Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi, Ali ibn Abi Thalib (2): Khalifah yang Intelektual

Ali ibn Abi Thalib dikenal dengan intelektualitasnya. (foto ilustrasi : sebuah koleksi perpustakaan di Eropa)

Ali adalah seorang sahabat yang dikenal keluasan ilmunya. Hal ini seperti diakui oleh Rasulullah dalam riwayat al-Bazzar dan Thabrani dalam kitab Al-Ausath. Anna madinatul ‘ilmi wa Ali babuha (Aku adalah kota ilmu dan Ali pintunya).” Sebuah hadis yang sangat populer di kalangan pesantren.

Makna Persahabatan

Oleh kaum Syi’ah, Ali diperhadapkan dengan tiga khilafah (pengganti Rasulullah) pertama secara diametral. Ia digambarkan sebagai seorang ambisius yang kecewa karena jabatan yang mestinya dia nikmati “telah dirampas”. Alhasil, ada keretakan hubungan di antara mereka. Padahal, yang terjadi adalah sebaliknya. Justru hubungan antara dia dan ketiga khalifah pendahulunya itu berlangsung sangat harmonis. Juga dengan sahabat-sahabat besar lainnya.

Pada masa kekuasaan Abu Bakr, Ali menjadi semacam penghulu dan fakih ternama yang senantiasa mendampingi sang khalifah. Dan Abu Bakr selalu minta fatwa kepadanya bila terjadi yang membutuhkan keputusan hukum. Kelak, ketika ia menjadi khalifah, diangkatnya anak Abu Bakr, Muhammad, menjadi wali (gubernur) Mesir. Muhammad ibn Abu Bakr adalah seorang oposan di masa Khalifah Utsman ibn Affan yang sangat gigih menentang praktek nepotisme.

Dengan Khalifah Umar ibn Khattab persahabatan juga terjalin baik. Di masa khalifah kedua ini ia masih dipertahankan sebagai penasihat hukum (mufti). Terutama untuk persoalan-persoalan yang berkaitan dengan Alquran dan Sunnah Nabi.

Persahabatan dengan Khalifah Utsman terjaga pula dengan baik. Hubungan mereka tidak sebatas perkawanan, tapi juga persaudaraan karena perkawinan, yaitu sama-sama menantu Rasulullah.

Kita tidak hendak mengingkari kemungkinan adanya persaingan. Kita tidak pernah menemukan sebuah riwayat yang menerangkan keharmonisan hubungan Ali dengan sahabat-sahabat secara simultan. Namun tidak pernah pula kita dengar kabar tentang tidak serasinya hubungan Ali dengan mereka. Jadi, kalaupun ada sedikit kekecewaan Ali terhadap tiga khalifah pendahulu, kita menduga itu masih dalam batas yang bisa dimaklumi. Sebagai orang yang memiliki pertalian darah paling dekat, wajar saja Ali menganggap dirinya berhak menjadi pengganti Rasulullah.

Ibarat Lautan Ilmu

Ali adalah seorang sahabat yang dikenal keluasan ilmunya. Hal ini seperti diakui oleh Rasulullah dalam riwayat al-Bazzar dan Thabrani dalam kitab Al-Ausath. Anna madinatul ‘ilmi wa Ali babuha (Aku adalah kota ilmu dan Ali pintunya).” Sebuah hadis yang sangat populer di kalangan pesantren.

Tidak hanya luas ilmunya, ia juga dikenal tajam dalam argumentasi. Ia, karena itu, sering dijadikan referensi oleh sahabat-sahabat lain ketika memiliki persoalan yang cukup pelik.

Ali juga bisa dikatakan sebagai wadhi’ (peletak dasar) segala ilmu. Dalam bidang ilmu kalam (teologi), misalnya. Hampir semua aliran bisa dilacak sampai kepada Ali. Menurut Ibnu Abil Hadid dalam Nahjul Balaghah, pendiri aliran Mu’tazilah, Washil ibn Atha’, adalah murid Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin al-Hunafiyah. Abu Hasyim sendiri adalah murid Al-Juba’i, seorang tokoh Mu’tazilah, sebelum mendirikan aliran teologi sendiri. Ia sering merujuk kepada tokoh-tokoh seperti Abul Hasan, Ali ibn Abil, Hasan dan Ali ibn Abi Bisyri Al-Asy’ari. Yang terakhir ini adalah murid Al-Jubba’i tadi.

Dalam bidang ilmu fikih, Abu Hanifah belajar kepada Ja’far ibn Muhammad. Ja’far sendiri belajar kepada ayahnya, sampai kepada Ali. Malik ibn  Anas, pendiri mazhab Maliki, belajar kepada Rabi’ah Ar-Ra’i dari Ikrimah. Ikrimah sendiri pernah belajar kepada Abdullah ibn Abbas yang secara langsung belajar kepada Ali ibn Abi Thalib. Alhasil, kepakaran Ali di bidang ilmu fikih, dalam pengertian fatwa keagamaan, sangat termasyhur. Ia pun terbilang berani dalam melakukan ijtihad.

Ali juga sangat ahli dalam bidang hisab (ilmu hitung). Hal ini terbukti dengan kemampuannya menyelesaikan persoalan-persoalan hitungan warisan yang rumit. Seorang perempuan pernah datang kepadanya untuk melaporkan bahwa saudaranya wafat dan meninggalkan harta warisan (tirkah) 600 dirham. Tapi perempuan itu diberi hanya 1 dirham. Mendengar hal itu lalu Ali memberikan fatwa bahwa mungkin saudaranya yang meninggal tadi meninggalkan seorang istri, dua orang putri, seorang ibu, dua belas saudara laki-laki serta perempuan itu sendiri.

Di waktu lain, saat berdiri di atas mimbar, ia ditanya tentang bagian istri yang ditinggal mati bersama dua orang tua dan dua anak perempuan si mayit. Secara cepat Ali menjawab sepersembilan bagian. Sebenarnya bagian asal istri adalah seperdelapan. Sedangkan dua orangtua masing-masing seperenam dan dua anak perempuan dua pertiga. Melihat bagian-bagian itu, seharusnya sang istri tidak mendapatkan warisan karena semuanya sudah dihabiskan oleh dua orang tua dan dia anak perempuan. Padahal, hak waris seorang istri tidak bisa terhalang (mahjub) atau terhapus oleh keberadaan anggota keluarga mana pun. Karena itu, Ali dalam fatwanya yang kilat itu menentukan untuk mengurangi bagian masing-masing secara proposional sehingga bagian istri menjadi sepesembilan. Fatwa inilah yang kemudian dikenal dengan istilah faraid al-minbariyah, karena disampaikan di atas mimbar (Abbas Mahmud Aqqad h. 155).

Suatu hari Abu Aswad Ad-Duali datang kepada Ali, sebagai amirul mukminin, yang ia lihat sedang berpikir. “Wahai Amirul Mukminin, apa yang sedang Paduka pikirkan?” Ali menjawab, “Aku mendengar di negaramu sedang terjadi kecadelan (lahn) orang berbahasa Arab, maka aku ingin menulis kitab tentang prinsip-prinsip bahasa Arab (ushulul arabiyah)”. Menanggapi hal itu, Abu Aswad berkata, “Apabila Paduka melakukan itu, maka Paduka telah menghidupkan kita dan menghidupkan bahasa kita.” Setelah itu kemudian Aswad diberi Ali lembaran kertas di tulisannya, di awali dengan “bismillahirrahmanirrahim”, dan diteruskan dengan uraian “Kalimat itu adakalanya isim (kata benda), fi’il (kata kerja), dan hurf (kata depan dan lain-lain)” (As-Suyuthi, h. 69).

Menurut, Adz-Dzahabi, Ali juga mempunyai andil yang cukup besar di bidang ilmu tafsir. Ia merupakan sahabat yang paling tahu tentang ashabun nuzul (latar belakang turunnya ayat Alquran) dan sangat ahli dalam bidang takwil Alquran. Ibn Abbas pernah menyatakan bahwa apa yang ia ketahui tentang tafsir Alquran semuanya ia ambil dari Ali (Muhammad Husein Adz-Dzahabi, At-Tafsir wal-Mufassirun, jilid I, h. 89-90). Bersambung

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 2 Maret 1998.     

Tentang Penulis

Dr Phil Syafiq Hasyim MA

Dr Phil Syafiq Hasyim MA

Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP), dan direktur Perpustakaan dan Kebudayaan Universitas Islam Internasional Indonesia. (UII). Pernah menjadi staf peneliti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)

Tinggalkan Komentar Anda