Bintang Zaman

Bung Karno (6): Takut Serong

Written by A.Suryana Sudrajat

“Saya amat cinta kepadanya,  demikian pula dia kepada saya.  Tolonglah, Saudara nikahkan kami,” kata Bung Karno kepada Menteri Agama  Saifuddin Zuhri. “Kalau saya tidak nikahi dia, saya takut sekali akibatnya. Dia bakal tidak kuat menderita, dan saya khawatir timbul akibat lebih buruk.”

Bung Karno mencapai puncak ketenarannya ketika dia berhasil merebut Irian Barat (kini Papua), melalui konfrontasi bersenjata dan diplomasi. Pada 1964 Bung Karno berkunjung ke provinsi terbesar itu menumpang kapal perang RI, didampingi antara lain oleh Panglima Angkatan Darat Mayjen Ahmad Yani dan Panglima Mandala Mayjen Soeharto. Untuk merayakan kemenangan itu,  di Jakarta Bung Karno juga mengadakan pesta kecil. Hadir pada jamuan makan siang yang berlangsung di sebuah rumah di Jl Gatot Subroto itu (tempat yang kemudian dijadikan sebuah rumah tahanan bagi Bung Karno pada akhir hayatnya, kini Museum Satria Mandala) antara lain Dr, Subandrio, Chairul Saleh, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Saifuddin Zuhri, dan seorang perempuan muda yang cantik.

Usai pesta, Saifuddin ditahan Bung Karno, sementara tamu lain dipersilakan pulang kecuali cewek tadi. Menteri Agama Saifuddin Zuhri sudah punya firasat: pasti Bung Karno akan memintanya untuk dikawinkan dengan perempuan  yang belakangan diketahuinya sebagai Ratna Sari Dewi asal Jepang. Dia pun minta bertemu empat mata dengan Bung Karno.

“Mengapa mesti nikah lagi?” tanya ayah mantan Menteri Agama Lukman Saifuddin itu.

“Saya amat cinta kepadanya,  demikian pula dia kepada saya.  Tolonglah, Saudara nikahkan kami,” Bung Karno menjawab seraya memegangi tangan Saifuddin.

“Lha sampai kapan lagi mesti begini?

“Kalau saya tidak nikahi dia, saya takut sekali akibatnya. Dia bakal tidak kuat menderita, dan saya khawatir timbul akibat lebih buruk………”

“Apakah tugas seorang Menteri Agama memang untuk menikah-nikahkan presidennya?”

Toh untuk menghindari konflik dengan presiden, Saifuddin Zuhri akhirnya memenuhi permintaan Bung Karno. Maka siang itu, disaksikan beberapa orang staf Istana, “Aku nikahkan Bung Karno dengan Ratna Sari Dewi, dengan mas kawin Rp5,” Saifuddin mengenang. Upacaranya berlangsung sederhana. Pada kesempatan itu kiai NU kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, ini menasihati Dewi (kini lebih dikenal sebagai selebriti dunia, tinggal di Paris,  dan sering muncul dalam pesta-pesta ekstravaganza) agar menjadi seorang Islam yang baik, dengan mempelajarinya setapak demi setapak. Bung Karno juga dinasihati, terutama mengenai urusan wanita.

Itu yang kedua Saifuddin mengawinkan Bung Karno. Yang pertama kejadiannya pada 1963. Waktu itu Saifuddin minta abolisi kepada Bung Karno untuk Wahib Wahab, anak Rois Aam PB NU KH.A Wahab Chasbullah. Tujuannya untuk melepaskan derita batin Kiai Wahab yang gelisah setelah  membaca surat kabar bahawa anaknya itu, setelah divonis oleh pengadilan dengan membayar denda sekarang dikenakan tuduhan baru oleh jaksa. Bung Karno memenuhi permintaan itu. Hanya ada buntutnya.

“Tolong nikahkan saya.”

“Nikahkan? Saifuddin setengah tak percaya.

“Ya nikahkan saya dengan Haryati. Saya harus nikah dengannya. Saya tak mau berbuat serong.” Belum ada jawaban.

“Maukah?” Bung Karno terus mendesak.

“Kapan?

“Nanti, Saudara akan diberi tahu.”

Dalam perjalanan pulang. Saifuddin masih masygul. Dia teringat peristiwa pernikahan Bung Karno dengan Hartini 10 tahun lalu. Peristiwa perkawinan itu mendapat reaksi begitu dahsyat dari kaum wanita, kaum politikus, dan dari berbagai surat kabar. Namun, Bung Karno jalan terus sampai akhirnya gelombang reaksi itu surut.

Tapi lantaran Saifuddin sudah siap menolong karena dia sudah ditolong, dan berbagai pertimbangan politis lainnya, dia pun mengabulkan permintaan Bung Karno. “Maka pada suatu hari, juga pada 1963, lepas magrib, aku sebagi wali hakim menikahkan Bung Karno dengan Nona Haryati, dengan para saksi beberapa staf ajudan. Upacaranya sangat sederhana, mengambil tempat di salah satu paviliun Istana Merdeka. Aku mempergunakan kesempatan untuk memberi nasihat kepada Bung Karno sebagai seorang suami tentang kewajibanya melindungi dan memuliakan martabat kaum wanita,” tulis Saifuddin Zuhri (wafat 25 Febuari 1986) dalam otobiografinya, Barangkat dari Pesantren.

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 17 Juni 1998.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda