Bintang Zaman

Bung Karno (5): Menuju Islam Berkemajuan

Written by A.Suryana Sudrajat

Kata Bung Karno, para khalifah yang besar hendaknya dijadikan teladan: mereka telah menyutat apinya saja dari sumber yang sama. Namun apa yang kita cutat dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul? “Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan flame-nya, tetapi abunya.

Kemajuan Kristen

Periode Bengkulu (di sini Bung Karno bertemu jodoh dengan Fatmawati) merupakan pergumulan Bung Karno yang ketiga dengan Islam. Pertama, ketika dia dijebloskan ke penjara Sukamiskin, Bandung. Di sini  Bung Karno mengisi hari-harinya dengan bacaan Islam. Konon setelah itu ia banyak menggunakan kata “Insya Allah” dalam pidato. Tapi penjara ini boleh dikatakan kelanjutan perkenalannya dengan Islam. Sebelum kuliah di Bandung, ketika menjadi pelajar sekolah lanjutan, Sukarno mondok di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, bahkan akrab dengan salah seorang putri pemimpin Sarekat Islam itu. Hanya saja Bernard Dahm, dalam bukunya Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan (LP3ES, 1987), menganggap Sukarno waktu itu bukan “penganut” Islam. Pengetahuannya tentang Islam ia dapatkan dengan maksud agar bisa ikut dalam perdebatan, dan umumnya didasarkan pada buku Lothrop Stoddard, The New World of Islam — yang new world-nya lebih menarik perhatiannya daripada Islam-nya.

Toh, menurut Dahm, perasaan dasar keagamaan dalam diri Sukarno waktu itu tidak bisa diabaikan. Sebagai insinyur, pada waktu senggangnya ia merancang pembangunan sebuah masjid besar. Sebagai muslim, walaupun, seperti PNI, bersikap netral, Sukarno pernah memberi peringatan terhadap kemajuan misi Kristen di Indonesia.

Namun minatnya yang besar kepada Islam berkembang setelah dia dibuang ke Endeh. Ini setidak-tidaknya, bisa kita baca dalam korespondensinya dengan Ustadz A. Hassan, guru di kalanagan orang-orang  Persis (Persatuan Islam) di Bandung yang kemudian menulis Tafsir Al-Furqan itu. Ia membaca berbagai buku tentang Islam dan mengagumi karya-karya  para tokoh Ahmadiyah seperti Muhammad Ali (pengarang tafsir The Holy Koran) atau Khwaja Kamaluddin, meski ia menyatakan tidak percaya Ghulam Ahmad sebagai nabi (kepercayaan Ahmadiyah Qadian) dan “belum” mempercayai dia sebagai mujaddid (Ahmadiyah Lahore).

Tulisan terakhirnya, 17 Oktober 1936, antara lain menyatakan perubahan jiwa yang dia alami — “dari jiwa Islamnya yang hanya raba-raba sahaja menjadi jiwa yang Islamnya yakin”, dari jiwa yang hanya “banyak falsafat ketuhanan”- nya, tetapi belum mengamalkan, menjadi jiwa yang “sehari-hari menyembah kepada-Nya”, “berkat pertolongan Allah dan pertolongan tuan dan pertolongan orang-orang lain”.  Tapi lalu dikatakannya, sekarang hatinya malahan lebih luka dan gegetun kalau melihat kejumudan dan kekunoan para guru dan kiai Islam. Keakrabannya dengan A.Hassan bisa tergambar dalam salah satu suratnya yang menyebutkan ia telah menerima kiriman jambu mede dari sang ustadz dan ia sekeluarga makan dengan senang.

Bagi Bung Karno, yang tampak kemudian, Islam is progress. Karena itu ia mengeritik tanpa ampun para ulama dan kiai yang pengetahuannya tentang sejarah umumnya nihil. Sejarah, apalagi bagiannya yang mempelajari sebab-musabab  kemajuan dan kemunduran suatu bangsa, tidak menarik perhatian mereka. Hanya masalah “agama khususi” — terutama sekali fikih. Padahal, kalau dipikirkan dalam-dalam, “Kitab fikih itulah seakan-akan ikut menjadi algojo ‘roh’ dan ‘semangat’ Islam”.

“Kenapa kita mesti kembali ke zaman kebesaran Islam yang dulu-dulu? Alangkah baiknya, dalam urusan dunia, orang Islam boleh, berkias, boleh berbid’ah, boleh membuang cara-cara dulu, boleh mengambil cara-cara baru, asal tidak nyata dihukum haram atau makruh oleh Allah dan Rasul”. Kata Bung Karno, para khalifah yang besar hendaknya dijadikan teladan: mereka telah menyutat apinya saja dari sumber yang sama. Namun apa yang kita cutat dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul? “Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan flame-nya, tetapi abunya.

Alat Pendukung

Namun, seperti diperhatikan Dahm, kesimpulannya tentang Islam (seperti “tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam”), atau  fikih , juga hadis, diperoleh tanpa melalui penelaahan saksama. Soal hadis itu, misalnya, dipertanyakan Sukarno dalam suratnya yang kedua kepada A. Hassan. Bukan hadis-hadis tertentu, melainkan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Ia belum pernah membaca keduanya. Ia hanya begitu saja menyetujui pendapat “seorang pengenal Islam bangsa Inggris” bahwa Bukhari telah memasukkan ke dalam kumpulannya “hadis-hadis yang lemah”, yang untuk sebagian besar telah menyebabkan kemunduran Islam, “kekunoan” dan “kemesuman” ajarannya. Itu, kita tambahkan, satu penilaian orientalis yang di belakang hari banyak dikritik — termasuk, yang terakhir, dalam tesis doktor M.M. Azami di Universitas Cambridge, Studies in Early Hadith Literature. Dalam surat berikutnya Sukarno memang meminta A.Hassan  mengirimkan buku hadis dalam bahasa yang bisa dimengertinya, setelah diberi tahu bahwa Shahih Bukhari dan Shahih Muslim hanya ada dalam bahasa Arab.

Pertanyaannya, untuk apa Sukarno mempelajari hadis padahal ia sudah menentukan pendapatnya? Dahm memperkirakan, seperti halnya dalam periode nasionalis ia menggunakan ucapan-ucapan “kaum nasionalis ketimuran” yang membenarkan prasangkanya yang anti-Barat, dan seperti halnya dalam periode marhaenis ia  menggunakan kepustakaan marxisme “dengan semau-maunya”, sekarang ia ingin menjadikan Islam alat untuk mendukung pendapatnya yang objektif.

Menurut Dahm, soal pembaruan Islam bagi Sukarno hanya merupakan satu sarana untuk membangkitkan rakyat dan mengorbankan semangat perjuangan mereka. Tujuannya bukan kebangkitan Islam, seperti pada Natsir, Agus Salim. Bahkan Hatta. Karena itu, campur tangannya dalam urusan Islam ditolak kaum reformis, sementara kaum tradisionalis (ortodoks), yang merupakan sasaran utama kritiknya, tidak terkena. Soalnya, otoritas itu yang tidak dipunyainya ketika ia harus bicara serius mengenai Islam. Malangnya, keadaan tidak memberinya kesempatan melanjutkan gagasan pembaruannya. Perang Dunia II pecah. Sukarno beralih perhatiannya dan pergumulannya dengan gagasan reformasi Islam selesai sudah. Adapun ghirah keagamaannya, juga kecintaannya kepada Muhammadiyah, yang ia perlihatkan pada periode Demokrasi Terpimpin, berkaitan dengan bahwa agama merupakan unsur mutlak dalam proses nation building tadi. Sama seperti nasionalisme dan komunisme. Kekuatan-kekuatan yang saling bertarung, yang akhirnya memakzulkan dia sendiri dari singgasana kekuasaan.

Dia digantikan oleh Jendral Soeharto –yang dimakzulkan mahasiswa dalam gelombang reformasi  Mei 1998. Menurut sejarawan Syafi’i Maarif, UUD 1945 merupakan salah satu penyebab utama mengapa pergantian kepemimpinan nasional berjalan tidak jelas aturannya. UUD yang disebut Bung Karno sebagai UU Revolusi itu memang tidak secara jelas menyebut pembatasan jabatan presiden. Dan, baik Sukarno maupun Soeharto memanfaatkan ketidakjelasan ini untuk kepentingan kekuasaannya.

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 17 Juni 1998

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda