Bintang Zaman

Bung Karno (7): A. Dahlan Ranuwihardjo: BK Tidak Sekuler

Bung Karno seorang reformis Islam. Ketika wawasan keislaman Bung Karno belum luas, dia sudah melihat kemujudan di kalangan kaum muslimin. Bung Karno melihat umat Islam Indonesia kolot, tradisional, dan untuk itu dia kemudian memakai kata-kata pintu ijtihad atau babul ijtihad, yang harus di buka, baik dalam tulisan maupun ceramahnya. Bung Karno menambahkan bahwa dari Islam kita harus mewarisi apinya, bukan abunya. Karena itu Muhammdiyah memberi gelar mujtahid untuk Bung Karno.

Bung Karno juga melihat bahwa Islam bukan hanya agama ibadah, melainkan juga agama yang lengkap seperti yang diungkap oleh Prof H.A.R. Gibb: Islam is not only a religion. It is complete system of civilization. Dalam bahasa Bung Karno, mesjid bukan melulu tempat ibadah, melainkan juga centre of life, pusat kehidupan.

Kemudian Bung Karno, karena dia itu pejuang dan politikus, lebih suka mengorientasikan pemahaman keislamannya kepada perjuangan antimperialis. Di dalam tulisannya yang klasik berjudul Nasionalisme, Islam, dan Sosialisme. Bung Karno mengatakan, belumlah penuh keislamannya seseorang jika dia tidak sekaligus seorang nasionalis. Belum penuh keislaman seseorang jika dia tidak seorang sosialis. Belum penuh keislaman seseorang jika dia tidak menentang kolonialisme. Alasannya, kolonialisme dan imperialisme adalah sistem penghisapan, sistem kezaliman.

Tidak betul kalau Bung Karno hanya ingin menjadikan Islam sebagai alat cita-cita politiknya. Menurut cerita Anwar Tjokroaminoto, yang saya kenal baik, Bung Karno rajin mengikuti ceramah Pak Tjokro dan membaca buku-bukunya. Di rumah Pak Tjokro itu ada juga buku politik dan perjuangan mengenai Islam.

Pak Tjokro punya pandangan mengenai kapitalisme dari sudut Islam. Dia melihat ada kapitalisme yang tidak berdosa, tetapi ada kapitalisme yang berdosa, yakni kapitalisme yang menimbulkan imperialisme. Jadi sebetulnya sikap antikolonialisme Bung Karno itu pertama kali diberi motivasi oleh Tjokroaminoto, yang berangkat dari Islam. Saya sampai beberapa kali bicara dengan Bung Karno dan saya menangkap kata-katanya untuk mendorong orang-orang muda mempelajari Islam, terutama aspek perjuangannya, bukan hanya aspek ibadahnya.

Pada zaman Belanda memang ada polemik antara Bung Karno dan Natsir mengenai agama dan negara. Waktu itu kerajaan Turki di bawah Sultan Hamid II. Kerajaan ini disebut kerajaan Islam, tetapi negara itu lemah. Waktu Perang Dunia I Turki berada di pihak Jerman, lalu Turki perang melawan Yunani yang menjadi musuh bebuyutannya. Tentaranya di Eropa terpukul terus, sementara Sultan Hamid enak-enak main dengan para cucunya di Istana. Kemal Attaturk muncul. Kalau bukan karena Attaturk, wilayah Turki di Eropa hilang diduduki oleh Yunani. Jadi masalah Turki adalah hanya karena tidak ada pimpinan saja. Setelah muncul Kemal Attaturk, pasukan Yunani bisa dipukul mundur.

Pada zaman Sultan Hamid II negara dan agama menjadi satu, sedangkan Attaturk memisahkannya. Lalu Bung Karno berkesimpulan negara dan agama harus dipisahkan. Maka, berpolemiklah dia dengan Natsir. Saya sendiri tidak sependapat dengan Bung Karno sebab kesimpulannya bukan dari setelah dia mempelajari Islam, tetapi hanya melihat satu peristiwa sejarah yaitu Turki. Tapi setelah merdeka Bung Karno sudah berubah pikirannya. Dia tidak menganggap bahwa negara tidak lagi harus dipisahkan dengan agama. Namun umat Islam tidak mengikuti secara penuh sehingga masih ada yang menganggap Bung Karno berdalil agama dan negara harus terpisah.

Mengenai hubungan Bung Karno dan Masyumi serta NU, ini hanya masalah budaya. Dulu, NU itu kan basisnya Jawa. Begitu juga dengan PNI. Masyumi sendiri ada dua blok: Natsir yang berpendidikan dan berpikir Barat dan blok Sukiman, orang Jawa yang berpikirannya budaya Jawa. Kalau blok Sukiman dekat dengan Bung Karno, maka blok Natsir tidak dekat. Natsir lebih dekat dengan orang-orang PSI karena orang-orang PSI berpikirnya Barat.***

*Diolah dari laporan wawancara: M. Ridwan Pangkapi dengan A. Dahlan Ranuwihardjo, mantan ketua umum PB HMI yang dikenal dekat dengan Bung Karno dan keluarganya; Sumber: Panji Masyarakat, 17 Juni 1998    

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda