersama disitulah terletak inti kebahagiaan yang sesungguhnya. Tetapi, kebahagiaan yang ingin dirasakan seorang diri dan untuk dinikmati bagi diri sendiri , disinilah awal ketidakbahagiaan dan kesengsaraan hidup. Sebab, orang lain pasti akan mengganggu dan mengusik kebahagiaan kita yang egoistik itu. Allahu ‘alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda